BANDA ACEH, - Kepala Kantor Kemenag Aceh Besar, Saifuddin, mengungkapkan masih beratnya akses jalan untuk menembus wilayah tengah Aceh pasca dilanda banjir dan longsor akhir November lalu.Untuk menuju ke sana, rombongan tak hanya cukup menggunakan kendaraan, tetapi juga harus berjalan kaki naik turun menyeberangi sungai agar bisa sampai ke lokasi tujuan.Pada Minggu , Saifuddin dan rombongan Kemenag Aceh Besar mengantarkan 3 ton bantuan kemanusiaan bagi korban banjir bandang di wilayah Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah yang saat ini masih terisolisasi.Baca juga: Aceh Tamiang Butuh Ribuan Relawan untuk Bersihkan Lumpur di Fasum dan Rumah WargaBantuan yang disalurkan terdiri atas 2,2 ton beras, 3.000 butir telur ayam ras, 500 liter minyak goreng, serta sejumlah pakaian layak pakai, makanan siap saji, aneka roti kering, dan minuman kemasan.“Seperti kita tahu, wilayah tengah Aceh ini terisolasi sejak hari pertama bencana karena jalan darat semua putus, otomatis suplai logistik putus,” katanya pada Kompas.com, Senin .Kompas.com/Zuhri Noviandi Kepala Kantor Kemenag Aceh Besar, Saifuddin, saat mengantar bantuan menuju ke wilayah tengah Aceh.Saifuddin menceritakan, proses penyaluran bantuan kali ini benar-benar memberikan pelajaran dan pengalaman tersendiri baginya.Ia tidak bisa membayangkan kondisi masyarakat selama ini berjalan kaki demi mencari bantuan dan membeli sembako akibat akses jalan putus.“Ternyata perjuangan mereka benar-benar berat. Saya sedih kalau mengingatnya, apa yang kita lihat di video dan gambar-gambar di media sosial itu benar adanya,” ujar Saifuddin.Saifuddin mengatakan, awalnya rombongan berangkat dari Banda Aceh pada Jumat sore dan tiba di Kabupaten Bireuen pada malam hari.Mereka kemudian menyeberangi Jembatan Teupin Mane yang menghubungkan Bireuen-Bener Meriah.Setelah melewati jembatan tersebut, perjalanan masih lancar.Baca juga: Aceh Utara Perpanjang Masa Tanggap Darurat Banjir Selama SepekanSaifuddin dan rombongan lalu memutuskan bermalam di kawasan Blang Rakal dan keesokan harinya baru bergerak menuju Kilometer (KM) 60 Bener Meriah.Pada saat itu, sebut Saifuddin, tim harus memikul bantuan satu per satu di tiga titik, yaitu Jembatan KM 60, Tenge Besi, dan Timang Gajah, karena tidak bisa dilalui kendaraan roda empat akibat jembatan dan jalan yang putus.“Bantuan yang kami bawa sekitar 3 ton, umumnya beras ukuran 5 kg per karung. Kami bolak-balik naik turun sungai memikul beras agar bisa diantar ke mobil selanjutnya di seberang,” katanya.
(prf/ega)
Cerita Saifuddin Sulitnya Tembus Wilayah Tengah Aceh Pikul Beras: Apa yang di Medsos Itu Benar
2026-01-12 03:22:52
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 03:05
| 2026-01-12 02:29
| 2026-01-12 01:50
| 2026-01-12 01:42
| 2026-01-12 01:35










































