- Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendikti saintek) Stella Christie bercerita bahwa ia sering diminta untuk menulis dan mempublikasikan buku tentang coding dan AI untuk anak-anak dengan iming-iming nominal royalti yang besar."Saya sering diminta untuk menulis buku tentang coding dan AI dan semua tentang anak-anak karena riset saya berkaitan dengan AI dan anak-anak," ujar Wamen Stella dalam acara 2025 International Symposium on ECED yang diselenggarakan Tanoto Foundation di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu .Kata profesor lulusan Northwestern University ini, buku tentang AI dan coding pun memiliki pasarnya sendiri dan ada banyak buku tentang kedua hal tersebut."Saya sering diminta penerbit menulis buku serupa dan jujur saja ditawari sejumlah uang yang cukup besar untuk melakukan itu. Tetapi saya tidak pernah mau tulis buku ini," akunya.Baca juga: Kampus dan Jurusan Pilihan Menteri-Wamen Pendidikan di Pemerintahan PrabowoAlasannya, ia masih meragukan apakah kita benar-benar membutuhkan buku-buku ini.Beberapa tahun lalu ia berpikir apakah membaca buku ini adalah penggunaan waktu anak-anak yang terbaik."Di dalam waktu yang sama kalau mereka baca buku tentang AI, apakah itu yang terbaik yang dilakukan? Atau ada yang lebih baik yang bisa dilakukan dalam waktu yang sama?" ucap Wamen Stella.Kepada para audiens sebelumnya Wamen Stella mengajukan pertanyaan "apakah Anda mau jika otak anak-anak Anda atau yang Anda kenal digantikan dengan AI?'.Menurutnya kemampuan berpikir anak-anak akan tergantikan dengan AI jika kita orang dewasa atau orangtua berperilaku seperti AI."Satu-satunya kunci agar Anda atau anak Anda tidak dapat digantikan oleh AI adalah Anda harus memiliki kemampuan yang berbeda dari kecerdasan buatan. Inilah mengapa saya sangat ragu untuk menulis buku tentang coding dan AI untuk anak-anak kecil," jelas Wamen Stella.Baca juga: Wamen Stella Bahas Frequency Bias di Kasus Whoosh, Ungkap 3 Analisa KeuntungannyaCyberprogrammers.net Ilustrasi coding.Wamen Stella juga memaparkan hasil penelitian terbaru dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) di Amerika Serikat.Para peneliti menguji mahasiswa-mahasiswa dari Harvard University, MIT, dan Wellesley College untuk membuat esai selama empat bulan.Mahasiswa dibagi ke dalam tiga kelompok yakni kelompok yang boleh mengerjakan tugas tersebut dengan LLM (fitur AI) apapun yang dimau, tidak boleh memakai LLM namun boleh menggunakan mesin pencari (search engine), dan kelompok terakhir hanya boleh menggunakan kemampuan otak.Baca juga: Wamen Fajar: Keselamatan dan Kesehatan Psikologis Anak Jadi Prioritas di Daerah Bencana Sumatera"Selama empat bulan, pengguna LLM konsisten kinerjanya buruk pada neural, linguistik, dan perilaku. Hasil ini menimbulkan kekhawatiran tentang implikasi pendidikan jangka panjang dari ketergantungan pada LLM dan menggarisbawahi perlunya penyelidikan yang lebih mendalam tentang peran AI dalam pembelajaran," ungkap Wamen Stella.
(prf/ega)
Alasan Wamen Stella Tak Mau Tulis Buku tentang Coding dan AI untuk Anak
2026-01-13 12:35:55
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-13 12:28
| 2026-01-13 10:56
| 2026-01-13 10:25










































