Beras Catat Deflasi Terdalam Sejak Juni 2024, BPS Ungkap Penyebabnya

2026-02-03 08:24:50
Beras Catat Deflasi Terdalam Sejak Juni 2024, BPS Ungkap Penyebabnya
JAKARTA, - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa komoditas beras kembali mengalami deflasi pada November 2025. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menyebut deflasi beras bulan lalu mencapai 0,59 persen dengan andil deflasi 0,02 persen.BPS mengidentifikasi beberapa faktor utama yang mendorong turunnya harga beras. Pertama, meningkatnya pasokan akibat musim panen di sejumlah wilayah. Selain itu, terjadi penyesuaian harga pada beberapa kualitas beras. Faktor berikutnya adalah dampak dari penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang semakin intensif ke pasar-pasar.“Secara historis, komoditas beras memang cenderung mencatat deflasi pada November dan kembali inflasi pada Desember,” ujarnya dalam konferensi pers Rilis Berita Resmi Statistik di Jakarta pada Senin .Baca juga: BPS: Inflasi November Stabil, Papua Tertinggi, Aceh Deflasi“Beras mengalami inflasi pada November 2022 dan 2023, kemudian berbalik deflasi pada November 2024 dan 2025. Deflasi tahun ini bahkan lebih dalam dibandingkan bulan sebelumnya,” jelasnya.Menurut Pudji, penurunan harga beras terjadi di 28 provinsi, sementara delapan provinsi mencatat inflasi dan dua provinsi lainnya stabil. Secara historis, pola harga beras pada November menunjukkan perubahan signifikan dalam dua tahun terakhir.Ia menjelaskan bahwa beras telah mencatat deflasi secara bulanan dalam tiga bulan terakhir. Deflasi 0,59 persen pada November 2025 menjadi yang terdalam sejak Juni 2024.Meski demikian, ia menegaskan bahwa perkembangan harga Desember 2025 baru akan dipastikan pada rilis resmi awal tahun depan.Pada awal 2025, deflasi beras sudah berlangsung empat kali. Sebelumnya terjadi pada April. Saat itu deflasi beras mencapai 0,06 persen yoy. Kemudian pada September 2025 deflasi beras sebesar 0,01 persenmtm dan pada Oktober deflasi 0,27 persen mtm.Baca juga: Deflasi Beras Tekan Inflasi Oktober 2025, Mentan Amran: Bukti Sinergi Lintas Sektor


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Sekretariat Satgas PASTI, Hudiyanto, mengatakan sejak IASC beroperasi pada 22 November 2024 hingga 11 November 2025, lembaga itu telah menerima 343.402 laporan penipuan. Laporan tersebut menunjuk 563.558 rekening yang terkait aktivitas penipuan, di mana 106.222 rekening telah diblokir.Dari keseluruhan laporan, total kerugian yang dilaporkan korban mencapai Rp 7,8 triliun, sementara upaya pemblokiran dana berhasil menahan Rp 386,5 miliar.“Sejak awal beroperasi di tanggal 22 November 2024 sampai dengan 11 November 2025, IASC telah menerima 343.402 laporan penipuan. Total rekening terkait penipuan yang dilaporkan ke IASC sebanyak 563.558 rekening dengan 106.222 rekening telah dilakukan pemblokiran,” ujar Hudiyanto lewat keterangan pers, Sabtu .Baca juga: Penipuan AI Deepfake Kian Marak, Keamanan Identitas Digital Diuji“Adapun total kerugian dana yang dilaporkan oleh korban penipuan sebesar Rp 7,8 triliun dengan dana yang telah berhasil diblokir sebesar Rp 386,5 miliar,” paparnya. Menurut Hudiyanto, angka-angka itu memperlihatkan sejauh mana pelaku memanfaatkan platform digital untuk menjerat korban, mulai dari pinjaman online alias pinjol ilegal hingga tawaran investasi palsu, sehinggga penindakan masif diperlukan untuk melindungi konsumen.Sebagai bagian dari penindakan, Satgas PASTI kembali memblokir 776 aktivitas dan entitas keuangan ilegal, yang terdiri atas 611 entitas pinjaman online ilegal, 96 penawaran pinjaman pribadi (pinpri), dan 69 tawaran investasi ilegal.

| 2026-02-03 10:10