CEO Bank Terbesar Asia Tenggara: Triliunan Dolar Terjebak di Saham Teknologi, Risiko Gelembung Meningkat

2026-01-16 16:31:59
CEO Bank Terbesar Asia Tenggara: Triliunan Dolar Terjebak di Saham Teknologi, Risiko Gelembung Meningkat
-CEO bank terbesar di Asia Tenggara, DBS Bank, Tan Su Shan, mengingatkan investor agar berhati-hati menghadapi potensi gejolak di pasar keuangan global.Ia menilai lonjakan valuasi saham di Amerika Serikat bisa memicu koreksi besar dalam waktu dekat."Kami telah melihat banyak volatilitas di pasar. Volatilitas ini bisa terjadi pada saham, suku bunga, atau nilai tukar," kata Tan kepada CNBC.Ia memperkirakan ketidakstabilan tersebut belum akan mereda dalam waktu dekat.Baca juga: Nilai Saham AS Terlalu Tinggi, Investor Diminta Waspadai Koreksi PasarTan mulai memimpin DBS pada Maret lalu menggantikan Piyush Gupta.Ia menilai kekhawatiran utama investor saat ini muncul dari valuasi tinggi saham teknologi besar yang dikenal sebagai Magnificent Seven: Amazon, Alphabet, Meta, Apple, Microsoft, Nvidia, dan Tesla."Misalnya, ada triliunan dolar yang terikat hanya pada tujuh saham itu. Dengan konsentrasi seperti itu, wajar kalau muncul pertanyaan: kapan gelembung ini akan pecah?" ujarnya.Baca juga: Rumor IPO Superbank, Kerinduan Investor pada Saham Perusahaan Berkualitas?Dalam konferensi Global Financial Leaders’ Investment Summit di Hong Kong, sejumlah pemimpin keuangan dunia memperkirakan koreksi pasar sebesar 10 hingga 20 persen bisa terjadi dalam satu hingga dua tahun ke depan.CEO Morgan Stanley, Ted Pick, menilai penurunan seperti itu penting untuk menjaga keseimbangan pasar. Tan sepakat.“Terus terang, koreksi akan sehat,” katanya.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

di sela acara peluncuran AI Innovation Hub di Institut Teknologi Bandung, Bandung, Jawa Barat, Selasa .Baca juga: Telkomsel Resmikan AI Innovation Hub di ITB, Perkuat Pengembangan AI NasionalDalam menyikapi AI Bubble, salah satu langkah konkret yang dilakukan Telkomsel adalah tidak gegabah melakukan investasi besar pada infrastruktur AI, seperti pembelian perangkat komputasi mahal, tanpa perhitungan pengembalian yang jelas.Menurut Nugroho, perkembangan teknologi AI sangat cepat, sehingga investasi perangkat keras yang dilakukan terlalu dini berisiko menjadi tidak relevan dalam waktu singkat.“Kalau kami investasi terlalu besar di awal, tapi teknologinya cepat berubah, maka pengembalian investasi (return on investment/ROI) akan sulit tercapai,” ungkap Nugie.Sebagai gantinya, Telkomsel memilih pendekatan yang lebih terukur, antara lain melalui kolaborasi dengan mitra, pemanfaatan komputasi awan (cloud), serta implementasi AI berbasis kebutuhan nyata (use case driven).Baca juga: Paket Siaga Peduli Telkomsel, Internet Gratis untuk Korban Bencana di SumateraWalaupun ancaman risiko AI Bubble nyata, Telkomsel menegaskan bahwa AI bukan teknologi yang bisa dihindari. Tantangannya bukan memilih antara AI atau tidak, melainkan mengadopsi AI secara matang dan berkelanjutan.“Bukan berarti karena ada potensi bubble lalu AI tidak dibutuhkan. AI tetap penting, tapi harus diadopsi dengan perhitungan yang matang,” tutur Nugroho.Selain mengungkap sikap perusahaan soal AI Bubble, Nugroho juga menggambarkan fenomena adopsi alias tren AI di Indonesia.Nugroho menilai adopsi AI di sini relatif lebih terukur dibandingkan fase teknologi baru sebelumnya.Pengalaman pahit pada era startup bubble, menurut dia, membuat pelaku industri kini lebih berhati-hati dalam berinvestasi, terutama dengan maraknya AI.

| 2026-01-16 15:45