Hari Kesehatan Nasional 12 November: Ini Sejarahnya

2026-01-11 03:16:11
Hari Kesehatan Nasional 12 November: Ini Sejarahnya
– Kesehatan bukan hanya urusan medis, melainkan cermin peradaban bangsa. Pandangan inilah yang menjadi semangat awal lahirnya Hari Kesehatan Nasional (HKN), yang setiap tahun diperingati pada 12 November.Tahun 2025 menandai peringatan ke-61 HKN momentum yang mengingatkan bangsa Indonesia bahwa perjuangan menuju masyarakat sehat bermula bukan dari rumah sakit mewah, melainkan dari semangat gotong royong rakyat melawan penyakit dan kemiskinan.Baca juga: Hari Ayah Nasional 12 November, Sejarah dan Makna PerayaannyaSetelah proklamasi 17 Agustus 1945, pemerintah Indonesia muda menghadapi tantangan besar. Di tengah perang mempertahankan kemerdekaan, wabah penyakit merebak di mana-mana. Malaria, kolera, dan pes menjadi momok yang menewaskan ribuan jiwa setiap tahun.Kala itu, pelayanan kesehatan masih sangat terbatas. Hanya segelintir rumah sakit peninggalan kolonial yang beroperasi, kebanyakan di kota besar.Namun, di tengah keterbatasan itu, muncul gagasan besar dari tokoh kesehatan Indonesia, dr. Johannes Leimena.Sebagai Menteri Kesehatan pertama setelah kemerdekaan, Leimena memperkenalkan konsep “social medicine” atau kedokteran sosial, gagasan bahwa kesehatan harus menjadi gerakan sosial, bukan hanya urusan dokter dan rumah sakit.Menurut Leimena, kesehatan masyarakat adalah tanggung jawab moral bangsa. Ia percaya bahwa pembangunan nasional tidak akan berhasil tanpa rakyat yang sehat, kuat, dan berpendidikan.Bersama tokoh lain seperti dr. Raden Mochtar dan dr. Marzuki Mahdi, ia mulai membangun sistem pelayanan kesehatan berbasis masyarakat.Dari sinilah fondasi sistem kesehatan Indonesia mulai terbentuk. Leimena menggagas puskesmas (pusat kesehatan masyarakat) sebagai pelayanan primer di tingkat desa, konsep yang kemudian menjadi identitas unik sistem kesehatan Indonesia hingga kini.Baca juga: Hari Jomblo Sedunia 11 November, Ini Sejarahnya FREEPIK Ilustrasi olahraga. Setiap aktivitas fisik, sekecil apa pun, terbukti bermanfaat untuk kesehatan dan dapat mengurangi risiko kematian akibat terlalu lama duduk.Pada akhir 1950-an, tantangan terbesar bangsa adalah malaria. Penyakit ini menyerang jutaan orang, terutama di wilayah pedesaan.Pemerintah menilai bahwa perang melawan malaria bukan sekadar masalah medis, tetapi pertarungan untuk mempertahankan kualitas hidup rakyat.Tahun 1959, di bawah arahan Leimena, dibentuk Dinas Pembasmian Malaria yang kemudian berkembang menjadi Komando Operasi Pembasmian Malaria (KOPEM).Program ini menjadi gerakan nasional melibatkan ribuan tenaga kesehatan dan masyarakat.Strateginya meliputi penyemprotan DDT (Dichloro Diphenyl Trichloroethane) ke rumah warga, pemberian obat kina, serta pengeringan rawa tempat berkembang biaknya nyamuk Anopheles.Puncak gerakan itu terjadi pada 12 November 1959, ketika Presiden Soekarno secara simbolis menyemprotkan DDT di Kalasan, Yogyakarta.


(prf/ega)