Rantai Pasok Global Bisa Terganggu akibat Cuaca Ekstrem

2026-02-02 07:47:58
Rantai Pasok Global Bisa Terganggu akibat Cuaca Ekstrem
- Seiring meningkatnya cuaca ekstrem yang diperparah oleh perubahan iklim, dampaknya bagi jaringan logistik tidak dapat lagi diabaikan.Pasalnya, cuaca ekstrem kini menjadi gangguan rutin yang bisa berdampak pada rantai pasokan dan menyebabkan masalah bagi sektor logistik.Bisnis pun mulai menyadari bahwa gangguan yang disebabkan oleh iklim tersebut bukan hanya tantangan operasional melainkan juga sinyal bahwa perubahan mendasar pada praktik rantai pasokan sangat dibutuhkan.Melansir Sustainability of Magazine, Selasa menurut laporan Metro yang meneliti pola cuaca di seluruh jalur perdagangan global, gangguan cuaca makin intensif di seluruh rantai pasokan global dengan volatilitas yang meningkat dalam frekuensi, keparahan, dan jangkauan geografis.Baca juga: Ahli Lingkungan Sebut Perubahan Iklim Langgar Hak Asasi ManusiaPola gangguan tersebut menunjukkan konsekuensi nyata perubahan iklim terhadap perdagangan global.Misalnya saja bencana alam yang terjadi November lalu di Asia Tenggara berdampak langsung pada kelancaran arus barang dunia.Titik masuk dan keluar barang yang krusial mengalami kemacetan akibat banjir dan tanah longsor di Malaysia, Indonesia, dan Thailand.Para ilmuwan iklim pun memperingatkan bahwa kejadian cuaca ekstrem akan meningkat frekuensinya seiring dengan kenaikan suhu global yang berarti turbulensi rantai pasokan dapat menjadi gangguan yang konstan.Menurut laporan DP World, dalam tiga tahun terakhir, 93 persen pemilik kargo di sektor barang mudah rusak telah mengalami gangguan terkait iklim.Sekitar 75 persen menghadapi kelangkaan panen akibat faktor iklim, 35 persen terdampak oleh kekeringan di Terusan Panama, dan 27 persen menghadapi masalah akibat rendahnya permukaan air di Sungai Rhine."Volatilitas iklim membentuk kembali bagaimana makanan bergerak melintasi perbatasan," kata Alfred Whitman, Wakil Presiden Global untuk Barang Mudah Rusak dan Pertanian di DP World.Sektor ini pun merasakan tekanan lebih sering dan dengan peringatan yang lebih sedikit.Yang dibutuhkan saat ini adalah wawasan yang lebih dini mengenai risiko, pergerakan lintas wilayah yang lebih terprediksi, dan infrastruktur rantai dingin (cold chain) yang lebih kuat.Iklim bukan hanya memengaruhi sektor logistik tetapi juga berdampak pada komoditas.Misalnya saja, laporan WWF 2025 mengungkapkan bahwa Inggris mengalami musim semi dan musim panas terpanas serta terkering dalam lebih dari 100 tahun. Dampaknya adalah hasil panen utama mereka seperti gandum yang mengalami penurunan.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Pendekatan “heritage meets modern” tersebut akan menjadi salah satu strategi utama Bata ke depan. Bata, kata Panos, ingin menghidupkan identitas lama yang disukai generasi sebelumnya, tetapi dihadirkan dengan desain yang sesuai selera generasi baru.Transformasi tidak hanya terjadi pada produk, tetapi juga pada retail experience. Laporan Tahunan 2024 menyebut bahwa seluruh toko Bata kini mengadopsi konsep modern-minimalis Red 2.0.Namun, bagi Panos, esensi modernisasi toko bukan sekadar tampil fashionable.“Bagi saya yang penting adalah membuat belanja lebih mudah dengan cara yang sangat sederhana,” ungkapnya. Ia membayangkan toko Bata sebagai ruang yang tidak berantakan, produk yang terkurasi jelas, dapat memandu konsumen tanpa membuat mereka bingung, serta menampilkan fokus utama pada produk.