Kepala BNPT: Terorisme Indonesia Masuk Situasi Waspada Terkendali

2026-02-01 22:38:21
Kepala BNPT: Terorisme Indonesia Masuk Situasi Waspada Terkendali
JAKARTA, - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komjen Pol (Purn) Eddy Hartono, mengungkapkan, kondisi perkembangan terorisme di Indonesia memasuki situasi waspada terkendali.Purnawirawan Polri bintang tiga itu menyampaikan hal ini dalam kegiatan Pernyataan Pers Akhir Tahun Badan Nasional Penanggulangan Terorisme di Hotel Pullman Jakarta, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa . “Selama tahun 2025 kami melakukan pemantauan dan kajian terhadap perkembangan terorisme. Bahwa Indonesia saat ini bisa masuk ke dalam situasi waspada terkendali,” kata Eddy.Baca juga: Temuan BNPT 3 Tahun Terakhir: 27 Perencanaan Serangan, 230 Orang Ditangkap, dan 362 DiadiliDia menjelaskan, status waspada terkendali yang ditetapkan BNPT menggambarkan adanya indikasi pola dinamika yang mengarah pada potensi gangguan keamanan. “Ya, kita ketahui bersama bahwa baik itu jaringan terorisme, simpatisan, kelompok radikal terorisme itu melakukan tiga hal, yaitu: rekrutmen, propaganda, dan pendanaan terorisme,” kata dia.Selain itu, ia menegaskan hingga saat ini belum terdapat sasaran spesifik dalam waktu dekat.Adapun aparat penegak hukum dan aparat intelijen terus melakukan pemantauan, baik secara terbuka maupun tertutup.“Sehingga dengan indikator empat tadi itu bahwa bisa dinilai Indonesia dalam situasi yang waspada terkendali,” ucap dia.Baca juga: BNPT Tegaskan Aparat Bisa Tangkap Terduga Teroris meski Bom Belum DirakitEmpat hal tersebut dibuktikan Eddy dengan merujuk pada sejumlah indikator global.Berdasarkan Global Peace Index (GPI) 2025, Indonesia berada di peringkat ke-49 dari 163 negara.Sementara itu, dalam Global Terrorism Index (GTI) 2025, Indonesia menempati peringkat ke-30 dari 163 negara.Adapun dalam World Terrorism Index (2024), Indonesia berada di posisi ke-51.“Nah, kondisi-kondisi seperti ini alhamdulillah, ini berkat sinergi dan kolaborasi baik itu aparat intelijen maupun aparat penegak hukum,” jelas dia.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-02-01 22:15