JAKARTA, – Suara Dyah Erafatih (73) terdengar lantang ketika ia ikut bernyanyi di tengah keramaian aula Panti Werdha Wisma Mulia dalam momen perayaan Hari Ibu.Nada suaranya penuh semangat, seolah usia tak menjadi batas untuk menikmati momen kebersamaan. Di balik senyum hangatnya, Dyah menyimpan perjalanan hidup panjang yang melintasi daerah, negara, hingga peran yang beragam.Sudah dua tahun terakhir Dyah menetap di Panti Werdha Wisma Mulia, Jakarta Barat. Perempuan asal Pamekasan, Madura, ini bukan sosok yang asing dengan kehidupan merantau. Jauh sebelum tinggal di panti, ia telah menjalani hidup yang dinamis, berpindah tempat, bekerja, belajar, dan mengajar.Baca juga: Mengenal Depresi pada Lansia, dari Tanda hingga Pencegahan Menurut PakarKeputusan Dyah untuk tinggal di panti bukanlah hal yang mudah. Kehilangan pasangan hidup menjadi titik balik yang mengubah arah hidupnya./DEVI PATTRICIA Momen perayaan Jernih Berbagi Charitrip Spesial Hari Ibu di Panti Werdha Wisma Mulia, Jakarta Barat, bersama Kompas.com dan Tim Volunteer Generasi Jernih, Senin .“Saya di sini sejak dua tahun lalu, sekamar ada 2 orang sekarang, tadinya bertiga. Semenjak suami saya meninggal tahun 2018, saya enggak tahan sendirian,” kata Dyah dalam acara Jernih Berbagi Charitrip Spesial Hari Ibu, di Panti Werdha Wisma Mulia, Senin .Kesendirian setelah kepergian sang suami membuat Dyah mencari ruang baru untuk bertahan. Di Panti Werdha Wisma Mulia, ia menemukan lingkungan dengan banyak teman sebaya, tempat berbagi cerita, tawa, dan aktivitas harian.Baca juga: 5 Tips agar Lansia Tidak Merasa Sendiri di Panti Jompo, Ini Kata PsikologMeski kini tinggal di panti, Dyah bukanlah sosok yang hidupnya hanya berkutat di satu tempat. Ia telah lama meninggalkan kampung halamannya di Madura dan menjalani kehidupan merantau.Salah satu pengalaman penting dalam hidup Dyah adalah saat ia tinggal di Jepang. Ia menyebut Asakusa sebagai salah satu lokasi yang pernah menjadi bagian dari hidupnya.“Saya pernah ke Jepang, tepatnya di Asakusa dan 2 tahun di sana, tahun 2018 sampai 2020. Saya kerja sambil sekolah di sana,” ujarnya.Dua tahun di Jepang menjadi masa yang penuh tantangan sekaligus pembelajaran. Bekerja sambil sekolah di negeri orang menuntut kedisiplinan dan keberanian, sesuatu yang membentuk Dyah menjadi pribadi yang tangguh.Baca juga: 5 Cara Siapkan Mental Sebelum Tinggal di Panti Jompo Menurut PsikologPengalaman Dyah tidak berhenti di Jepang. Jauh sebelum mengunjungi Jepang, ia sempat menekuni profesi sebagai guru bahasa Jepang di Jakarta.
(prf/ega)
Kisah Dyah Erafatih, Lansia di Panti Werdha Mantan Guru Bahasa Jepang
2026-01-12 05:52:51
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 18:27
| 2026-01-12 17:55
| 2026-01-12 17:09
| 2026-01-12 16:43
| 2026-01-12 16:27










































