Kisah di Balik Masjid Pancasila, Saat PNS "Dipaksa" Sedekah oleh Soeharto

2026-01-15 09:07:22
Kisah di Balik Masjid Pancasila, Saat PNS
- Pernah mendengar Masjid Pancasila? Masjid ini tersebar di berbagai daerah di Indonesia dan mudah dikenali. Hampir semua bangunan Masjid Pancasila memiliki ciri khas dan arsitektur yang sama.Ciri utama Masjid Pancasila adalah atapnya berbentuk segitiga bersusun tiga tingkat, yang juga disebut dengan atap tumpang atau tajug.Ciri lainnya termasuk penggunaan tiang-tiang di tengah aula dengan gaya arsitektur joglo, tetapi tanpa kolom bebas untuk ruang yang lebih lapang.Masjid Pancasila merupakan bagian dari proyek pembangunan banyak masjid yang dibangun pada masa pemerintahan Presiden Soeharto pada periode tahun 1980-an sampai dengan tahun 1990-an.Banyak Masjid Pancasila yang tersebar di Indonesia diresmikan langsung oleh Soeharto. Ini karena penyelesaian pembangunan masjid ini memang disesuaikan dengan agenda kunjungan Soeharto ke daerah-daerah.Baca juga: Rekam Jejak Bisnis Kayu Bob Hasan, Raja Hutan di Era Orde BaruSebagai informasi saja, pendirian Masjid Pancasila di era Orde Baru dikoordinasi dan dilakukan oleh Yayasan Amalbakti Muslim Pancasila (YAMP), sebuah yayasan yang didirikan Soeharto pada tahun 1982.Dikutip dari situs resmi YAMP, ide untuk membangun banyak Masjid Pancasila tercetus saat Soeharto melakukan incognito (blusukan) ke daerah Klaten, Jawa Tengah, pada tahun 1970.Saat melakukan perjalanan tak resmi, ia melihat banyak warga Klaten yang bergotong royong membangun masjid baru. Soeharto lalu memutuskan turun dari mobilnya untuk menemui warga yang tengah bahu membahu mengangkut batu bata, kayu-kayu, dan bahan bangunan lainnya.Para warga yang ditemui Soeharto lalu berkeluh kesah perihal sulitnya mengumpulkan dana untuk pembangunan masjid.Ia kemudian memerintahkan Gubernur Jawa Tengah Moenadi untuk memberikan bantuan agar pembangunan masjid dapat segera diselesaikan.Masjid yang berlokasi di Jalan Pemuda ini berhasil diselesaikan dan diresmikan pada tahun 1971. Sampai kini masih tegak berdiri dan dikenal dengan nama Masjid Raya Klaten.Baca juga: Judi Porkas, Undian Lotre yang Dilegalkan pada Masa SoehartoBlusukannya ke Klaten inilah yang kemudian menginisiasi Soeharto mendirikan YAMP pada 1982. Yayasan ini didirikan dengan tujuan mengumpulkan sedekah. Dalam tujuan pendiriannya, YAMP tak secara eksplisit didirikan untuk membangun masjid.Namun kemudian dalam akta yayasan, disebutkan bahwa yayasan ini ditujukan untuk mendanai bidang pendidikan, pemberian beasiswa, dakwah, penerbitan, penelitian dan pengembangan rumah ibadah, rumah sakit, panti-panti sosial, dan usaha produktif lainnya untuk meningkatkan kesejahteraan umat.Muhammad Idris/Money.kompas.com Ciri khas pintu Masjid Pancasila yang dibangun di era Soeharto.Sembilan bulan setelah pendirian YAMP, Soeharto sebagai ketua mengirim surat nomor 12/YAMP/XI/1982 kepada Korps Pegawai Republik Indonesia (KORPRI), sebuah organisasi yang menghimpun PNS seluruh Indonesia.Masih mengutip situs YAMP, dalam surat tersebut Soeharto menyampaikan, “...Berdasarkan atas keyakinan bahwa tujuan dan usaha yayasan seperti kami uraikan diatas sejalan dengan tujuan organisasi KORPRI, maka dengan ini kami menghimbau kepada anggota KORPRI, melalui saudara ketua, untuk kesediaannya menjadi penyumbang yayasan, secara sukarela dan sesuai dengan kemampuan....”.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#5