“Kami akan menaruh usaha lebih besar pada produk dan membimbing konsumen ke produk itu, product first,” katanya.Baca juga: Bukan Merek Lokal, Ini Sosok Pendiri Sepatu BataLaporan tahunan 2024 juga menunjukkan penguatan digital Bata secara signifikan, mulai dari integrasi pembayaran digital (Gopay, ShopeePay, OctoPay, Visa Contactless), kolaborasi dengan key opinion leader (KOL), serta penguatan Bata Club sebagai program loyalitas.Upaya itu sejalan dengan visi Panos untuk membawa Bata lebih dekat ke generasi muda Indonesia. Apalagi, generasi ini berbelanja secara omnichannel dan peka terhadap brand yang punya nilai jelas.Panos menilai, generasi muda juga punya kepekaan terkait asal-usul produk. Menurutnya, konsumen masa kini memperhatikan bagaimana sepatu dibuat, mulai dari aspek keberlanjutan (sustainability), lokasi pembuatan produk, hingga siapa yang mengerjakannya.Bata Indonesia sendiri telah melakukan sejumlah langkah keberlanjutan nyata, seperti optimalisasi konsumsi energi, efisiensi rantai pasok, penggunaan teknologi hemat energi, dan tata kelola material yang lebih baik.“Sustainability bukan sesuatu yang kamu pasarkan. Sustainability adalah sesuatu yang kamu jalani dan kamu wujudkan setiap hari,” tegasnya.Upaya modernisasi Bata, mulai dari kurasi produk, perbaikan toko, hingga penguatan kanal digital, pada akhirnya kembali pada satu tujuan, yakni menjawab kebutuhan konsumen Indonesia hari ini. Setelah melewati masa restrukturisasi, Bata ingin memastikan bahwa setiap langkah transformasi benar-benar berangkat dari pemahaman terhadap perilaku dan ekspektasi masyarakat Indonesia yang terus berkembang.Di sinilah Panos melihat kekuatan besar yang dimiliki Bata selama puluhan tahun di Indonesia, yaitu hubungan emosional yang terbangun secara alami dengan konsumennya.Baca juga: Sepatu Bata, Sering Dikira Produk Lokal Ternyata Berasal dari Ceko“Konsumen Indonesia sangat loyal. Jauh lebih loyal jika dibandingkan banyak konsumen lain di dunia,” kata Panos.Namun, ia mengingatkan bahwa loyalitas bukan sesuatu yang bisa dianggap pasti. “Kami harus relevan untuk konsumen hari ini, lebih terhubung dengan audiens muda, dan membawa mereka kembali masuk ke Bata,” tuturnya. Upaya untuk kembali relevan di mata konsumen tidak bisa berdiri sendiri. Menurut Panos, transformasi Bata hanya bisa berjalan jika dukungan internal juga kuat dan keyakinan dari orang-orang yang bekerja di baliknya.“Setelah Covid, keyakinan itu selalu turun. Padahal, kepercayaan internal itu sangat penting,” katanya.Maka dari itu, Panos ingin seluruh tim melihat arah baru Bata sebagai momentum untuk bangkit bersama.“Kami akan membutuhkan lebih banyak karyawan untuk berkembang dan menjadi lebih kuat di Indonesia,” katanya.Dengan fondasi internal yang diperkuat dan strategi baru yang mulai berjalan, Panos memandang masa depan Bata di Indonesia dengan keyakinan yang besar. Baginya, transformasi yang sedang dilakukan tidak hanya soal restrukturisasi, modernisasi produk, atau pembaruan toko, tetapi juga membangun hubungan yang lebih bermakna dengan konsumen.“Saya berharap ketika datang lagi ke sini, saya bisa merasa bangga terhadap Bata. Bangga melihat Bata tersedia untuk konsumen yang lebih luas, melihat pelanggan datang ke Bata dan bisa merasakan mereka menyukainya,” harapnya.Baca juga: Sejarah Sepatu Bata, Merek Eropa yang Sering Dikira dari IndonesiaIa juga menginginkan pertumbuhan yang tidak hanya tecermin dalam penjualan atau jumlah toko, tetapi juga dalam cara masyarakat Indonesia memaknai kehadiran Bata setelah lebih dari 90 tahun berada di tengah mereka.“Saya ingin Bata berarti sesuatu bagi Indonesia serta berkata, ‘Saya tumbuh bersama Bata. Bata adalah perusahaan lokal sekaligus global dan Bata mengerti saya’,” katanya. Panos melihat Indonesia bukan sekadar pasar besar, melainkan rumah penting bagi perjalanan panjang Bata. Dengan arah baru, strategi yang lebih fokus, dan loyalitas konsumen yang kuat, ia yakin Bata akan kembali menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia untuk waktu yang lama.

| 2026-02-02 06:42