Dari Sisa Kain Jadi Karya, Kreativitas Ibu-ibu Kampung Perca Lahirkan 40 Produk

2026-01-12 15:49:56
Dari Sisa Kain Jadi Karya, Kreativitas Ibu-ibu Kampung Perca Lahirkan 40 Produk
BOGOR, - Di sebuah sudut RW 01 Kelurahan Sindang Sari, Bogor, deru mesin jahit bercampur tawa para perajin menjadi ritme yang menandai hidupnya ekonomi kreatif berbasis limbah tekstil.Kampung Perca, yang lahir di masa pandemi Covid-19, tumbuh menjadi ruang kreatif yang memproduksi puluhan ragam kerajinan dari sisa-sisa kain garmen.Di ruangan yang tak begitu luas, potongan kain kecil yang dulu dianggap tak berharga kini disortir, dijahit, disusun, dan dirangkai menjadi benda-benda utilitas dan dekorasi yang diminati warga.Baca juga: Saat Limbah Menjadi Berkah: Kisah Ibu-ibu Kampung Perca Bogor Bangkit dari PandemiPara ibu rumah tangga yang awalnya hanya mengikuti pelatihan menjahit, kini sudah terbiasa memproduksi pesanan dalam jumlah besar.Dari sekadar memproduksi masker kain di masa pandemi, geliat usaha Kampung Perca kini tumbuh jauh lebih besar.Sumber bahan bakunya pun semakin beragam. Tidak lagi hanya mengandalkan perca dari satu konveksi, mereka kini menerima kiriman limbah tekstil dari pabrik garmen, penjahit rumahan, hingga butik-butik di kawasan Pajajaran, Bogor.Saat ini, lebih dari 40 jenis produk lahir dari tangan para ibu perajin.Ragamnya luas, gantungan kunci, tempat tisu, notebook, dompet, pouch, sampai produk fesyen seperti pangsi."Salah satunya ya, ada notebook, tempat tisu besar, tempat tisu kecil, bantal duduk, bantal kursi, terus ada tas juga, ada syal, sama pangsi," jelas Kartika Dwi, salah satu pengurus Kampung Perca saat ditemui, Senin .Baca juga: Kronologi Penipuan WO Ayu Puspita, Korbannya di Mana-manaHarganya bervariasi sesuai tingkat kerumitan, ukuran, dan jenis produk yang dibuat./HAFIZH WAHYU DARMAWAN Baju Pangsi, salah satu produk kerajinan Kampung Perca Beberapa barang kecil dijual dengan harga terjangkau, sementara produk fesyen dan dekorasi rumah yang memerlukan proses lebih panjang dipasarkan dengan harga lebih tinggi."Kita dari harga, seperti tempat jarum itu, harga Rp. 10.000, sampai ke fesyen itu tergantung size juga, ada yang Rp. 250.000," kata dia.Sekitar 30 ibu terlibat dalam proses produksi, masing-masing dengan keahlian yang berbeda.Ada yang menekuni pembuatan pakaian, sementara yang lain mengerjakan kerajinan seperti keset atau cempal ayam.Sebagian ibu bekerja dari rumah dan difasilitasi dengan mesin jahit pinjaman agar produksi tetap berjalan lancar.Sebelum puluhan produk muncul, perjalanan Kampung Perca dimulai dari masa ketika masyarakat membutuhkan barang praktis dan higienis saat pandemi. Kebutuhan itu kemudian menjadi peluang.Produksi pertama yang lahir dari tangan para ibu adalah masker kain cuci pakai./HAFIZH WAHYU DARMAWAN Nina (55) salah seorang pengrajin terlihat tengah menjahit bahan, Senin .Potongan kain sisa yang semula tidak dilirik, justru menjadi penyelamat di tengah kelangkaan masker medis."Awal produksi masker itu, karena waktu itu langka kan," kata Kartika.Baca juga: Pemilik WO Ayu Puspita Bakal Jual Rumah Baru Dibeli Buat Bayar Ganti Rugi Korban


(prf/ega)