PENEMUAN Rafflesia hasseltii di hutan Sumatera Barat pada pertengahan November 2025, seharusnya menjadi cerita keberhasilan dunia riset, konservasi dan kolaborasi internasional.Setelah 13 tahun pencarian, konservasionis lokal Septian “Deki” Andriki akhirnya menyaksikan bunga raksasa langka itu mekar — momen penuh haru yang terekam dalam video yang viral di berbagai platform media sosial.Dalam rilis resmi BRIN , temuan ini merupakan bagian dari riset kolaboratif antara BRIN, Universitas Bengkulu, dan Komunitas Peduli Puspa Langka Bengkulu dalam proyek bertajuk "The First Regional Pan-Phylogeny for Rafflesia", yang bertujuan merekonstruksi hubungan filogenetik seluruh jenis Rafflesia di Asia Tenggara.Penelitian mendapatkan dukungan dana dari the University of Oxford Botanic Garden and Arboretum dan Program RIIM Ekspedisi dari BRIN.Namun, alih-alih dirayakan sebagai kolaborasi yang setara, publikasi resmi Universitas Oxford di media sosial X , menimbulkan kontroversi: nama-nama penting dari Indonesia seperti Septian Andriki, Joko Witono (BRIN), dan Iswandi sama sekali tak disebut.Reaksi masyarakat pun keras, termasuk kritikan mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di akun X pribadinya: “our Indonesian researchers … are not NPCs. Name them too.”Baca juga: Fakta Rafflesia hasseltii: Memukau dengan Merah Marun, Diameternya Capai 70 CmPernyataan itu lebih dari sekadar sindiran; ia menyuarakan ketidakadilan epistemik yang telah lama menjadi warisan kolonial.Kasus ini menggambarkan bahwa meskipun riset lintas negara dapat terlihat romantis dan heroik—jalan melalui hutan yang dijaga harimau, mekar di malam hari, tangisan bahagia setelah penantian bertahun-tahun — akar permasalahannya jauh lebih dalam.Di balik demam “penemuan”, terdapat pola historis dan struktural: kolonialisme ilmiah yang terus berlanjut dalam cara narasi pengetahuan disusun dan dipresentasikan.Oxford, dengan unggahannya yang hanya menyorot ilmuwan Barat, mereproduksi hierarki pengetahuan global di mana lembaga Dunia Utara menikmati otoritas, sementara para peneliti lokal diposisikan sebagai figur pendukung yang tak layak mendapat sorotan penuh.Untuk memahami betapa fundamental masalah ini, kita perlu menengok masa lalu kolonial.Dalam tulisannya di theconversation.com yang berjudul “Bagaimana perkembangan ilmu pengetahuan pada masa penjajahan melupakan peran orang pribumi", Irawan Santoso Suryo Basuki menceritakan bahwa narasi ilmu pengetahuan di Hindia Belanda secara sistematis meminggirkan peran pribumi.Basuki mengangkat tokoh seperti Oedam, kepala tukang kebun di Kebun Raya Bogor, yang sangat dihargai oleh ahli botani Amerika David Fairchild karena memorinya yang luar biasa atas flora lokal dalam klasifikasi Eropa.Ada pula Mario dan Papa Iidan, yang membantu pengumpulan data tumbuhan dan serangga, tetapi hanya diakui sebagai asisten.Menurut sejarawan Simon Schaffer, mereka adalah “go-between”—perantara pengetahuan antara dunia lokal dan ilmuwan kolonial—namun dalam narasi resmi kolonial, peran mereka nyaris lenyap.
(prf/ega)
Rafflesia hasseltii dan Warisan Rasis Kolonial
2026-01-12 07:33:07
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 06:48
| 2026-01-12 06:47
| 2026-01-12 06:30
| 2026-01-12 05:22
| 2026-01-12 05:09










































