Survei PwC: Tingkat Kepuasan Pemilik EV di Indonesia Meningkat

2026-01-12 11:20:50
Survei PwC: Tingkat Kepuasan Pemilik EV di Indonesia Meningkat
JAKARTA, – PwC (PricewaterhouseCoopers) merilis Electric Vehicle Readiness (eReadiness) 2025 yang menyoroti kesiapan pasar EV di enam negara ASEAN. Secara umum, pasar otomotif konvensional di kawasan melemah tipis, namun adopsi EV justru melesat.Indonesia menjadi salah satu negara yang menunjukkan performa paling menonjol, terutama dalam percepatan elektrifikasi, meski pasar kendaraan konvensional tengah tertekan.Menurut laporan tersebut, Indonesia mengalami kontraksi signifikan minus 11 persen pada penjualan kendaraan ringan akibat kenaikan pajak, pelemahan rupiah, serta daya beli yang menurun. Namun, di tengah kondisi itu, segmen kendaraan listrik justru tumbuh pesat.Baca juga: Modal Lepas L8 Siap Masuk Segmen SUV IndonesiaMG Mobil listrik MG4 EV“Di tengah kontraksi pasar otomotif Indonesia sebesar minus 11 persen pada YTD kuartal III 2025, elektrifikasi bergerak ke arah sebaliknya,” ujar Lukmanul Arsyad, PwC Indonesia Industrials and Services Leader, dalam keterangan resmi, Kamis .“Segmen EV Indonesia tumbuh 49 persen, sementara ASEAN secara keseluruhan mencatat peningkatan 62 persen,” kata dia.Indonesia juga mencatat tingkat kepuasan pemilik EV tertinggi di ASEAN, mencapai 99 persen, naik dari 93 persen tahun lalu.Baca juga: Investasi Rp 22,37 Triliun untuk Kendaraan LCEV di IndonesiaPLN SPKLU Center pertama di Jakarta kini resmi beroperasi di Rest Area KM 10 CibuburWaktu pengisian yang lebih cepat, biaya operasional yang rendah, dan peningkatan kualitas baterai menjadi faktor utama yang membuat pengguna semakin yakin menggunakan EV.Meski begitu, masih ada tantangan: 33 persen pemilik EV mempertimbangkan kembali ke mobil bensin atau diesel karena biaya perawatan yang lebih tinggi dari perkiraan serta jarak tempuh yang belum sesuai ekspektasi.Dari sisi calon pengguna, Indonesia memang memiliki porsi prospek EV paling kecil di ASEAN-6. Namun, permintaan tetap dinilai kuat dengan skor 3,7 pada indeks kesiapan PwC.Baca juga: BRIN: Riset Jerami Jadi Biofuel Masih Banyak TantanganDok BYD BYD Atto 1 menjajal jalanan Bandung-Garut. Pada 2025, tingkat kesiapan EV Indonesia meningkat signifikan dari 2,0 menjadi 2,8. Lonjakan terbesar terjadi pada aspek insentif pemerintah, yang mencatat skor 4,0—tertinggi di seluruh ASEAN-6.Kondisi ini menjadikan Indonesia salah satu negara paling agresif dalam menciptakan ekosistem EV yang kompetitif.Meski demikian, Indonesia masih tertinggal pada infrastruktur pengisian daya dengan skor 1,4, jauh di bawah Singapura yang mencapai 4,3.Baca juga: Polytron Fox 350 Dapat Subsidi Rp 7 Juta, Berlaku Sampai Kapan?/DIO DANANJAYA Chery Tiggo 9 CSHPasokan kendaraan listrik juga masih perlu diperkuat karena berada di level 2,3 atau lebih rendah daripada Vietnam.“Indonesia memiliki peluang besar untuk menarik investasi dan mempercepat transisi EV. Namun, keberhasilan akan bergantung pada penutupan kesenjangan infrastruktur serta penguatan rantai pasok,” kata Lukmanul.Dengan insentif paling progresif di kawasan, tingkat kepuasan pengguna yang sangat tinggi, dan pertumbuhan pasar EV yang kuat, Indonesia berada pada jalur yang tepat untuk menjadi salah satu pusat elektrifikasi terpenting di ASEAN.Namun, percepatan pembangunan SPKLU serta peningkatan kapasitas pasokan lokal akan menjadi kunci untuk menjaga momentum dan meningkatkan daya saing Indonesia di tengah persaingan regional yang semakin dinamis.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Dampak kecelakaan tersebut dinilai sangat fatal. Sebanyak 16 penumpang dinyatakan meninggal dunia. Rinciannya, 15 korban tewas di lokasi kejadian, sementara satu korban lainnya meninggal dunia saat menjalani perawatan medis di RSUD dr. Adhyatma MPH (Tugurejo), Kota Semarang.Selain korban meninggal, sebanyak 17 penumpang lainnya mengalami luka-luka. Dari jumlah tersebut, sembilan korban harus menjalani perawatan intensif di RSUD dr. Adhyatma MPH (Tugurejo), Kota Semarang.Fakta lain yang terungkap dalam penyelidikan awal adalah latar belakang pengemudi bus. Sopir PO Cahaya Trans tersebut diketahui masih tergolong baru mengemudikan rute Bogor–Yogyakarta.Pengemudi baru dua kali melakukan perjalanan pulang-pergi pada rute tersebut dan kini telah diamankan pihak kepolisian untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Dalam peristiwa kecelakaan maut di Tol Kota Semarang ini, pengemudi dilaporkan hanya mengalami luka ringan.Baca juga: Kecelakaan Bus di Tol Krapyak Semarang, Polisi Dalami Dugaan Sopir Minim Jam TerbangDok. SAR Semarang Kecelakaan maut terjadi di ruas simpang susun Exit Tol Krapyak Kota Semarang, Jawa Tengah terjadi pada Senin pukul 00.30 WIB dini hari. Salah satu korban selamat adalah kernet bus, Robi Sugianto (51), warga Bumiayu, Kabupaten Brebes.Robi mengalami patah tulang pada kaki kanan serta luka di bagian kepala. Berdasarkan keterangan yang dihimpun, kernet berada di bagian depan bus dan menyadari kendaraan tiba-tiba miring ke kanan sebelum akhirnya terguling dan menghantam pembatas jalan tol.Polda Jawa Tengah memastikan seluruh korban kecelakaan bus PO Cahaya Trans mendapatkan penanganan medis secara maksimal dan profesional.Hingga saat ini, penyebab pasti kecelakaan tunggal di Simpang Susun Krapyak tersebut masih dalam proses penyelidikan dengan melibatkan berbagai unsur, mulai dari pemeriksaan kondisi kendaraan, kontur dan kondisi jalan, hingga faktor pengemudi.Artikel ini telah tayang di TribunJateng.com dengan judul Penampakan Bus Maut Kecelakaan di Tol Krapyak Semarang Akibatkan 16 Orang Meninggal

| 2026-01-12 10:13