Bisa Rias 3 Jenazah dalam Sehari, Gloria Ungkap Tantangan Menutup Luka dan Rebuilding Wajah

2026-01-12 05:21:59
Bisa Rias 3 Jenazah dalam Sehari, Gloria Ungkap Tantangan Menutup Luka dan Rebuilding Wajah
JAKARTA, - Bagi sebagian orang, pekerjaan perias jenazah masih dipenuhi stigma dan jarak emosional.Namun, bagi Gloria Elsa Hutasoit (42), pekerjaan tersebut justru telah menjadi bagian dari hidupnya sejak remaja.“Saya bekerja sehari bisa satu sampai tiga jenazah, kadang seharian tidak merias sama sekali,” ujarnya saat dihubungi Kompas.com pada Jumat .Baca juga: Kisah Gloria Elsa, Perias Jenazah yang Mengabdi Lewat Pelayanan TerakhirGloria bekerja sebagai perias jenazah di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya. Ia menerima panggilan dari rumah sakit, rumah duka, atau langsung dari keluarga mendiang. Tidak ada ritme yang pasti maupun jadwal rutin.“Saya tidak bekerja sama dengan banyak rumah sakit atau rumah duka, jadi sehari itu tidak pasti. Kadang ramai, kadang sepi,” katanya.Dalam dunia pekerjaan yang jarang disorot ini, Gloria menautkan pekerjaannya yang ditekuni sejak 2016 bukan hanya pada aspek teknis kecantikan, tetapi juga pada nilai-nilai kemanusiaan.Ia meyakini setiap jenazah berhak mendapatkan persiapan terakhir yang layak.Saat ditanya bagaimana awalnya ia berkecimpung dalam dunia merias jenazah, Gloria bercerita panjang.“Dari muda saya suka sekali makeup,” tuturnya.Foto: Instagram @periasjenazah.gloriaelsa) Gloria Elsa Hutasoit (42), Perias Jenazah.Namun, ketertarikannya pada rias jenazah muncul bukan hanya dari minat pribadi. Ibunya adalah seorang perawat di rumah sakit sekaligus aktif dalam pelayanan gereja untuk memandikan jenazah.Pengalaman pertama Gloria merias jenazah terjadi saat tantenya yang bekerja sebagai pemulung meninggal dunia pada 2001. Peristiwa itu meninggalkan kesan mendalam baginya.“Di situ saya tergerak. Saya merasa pengantin Tuhan berhak dipersiapkan dengan layak di hari terakhirnya,” kenangnya.Baca juga: Kisah Topik, Kusir Delman Betawi yang Tetap Bertahan di Tengah Sepinya PenumpangSejak saat itu, ia mulai sering ikut ibunya dalam pelayanan pemulasaraan. Dari satu pengalaman ke pengalaman lain, ia mulai memahami sisi teknis sekaligus emosional dari pekerjaan tersebut.“Saya membantu mama memandikan jenazah, sambil belajar bagaimana memperlakukan jenazah dengan penuh hormat,” kata Gloria.Banyak orang membayangkan profesi perias jenazah sebagai pekerjaan yang berat, kelam, bahkan menakutkan. Namun, Gloria justru merasakan sebaliknya.“Yang saya rasakan saat bertemu jenazah adalah bahagia,” ujarnya.Kebahagiaan itu muncul karena ia merasa dapat membantu keluarga yang sedang menghadapi kehilangan.Menurut dia, pelayanan rias jenazah bukan hanya soal berhadapan dengan tubuh yang sudah tidak bernyawa.Lebih dari itu, pekerjaan ini adalah tentang menjaga martabat seseorang, terutama mereka yang berasal dari keluarga sederhana.“Saya bahagia bisa menolong mempersiapkan jenazah tak mampu,” ucapnya.Meski sama-sama menggunakan alat kosmetik dan teknik dasar yang mirip dengan merias orang hidup, tantangan merias jenazah jauh lebih besar. Gloria menggambarkannya sebagai “merias di atas kaca”.Baca juga: Sani dan Suryati, Penjual Jamu Gendong di Bogor yang Melangkah Bersama Tradisi“Struktur kulit jenazah cenderung sudah keras dan kering,” tuturnya.Permukaan kulit yang kehilangan elastisitas membuat produk makeup sulit menempel. Warna kulit pun sering berubah.Menurut Gloria, salah satu tahap paling menantang adalah ketika ia harus menutup luka atau lebam.Kondisi tertentu seperti jenazah yang telah lama meninggal, perbedaan penyimpanan suhu, atau riwayat medis membuat beberapa bagian kulit berubah warna menjadi menghitam atau menguning.Ia menyebut bahwa kondisi rumit biasanya memerlukan waktu jauh lebih lama.


(prf/ega)