Kerajaan Mataram Kuno: Sejarah Dinasti Medang dari Jawa Tengah ke Jawa Timur

2026-01-15 02:35:13
Kerajaan Mataram Kuno: Sejarah Dinasti Medang dari Jawa Tengah ke Jawa Timur
- Kerajaan Mataram Kuno, yang juga disebut Kerajaan Medang, merupakan kerajaan Hindu yang berdiri di Jawa Tengah pada abad ke-8 dan kemudian berpindah ke Jawa Timur pada abad ke-10 Masehi.Simak penjelasan berikut untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai Kerajaan Mataram Kuno!Baca juga: Sejarah Perpecahan Mataram Kuno hingga Penyatuannya KembaliKerajaan Mataram Kuno, juga dikenal sebagai Kerajaan Medang, merupakan kerajaan Hindu-Buddha yang didirikan di Jawa Tengah pada abad ke-8. Pada abad ke-10, kerajaan ini memindahkan pusat pemerintahannya ke Jawa Timur.Kerajaan Medang merupakan kelanjutan dari Wangsa Sanjaya di Jawa Tengah, kemudian pusat kerajaan dipindahkan ke Jawa Timur. Pendiri pemerintahan baru ini adalah Mpu Sindok, pendiri Wangsa Isyana, yang menurunkan raja-raja Medang.Alasan Mpu Sindok memindahkan pusat Kerajaan Mataram pada tahun 929 dari Jawa Tengah ke Jawa Timur diduga akibat letusan Gunung Merapi.Lokasi baru tersebut berada di Watugaluh, di tepi Sungai Brantas, yang kini berada di wilayah Kabupaten Jombang.Istilah Kerajaan Medang lebih lazim digunakan untuk menyebut periode Jawa Timur. Namun berdasarkan prasasti-prasasti, nama Medang sebenarnya sudah dikenal sejak periode Jawa Tengah.Untuk membedakan dengan Kerajaan Mataram Islam abad ke-16, Kerajaan Medang periode Jawa Tengah disebut sebagai Kerajaan Mataram Kuno atau Kerajaan Mataram Hindu.Terdapat pula sumber sejarah yang menyebut pemindahan pusat kerajaan ke timur berkaitan dengan konflik antara Rakai Pikatan dan Balaputeradewa, yang kemudian memicu permusuhan panjang antara Kerajaan Jawa (Mataram Hindu) dan Sriwijaya.Sekitar tahun 929 M, Mpu Sindok memimpin perang gerilya di Desa Candirejo, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk. Perang ini terjadi antara pasukan Mpu Sindok dan bala tentara Sriwijaya. Kemenangan Mpu Sindok membuatnya dinobatkan sebagai raja bergelar Sri Maharaja Mpu Sindok Sri Isyana Wikrama Dharma Tungga Dewa.Pada tahun 1016, Sriwijaya melakukan serangan balasan ke istana Watugaluh, dan Raja Dharmawangsa terbunuh. Serangan ini menandai runtuhnya Kerajaan Mataram (Medang).Baca juga: Mataram Kuno dan Sriwijaya: Pusat Perdagangan Masa Lalu NusantaraWikipedia/Midori Kompleks Candi DiengKerajaan Medang berakhir setelah tewasnya raja terakhir, Dharmawangsa Teguh. Kerajaan ini meninggalkan banyak candi bercorak Hindu maupun Buddha di Jawa Tengah dan Jawa Timur.Candi peninggalan Kerajaan Mataram Kuno:Prasasti peninggalan Kerajaan Mataram Kuno:Baca juga: Masa Kejayaan Kerajaan Mataram KunoKerajaan Mataram Kuno berada dekat Sungai Bengawan Solo dan Sungai Brantas (periode Jawa Timur), yang menjadi jalur perdagangan sungai sekaligus pusat kegiatan ekonomi masyarakat.Sebagai kerajaan agraris, masyarakat Mataram Kuno banyak bergantung pada sektor pertanian. Wilayah yang subur serta adanya banyak sungai memungkinkan produksi komoditas pertanian melimpah, sehingga mendukung pertumbuhan ekonomi kerajaan.Kerajaan ini pernah diperintah oleh tiga dinasti berbeda dengan corak agama yang juga berbeda. Meski demikian, kerajaan mampu bertahan hingga tiga abad lamanya berkat kepemimpinan raja-raja yang arif dan bijaksana.Baca juga: 6 Peristiwa Penting Kerajaan Mataram KunoReferensi: 


