Bye-bye Impor! Indonesia Bangun Pabrik Plasma Darah Terbesar di ASEAN

2026-01-14 09:21:53
Bye-bye Impor! Indonesia Bangun Pabrik Plasma Darah Terbesar di ASEAN
JAKARTA, - Ketergantungan Indonesia terhadap impor plasma darah yang selama ini mencapai 100 persen segera memasuki babak akhir. Melalui Indonesia Investment Authority (INA), Indonesia bersiap mencatat sejarah baru di industri kesehatan nasional dengan membangun pabrik fraksionasi plasma darah atau derived medicinal products (PDMP) pertama di Tanah Air yang juga diproyeksikan menjadi yang terbesar di Asia Tenggara (ASEAN). Vice President ESG INA, Fetriza Rinalddy, mengatakan selama ini kebutuhan plasma darah nasional sepenuhnya dipenuhi melalui impor. Melalui kerja sama strategis dengan SK Plasma, yang merupakan bagian dari SK Group asal Korea Selatan, Indonesia kini mulai membangun fasilitas fraksionasi plasma darah di dalam negeri. Proyek strategis tersebut disampaikan Fetriza dalam program Naratama Kompas.com, berjudul "Pintu Investasi Indonesia di Pundak INA" yang dipandu Pemimpin Redaksi Kompas.com Amir Sodikin dan dipublikasikan pada Rabu . “Kami bekerja sama dengan SK Plasma dari Korea Selatan untuk membangun pabrik fraksionasi plasma darah pertama di Indonesia. Selama ini kita 100 persen impor plasma darah. Ini akan menjadi yang terbesar di Asia Tenggara,” ujar Fetriza.Baca juga: Laporan LPEM UI: Investasi INA Ubah Infrastruktur Jadi Nilai Ekonomi dan Sosial Kehadiran fasilitas tersebut menandai perubahan besar dalam industri kesehatan nasional. Indonesia tidak lagi hanya berperan sebagai pasar, tetapi mulai bertransformasi menjadi produsen produk berbasis plasma darah. Pabrik fraksionasi plasma darah ini dijadwalkan mulai beroperasi pada kuartal IV-2026. Fasilitas tersebut akan berlokasi di Karawang International Industrial City dan memproduksi Produk Obat Derivat Plasma (PODP), seperti albumin dan imunoglobulin, dengan kapasitas pengolahan hingga 600.000 liter plasma per tahun. INA dan SK Plasma telah mendirikan PT SKPlasma Core Indonesia, perusahaan patungan (joint venture/JV), yang diumumkan pada 14 November 2024. Pembentukan entitas usaha ini ditandai dengan penandatanganan perjanjian investasi antara kedua pihak. Baca juga: Total Investasi INA Rp 65,4 Triliun hingga Mei 2025 Melalui kemitraan strategis tersebut, INA menjadi pemegang saham terbesar kedua di PT SKPlasma Core Indonesia. Kontrak ini juga menjadi yang pertama bagi perusahaan asal Korea Selatan yang berhasil menarik investasi dari INA. Kesepakatan itu dipandang sebagai pengakuan atas pengalaman operasional SK Plasma dalam pengelolaan pabrik plasma PDMP, serta keunggulan teknologi yang dimiliki. Di sisi lain, kerja sama juga mencerminkan komitmen Indonesia untuk mendorong kemandirian nasional dalam penyediaan obat derivat plasma. SK Plasma telah memperoleh izin dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI untuk mengoperasikan bisnis PDMP dan mendirikan perusahaan patungan SKPlasma Core Indonesia guna membangun fasilitas fraksionasi plasma tersebut. Baca juga: Genjot Kredit Properti, Bank INA Gandeng Alam Sutera