Pada hari penerapan, ganjil genap berlaku dalam dua sesi, yakni pagi pukul 06.00–10.00 WIB dan sore pukul 16.00–21.00 WIB. Pengendara yang melintas di akses tol yang terhubung langsung dengan jalan ganjil genap tetap wajib menyesuaikan pelat nomor kendaraan.Baca juga: Wisatawan Menuju Gunungkidul Diimbau Gunakan Jalur AlternatifAdapun 28 akses gerbang tol di Jakarta yang terkena ganjil genap pada pekan ini sebagai berikut:1. Jalan Anggrek Neli Murni sampai akses masuk Tol Jakarta-Tangerang2. Off ramp Tol Slipi/Palmerah/Tanah Abang sampai Jalan Brigjen Katamso3. Jalan Brigjen Katamso sampai Gerbang Tol Slipi 24. Off ramp Tol Tomang/Grogol sampai Jalan Kemanggisan Utama5. Simpang Jalan Palmerah Utara-Jalan KS Tubun sampai Gerbang Tol Slipi 16. Jalan Pejompongan Raya sampai Gerbang Tol Pejompongan7. Off ramp Tol Slipi/Palmerah/Tanah Abang sampai akses masuk Jalan Tentara Pelajar8. Off ramp Tol Benhil/Senayan/Kebayoran sampai akses masuk Jalan Gerbang Pemuda9. Off ramp Tol Kuningan/Mampang/Menteng sampai simpang Kuningan10. Jalan Taman Patra sampai Gerbang Tol Kuningan 211. Off ramp Tol Tebet/Manggarai/Pasar Minggu sampai simpang Pancoran12. Simpang Pancoran sampai Gerbang Tol Tebet13. Jalan Tebet Barat Dalam Raya sampai Gerbang Tol Tebet 214. Off ramp Tol Tebet/Manggarai/Pasar Minggu sampai Jalan Pancoran Timur II15. Off ramp Tol Cawang/Halim/Kampung Melayu sampai simpang Jalan Otto Iskandardinata-Jalan Dewi Sartika16. Simpang Jalan Dewi Sartika-Jalan Otto Iskandardinata sampai Gerbang Tol Cawang17. Off ramp Tol Halim/Kalimalang sampai Jalan Inspeksi Saluran Kalimalang18. Jalan Cipinang Cempedak IV sampai Gerbang Tol Kebon Nanas19. Jalan Bekasi Timur Raya sampai Gerbang Tol Pedati20. Off ramp Tol Pisangan/Jatinegara sampai Jalan Bekasi Barat21. Off ramp Tol Jatinegara/Klender/Buaran sampai Jalan Bekasi Timur Raya22. Jalan Bekasi Barat sampai Gerbang Tol Jatinegara23. Simpang Jalan Rawamangun Muka Raya-Jalan Utan Kayu Raya sampai Gerbang Tol Rawamangun24. Off ramp Tol Rawamangun/Salemba/Pulogadung sampai simpang Jalan Utan Kayu Raya-Jalan Rawamangun Muka Raya25. Off ramp Tol Rawamangun/Salemba/Pulogadung sampai simpang Jalan H Ten Raya-Jalan Rawasari Selatan26. Simpang Jalan Rawasari Selatan-Jalan H Ten Raya sampai Gerbang Tol Pulomas27. Off ramp Tol Cempaka Putih/Senen/Pulogadung sampai simpang Jalan Letjend Suprapto-Jalan Perintis Kemerdekaan28. Simpang Jalan Pulomas sampai Gerbang Tol Cempaka Putih

| 2026-01-15 07:12