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#5

Pada hari penerapan, ganjil genap berlaku dalam dua sesi, yakni pagi pukul 06.00–10.00 WIB dan sore pukul 16.00–21.00 WIB. Pengendara yang melintas di akses tol yang terhubung langsung dengan jalan ganjil genap tetap wajib menyesuaikan pelat nomor kendaraan.Baca juga: Wisatawan Menuju Gunungkidul Diimbau Gunakan Jalur AlternatifAdapun 28 akses gerbang tol di Jakarta yang terkena ganjil genap pada pekan ini sebagai berikut:1. Jalan Anggrek Neli Murni sampai akses masuk Tol Jakarta-Tangerang2. Off ramp Tol Slipi/Palmerah/Tanah Abang sampai Jalan Brigjen Katamso3. Jalan Brigjen Katamso sampai Gerbang Tol Slipi 24. Off ramp Tol Tomang/Grogol sampai Jalan Kemanggisan Utama5. Simpang Jalan Palmerah Utara-Jalan KS Tubun sampai Gerbang Tol Slipi 16. Jalan Pejompongan Raya sampai Gerbang Tol Pejompongan7. Off ramp Tol Slipi/Palmerah/Tanah Abang sampai akses masuk Jalan Tentara Pelajar8. Off ramp Tol Benhil/Senayan/Kebayoran sampai akses masuk Jalan Gerbang Pemuda9. Off ramp Tol Kuningan/Mampang/Menteng sampai simpang Kuningan10. Jalan Taman Patra sampai Gerbang Tol Kuningan 211. Off ramp Tol Tebet/Manggarai/Pasar Minggu sampai simpang Pancoran12. Simpang Pancoran sampai Gerbang Tol Tebet13. Jalan Tebet Barat Dalam Raya sampai Gerbang Tol Tebet 214. Off ramp Tol Tebet/Manggarai/Pasar Minggu sampai Jalan Pancoran Timur II15. Off ramp Tol Cawang/Halim/Kampung Melayu sampai simpang Jalan Otto Iskandardinata-Jalan Dewi Sartika16. Simpang Jalan Dewi Sartika-Jalan Otto Iskandardinata sampai Gerbang Tol Cawang17. Off ramp Tol Halim/Kalimalang sampai Jalan Inspeksi Saluran Kalimalang18. Jalan Cipinang Cempedak IV sampai Gerbang Tol Kebon Nanas19. Jalan Bekasi Timur Raya sampai Gerbang Tol Pedati20. Off ramp Tol Pisangan/Jatinegara sampai Jalan Bekasi Barat21. Off ramp Tol Jatinegara/Klender/Buaran sampai Jalan Bekasi Timur Raya22. Jalan Bekasi Barat sampai Gerbang Tol Jatinegara23. Simpang Jalan Rawamangun Muka Raya-Jalan Utan Kayu Raya sampai Gerbang Tol Rawamangun24. Off ramp Tol Rawamangun/Salemba/Pulogadung sampai simpang Jalan Utan Kayu Raya-Jalan Rawamangun Muka Raya25. Off ramp Tol Rawamangun/Salemba/Pulogadung sampai simpang Jalan H Ten Raya-Jalan Rawasari Selatan26. Simpang Jalan Rawasari Selatan-Jalan H Ten Raya sampai Gerbang Tol Pulomas27. Off ramp Tol Cempaka Putih/Senen/Pulogadung sampai simpang Jalan Letjend Suprapto-Jalan Perintis Kemerdekaan28. Simpang Jalan Pulomas sampai Gerbang Tol Cempaka Putih

| 2026-01-15 00:20