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Pendekatan “heritage meets modern” tersebut akan menjadi salah satu strategi utama Bata ke depan. Bata, kata Panos, ingin menghidupkan identitas lama yang disukai generasi sebelumnya, tetapi dihadirkan dengan desain yang sesuai selera generasi baru.Transformasi tidak hanya terjadi pada produk, tetapi juga pada retail experience. Laporan Tahunan 2024 menyebut bahwa seluruh toko Bata kini mengadopsi konsep modern-minimalis Red 2.0.Namun, bagi Panos, esensi modernisasi toko bukan sekadar tampil fashionable.“Bagi saya yang penting adalah membuat belanja lebih mudah dengan cara yang sangat sederhana,” ungkapnya. Ia membayangkan toko Bata sebagai ruang yang tidak berantakan, produk yang terkurasi jelas, dapat memandu konsumen tanpa membuat mereka bingung, serta menampilkan fokus utama pada produk.“Kami akan menaruh usaha lebih besar pada produk dan membimbing konsumen ke produk itu, product first,” katanya.Baca juga: Bukan Merek Lokal, Ini Sosok Pendiri Sepatu BataLaporan tahunan 2024 juga menunjukkan penguatan digital Bata secara signifikan, mulai dari integrasi pembayaran digital (Gopay, ShopeePay, OctoPay, Visa Contactless), kolaborasi dengan key opinion leader (KOL), serta penguatan Bata Club sebagai program loyalitas.Upaya itu sejalan dengan visi Panos untuk membawa Bata lebih dekat ke generasi muda Indonesia. Apalagi, generasi ini berbelanja secara omnichannel dan peka terhadap brand yang punya nilai jelas.Panos menilai, generasi muda juga punya kepekaan terkait asal-usul produk. Menurutnya, konsumen masa kini memperhatikan bagaimana sepatu dibuat, mulai dari aspek keberlanjutan (sustainability), lokasi pembuatan produk, hingga siapa yang mengerjakannya.Bata Indonesia sendiri telah melakukan sejumlah langkah keberlanjutan nyata, seperti optimalisasi konsumsi energi, efisiensi rantai pasok, penggunaan teknologi hemat energi, dan tata kelola material yang lebih baik.“Sustainability bukan sesuatu yang kamu pasarkan. Sustainability adalah sesuatu yang kamu jalani dan kamu wujudkan setiap hari,” tegasnya.Upaya modernisasi Bata, mulai dari kurasi produk, perbaikan toko, hingga penguatan kanal digital, pada akhirnya kembali pada satu tujuan, yakni menjawab kebutuhan konsumen Indonesia hari ini. Setelah melewati masa restrukturisasi, Bata ingin memastikan bahwa setiap langkah transformasi benar-benar berangkat dari pemahaman terhadap perilaku dan ekspektasi masyarakat Indonesia yang terus berkembang.Di sinilah Panos melihat kekuatan besar yang dimiliki Bata selama puluhan tahun di Indonesia, yaitu hubungan emosional yang terbangun secara alami dengan konsumennya.Baca juga: Sepatu Bata, Sering Dikira Produk Lokal Ternyata Berasal dari Ceko“Konsumen Indonesia sangat loyal. Jauh lebih loyal jika dibandingkan banyak konsumen lain di dunia,” kata Panos.Namun, ia mengingatkan bahwa loyalitas bukan sesuatu yang bisa dianggap pasti. “Kami harus relevan untuk konsumen hari ini, lebih terhubung dengan audiens muda, dan membawa mereka kembali masuk ke Bata,” tuturnya. Upaya untuk kembali relevan di mata konsumen tidak bisa berdiri sendiri. Menurut Panos, transformasi Bata hanya bisa berjalan jika dukungan internal juga kuat dan keyakinan dari orang-orang yang bekerja di baliknya.“Setelah Covid, keyakinan itu selalu turun. Padahal, kepercayaan internal itu sangat penting,” katanya.Maka dari itu, Panos ingin seluruh tim melihat arah baru Bata sebagai momentum untuk bangkit bersama.“Kami akan membutuhkan lebih banyak karyawan untuk berkembang dan menjadi lebih kuat di Indonesia,” katanya.Dengan fondasi internal yang diperkuat dan strategi baru yang mulai berjalan, Panos memandang masa depan Bata di Indonesia dengan keyakinan yang besar. Baginya, transformasi yang sedang dilakukan tidak hanya soal restrukturisasi, modernisasi produk, atau pembaruan toko, tetapi juga membangun hubungan yang lebih bermakna dengan konsumen.“Saya berharap ketika datang lagi ke sini, saya bisa merasa bangga terhadap Bata. Bangga melihat Bata tersedia untuk konsumen yang lebih luas, melihat pelanggan datang ke Bata dan bisa merasakan mereka menyukainya,” harapnya.Baca juga: Sejarah Sepatu Bata, Merek Eropa yang Sering Dikira dari IndonesiaIa juga menginginkan pertumbuhan yang tidak hanya tecermin dalam penjualan atau jumlah toko, tetapi juga dalam cara masyarakat Indonesia memaknai kehadiran Bata setelah lebih dari 90 tahun berada di tengah mereka.“Saya ingin Bata berarti sesuatu bagi Indonesia serta berkata, ‘Saya tumbuh bersama Bata. Bata adalah perusahaan lokal sekaligus global dan Bata mengerti saya’,” katanya. Panos melihat Indonesia bukan sekadar pasar besar, melainkan rumah penting bagi perjalanan panjang Bata. Dengan arah baru, strategi yang lebih fokus, dan loyalitas konsumen yang kuat, ia yakin Bata akan kembali menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia untuk waktu yang lama.

| 2026-01-14 09:02