Kisah Mamiek Jauhkan Warga Ciracas dari Judol dan Rentenir Lewat Koperasi

2026-01-11 22:37:51
Kisah Mamiek Jauhkan Warga Ciracas dari Judol dan Rentenir Lewat Koperasi
JAKARTA, - Di tengah derasnya arus pinjaman online (pinjol) dan praktik rentenir, fenomena ini bukan lagi hal asing bagi warga ekonomi menengah ke bawah.Setiap hari, banyak keluarga menghadapi tekanan finansial yang membuat mereka terpaksa meminjam uang dengan bunga tinggi, kadang tanpa tahu pasti kapan bisa melunasinya.Akibatnya, utang yang kecil bisa berkembang menjadi beban yang berat, menimbulkan stres dan konflik di rumah tangga.Di tengah kondisi itu, hadirnya alternatif aman untuk mengakses modal usaha menjadi sangat penting.Baca juga: Siska Korban Pinjol, Bagaimana Utang Kecil Menjadi Beban Besar?Koperasi Flamboyan lahir dengan misi tersebut. Bukan sekadar koperasi biasa, tetapi wadah yang memungkinkan warga, terutama ibu rumah tangga, mendapatkan modal legal dengan bunga rendah, agar mereka tidak perlu berurusan dengan pinjol atau rentenir.Koperasi ini menjadi benteng ekonomi dan perlindungan sosial, menawarkan kepastian dan keamanan bagi anggota yang ingin memulai usaha, sekaligus menghindari jerat utang yang menyesakkan.Suyatmi, atau yang akrab disapa Mamiek, adalah sosok yang menginisiasi kelompok ini.Dari seorang ibu rumah tangga biasa, ia memimpin perjuangan membangun kelompok yang kemudian menjadi Koperasi Flamboyan.Semua berawal dari kegiatan sederhana belajar membuat kue bersama, berbagi ilmu, dan melihat peluang untuk memperkuat ekonomi warga di lingkungannya.Pada 1992, Mamiek bergabung dalam kelompok yang dibentuk oleh LSM Pusat Pengembang Sumber Daya Wanita (PPSW).Kelompok ini berisi ibu-ibu rumah tangga dari sejumlah RT dan RW di Ciracas, yang ingin mendapatkan pengetahuan dan keterampilan baru.Awalnya, kegiatan kelompok tidak fokus pada usaha ekonomi, melainkan sekadar pertemuan belajar dan berbagi pengalaman.“Jadi kelompok Pelamboyan itu dari tahun 1992. Yang memang awalnya sebenarnya Koperasi Flamboyan itu tidak langsung jadi koperasi, tetapi berbentuk kelompok dulu,” ujar Mamiek ketua Badan Pengawas saat ditemui di Koperasi Flamboyan, Rabu .Setiap pertemuan, anggota kelompok belajar membuat kue sederhana. PPSW menghadirkan instruktur untuk memandu proses, mulai dari bahan hingga teknik memasak.Ibu-ibu tidak langsung mendapatkan target penjualan. Kegiatan ini lebih untuk mengenalkan keterampilan dan memberi pengalaman langsung.“Pertemuan ini membentuk kelompok wanita, belum tahu arahnya kemana dan kegiatannya apa. Setelah itu ibu-ibu itu, ada yang jawab mau kerja dapat duit, terus dikasih kegiatan, itu pertama pertemuan," kata dia.Setelah beberapa bulan belajar membuat kue, kelompok mendapat peluang untuk mempraktikkan keterampilan itu dengan modal dari PPSW.Ibu-ibu diberi modal untuk membuat kue, lalu mereka diperkenankan mengonsumsi atau mencoba hasilnya. Hal ini menjadi awal pengenalan pada konsep usaha dan manajemen sederhana.“Dari PPSW menghadirkan untuk memberikan ilmu membuat kue, juga bilang bahwa ilmu ini silahkan ibu pakai, nanti kalau umpama ada biaya, ada bahan bisa diterapkan," ujar dia.Baca juga: Utang Pinjol Rp 1 Juta Menyeret Siska ke Lingkaran Gali Lubang Tutup LubangSeiring waktu, Mamiek mulai menyadari kebutuhan warga sekitar akan modal yang terjangkau. Ia melihat banyak tetangganya terpaksa meminjam uang dari rentenir, yang memicu utang berkepanjangan dan tekanan finansial.Dari situ, perempuan yang dikenal sebagai Mamiek menyadari bahwa tetangganya terjebak utang pada rentenir dengan bunga tinggi tidaklah sedikit, ia pun merasa prihatin."Saya kalau siang itu ko dia (tetangga) sama orang (tak dikenal) itu dia bawa buku terus di kasih secarik kertas kecil, 'itu apa'. Saya tanya, katanya itu untuk pinjam uang untuk modal (jualan) ini," jelas dia.Dia kemudian mengajak kelompoknya untuk melakukan kegiatan yang dapat membantu masyarakat sekitar terutama yang memiliki usaha.Dengan semangat untuk memberikan manfaat lebih dia mencoba menawarkan kegiatan baru agar kelompok tetap berjalan dan dapat melakukan aktivitas yang lebih berguna."Setelah ada beberapa orang, jadi saya bilang ke PPSW, saya kepengin meminjamkan modal sama orang-orang yang usaha kecil ini tetapi saya enggak punya uang," ujar dia.Berdasarkan niat untuk membantu Mamiek kemudian meminta lembaga swadaya masyarakat yang membimbing kelompoknya untuk mengajarkan mereka membentuk koperasi simpan pinjam."'Yaudah Bu Mamiek kumpulin lagi'. Dapat lagi yang mau tuh 20 orang. Nah, 20 pulang orang setelah berjalan selama setengah tahun tinggal enam orang," kata dia.


(prf/ega)