9 Warga Brebes Korban Perbudakan Modern di Halmahera Tengah Pulang, Kerja 12 Jam Gaji Minus

2026-01-12 17:08:21
9 Warga Brebes Korban Perbudakan Modern di Halmahera Tengah Pulang, Kerja 12 Jam Gaji Minus
BREBES, - Sembilan pekerja asal Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, yang telantar di Kota Ternate, Maluku Utara, akhirnya kembali ke kampung halaman, Kamis .Sebelumnya, mereka kabur dari Halmahera Tengah karena tak kuat bekerja 12 jam dengan potongan gaji yang membuat pendapatan mereka minus. Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) menyebut mereka adalah korban perbudakan modern.Sembilan pekerja itu adalah Herman (warga Desa Cikakak, Kecamatan Banjarharjo), Ahmad Rodin, Aji Sugondo, Ilham Sutrisno, Ihya Ulumudin, Sugyo (warga Pakijangan, Bulakamba), kemudian Abdul Wirto, Hendra Setiawan ( warga Bangsri, Bulakamba), dan M Dandi (warga Cipelem, Bulakamba).Aji Sugondo bercerita, awalnya ia bersama delapan rekan lainnya dijanjikan pekerjaan ringan dengan durasi kerja 4,5 jam per hari dan upah harian bersih Rp160 ribu di Halmahera Tengah. Baca juga: Komnas HAM Luncurkan Standar agar Pekerjaan Tak Jadi PerbudakanPada 3 Oktober 2025, mereka berangkat menuju Surabaya, lalu melanjutkan perjalanan menggunakan kapal hingga tiba pada 8 Oktober malam.Namun, setiba di Halmahera Tengah, kondisi yang mereka temui jauh dari kesepakatan awal.“Kami kerja sampai 12 jam. Biaya keberangkatan kami tanggung sendiri sampai jutaan rupiah, dan mes dikenai Rp 50 ribu per hari,” kata Aji.Aji menuturkan, mereka harus membayar transportasi hingga ke Surabaya, sementara perjalanan menuju Halmahera dijanjikan akan difasilitasi perusahaan.Namun, sejak hari pertama bekerja, tidak ada satu pun klaim perusahaan yang terbukti.Baca juga: DPR Dianggap Langgengkan Perbudakan Modern Jika Tak Sahkan RUU Perlindungan PRTBahkan, hasil kerja mereka dipotong oleh mandor untuk biaya mes, selimut, hingga biaya perjalanan.Kondisi ini justru membuat sebagian buruh memiliki “utang”.“Saya malah minus Rp580 ribu. Teman saya ada yang minus sampai Rp 1–2 juta karena sakit dan hanya tidur. Orang yang tidak kerja tetap dihitung biaya mess oleh mandor,” ucap Aji.Aji menyebut, lantaran tak kuat dengan kondisi kerja dan tekanan biaya, ia bersama dengan warga Brebes lainnya nekat kabur ke Kota Ternate.Namun, pelarian itu membawa mereka pada situasi yang tidak kalah berat. Mereka harus tidur di emperan toko dan makan seadanya.“Beli makanan mahal, Rp30 ribu. Jadi beli satu untuk dua orang. Untuk bisa makan, ada yang minta kiriman uang dari keluarga,” ujar Aji.Baca juga: 8 Pekerja asal Brebes Telantar di Ternate, Dijanjikan Gaji Besar Ternyata Banyak Potongan


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Secara medis, luka dapat dibedakan berdasarkan seberapa dalam jaringan tubuh yang rusak.Luka superfisial adalah jenis luka yang hanya mengenai sebagian lapisan kulit, seperti goresan atau lecet. Luka jenis ini biasanya tidak terlalu dalam dan dapat sembuh dalam waktu cepat.“Luka superfisial itu yang terputus kontinuitasnya hanya sebagian lapisan kulit,” kata dr. Heri.Berbeda dengan luka superfisial, luka dalam biasanya menembus lapisan kulit hingga mengenai jaringan otot, bahkan tulang. Kondisi ini dapat menyebabkan perdarahan dan risiko infeksi yang lebih tinggi.Umumnya, luka dalam memerlukan penanganan medis segera karena proses penyembuhannya lebih kompleks dibanding luka ringan.“Kalau dia luka dalam, itu tembus dari kulit bisa sampai ke otot. Bahkan kalau traumanya berat, bisa sampai ke tulang,” lanjut dr. Heri.Baca juga: SHUTTERSTOCK/NONGASIMO Beda jenis luka, beda penyebab dan cara penyembuhannya. Memahami jenis luka penting agar penanganannya tepat, simak penjelasan dokter.Selain dari kedalamannya, luka juga dapat dikategorikan berdasarkan waktu penyembuhannya menjadi luka akut dan kronis.Menurut dr. Heri, luka akut adalah luka yang sembuh melalui proses alami tubuh dan biasanya pulih dalam waktu beberapa minggu.“Luka juga bisa diklasifikasikan menurut waktu sembuhnya, itu menjadi luka yang akut dan luka yang kronis,” ucap dr. Heri.“Luka yang akut itu adalah luka yang sembuh dengan proses alamiah, yang seharusnya dia bisa sembuh sekitar empat sampai delapan minggu,” tambahnya.Ketika penyembuhan tidak berjalan semestinya, kategori luka bisa berubah menjadi luka kronis, artinya luka yang mengalami proses sembuh lebih lama.“Kalau proses sembuhnya mengalami gangguan, dia akan menjadi suatu luka yang kronis, yang bisa sampai berminggu-minggu, berbulan-bulan, sampai bertahun-tahun,” ujar dr. Heri.Faktor yang bisa menyebabkan luka menjadi kronis antara lain infeksi, kekebalan tubuh, hingga penyakit penyerta seperti diabetes.

| 2026-01-12 16:04