6 Kota Kuno yang Tercatat dalam Sejarah tapi Tak Pernah Ditemukan Arkeolog

2026-01-13 07:52:58
6 Kota Kuno yang Tercatat dalam Sejarah tapi Tak Pernah Ditemukan Arkeolog
- Sejumlah kota kuno tercatat dalam berbagai teks peradaban dunia, namun hingga kini belum berhasil ditemukan secara ilmiah oleh para arkeolog.Kota-kota tersebut bukan permukiman kecil, melainkan kota besar yang pernah menjadi pusat kekuasaan, termasuk ibu kota kerajaan dan kekaisaran berpengaruh.Meski penelitian dan penggalian terus dilakukan, lokasi fisik kota-kota ini masih menjadi misteri.Dalam teks-teks kuno, kota-kota tersebut digambarkan memiliki sistem pemerintahan, aktivitas ekonomi, hingga kehidupan sosial yang maju.Namun, perubahan alam dan perjalanan sejarah diduga menyebabkan kota-kota itu tertimbun atau hilang jejaknya.Dalam beberapa kasus, para ahli menduga kota-kota tersebut lebih dulu ditemukan oleh penjarah yang mengambil artefak berharga.Sayangnya, lokasi penemuan itu tidak pernah diungkapkan kepada publik maupun otoritas resmi.Lantas, kota-kota hilang apa saja yang hingga kini belum pernah ditemukan?Baca juga: Arkeolog Temukan Palaspata, Jejak Kuil Matahari Tiwanaku yang Hilang di AndesDilansir dari Live Science, Minggu , berikut adalah enam kota kuno yang disebut dalam sumber sejarah, namun lokasinya masih menjadi teka-teki hingga kini:Tidak lama setelah invasi Amerika Serikat (AS) ke Irak pada 2003, ribuan tablet kuno yang diduga berasal dari sebuah kota bernama Irisagrig mulai beredar di pasar barang antik internasional.Para ilmuwan meneliti tablet-tablet tersebut dan para menyimpulkan bahwa Irisagrig merupakan kota yang berada di wilayah Irak dan berkembang sekitar 4.000 tahun lalu.Prasasti-prasasti terseut menggambarkan kehidupan para penguasa kota yang tinggal di istana-istana besar dan memelihara banyak anjing. Selain itu, penguasa Irisagrig juga diketahui memelihara singa yang diberi makan ternak.Baca juga: Arkeolog Temukan Pelabuhan Mesir Kuno, Diklaim Jadi Petunjuk Kuat Temukan Makam CleopatraOrang-orang yang bertugas merawat singa-singa tersebut, yang disebut sebagai 'gembala singa' tertulis mendapatkan jatah makanan berupa roti dan bir.Tablet-tablet kuno itu juga menyebut keberadaan sebuah kuil yang dipersembahkan kepada Enki, dewa kebijaksanaan, yang kerap menjadi lokasi penyelenggaraan festival keagamaan.Para ahli menduga  bahwa Irisagrig ditemukan dan dijarah oleh perampok artefak pada masa invasi AS ke Irak.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Pendekatan “heritage meets modern” tersebut akan menjadi salah satu strategi utama Bata ke depan. Bata, kata Panos, ingin menghidupkan identitas lama yang disukai generasi sebelumnya, tetapi dihadirkan dengan desain yang sesuai selera generasi baru.Transformasi tidak hanya terjadi pada produk, tetapi juga pada retail experience. Laporan Tahunan 2024 menyebut bahwa seluruh toko Bata kini mengadopsi konsep modern-minimalis Red 2.0.Namun, bagi Panos, esensi modernisasi toko bukan sekadar tampil fashionable.“Bagi saya yang penting adalah membuat belanja lebih mudah dengan cara yang sangat sederhana,” ungkapnya. Ia membayangkan toko Bata sebagai ruang yang tidak berantakan, produk yang terkurasi jelas, dapat memandu konsumen tanpa membuat mereka bingung, serta menampilkan fokus utama pada produk.“Kami akan menaruh usaha lebih besar pada produk dan membimbing konsumen ke produk itu, product first,” katanya.Baca juga: Bukan Merek Lokal, Ini Sosok Pendiri Sepatu BataLaporan tahunan 2024 juga menunjukkan penguatan digital Bata secara signifikan, mulai dari integrasi pembayaran digital (Gopay, ShopeePay, OctoPay, Visa Contactless), kolaborasi dengan key opinion leader (KOL), serta penguatan Bata Club sebagai program loyalitas.Upaya itu sejalan dengan visi Panos untuk membawa Bata lebih dekat ke generasi muda Indonesia. Apalagi, generasi ini berbelanja secara omnichannel dan peka terhadap brand yang punya nilai jelas.Panos menilai, generasi muda juga punya kepekaan terkait asal-usul produk. Menurutnya, konsumen masa kini memperhatikan bagaimana sepatu dibuat, mulai dari aspek keberlanjutan (sustainability), lokasi pembuatan produk, hingga siapa yang mengerjakannya.Bata Indonesia sendiri telah melakukan sejumlah langkah keberlanjutan nyata, seperti optimalisasi konsumsi energi, efisiensi rantai pasok, penggunaan teknologi hemat energi, dan tata kelola material yang lebih baik.“Sustainability bukan sesuatu yang kamu pasarkan. Sustainability adalah sesuatu yang kamu jalani dan kamu wujudkan setiap hari,” tegasnya.Upaya modernisasi Bata, mulai dari kurasi produk, perbaikan toko, hingga penguatan kanal digital, pada akhirnya kembali pada satu tujuan, yakni menjawab kebutuhan konsumen Indonesia hari ini. Setelah melewati masa restrukturisasi, Bata ingin memastikan bahwa setiap langkah transformasi benar-benar berangkat dari pemahaman terhadap perilaku dan ekspektasi masyarakat Indonesia yang terus berkembang.Di sinilah Panos melihat kekuatan besar yang dimiliki Bata selama puluhan tahun di Indonesia, yaitu hubungan emosional yang terbangun secara alami dengan konsumennya.Baca juga: Sepatu Bata, Sering Dikira Produk Lokal Ternyata Berasal dari Ceko“Konsumen Indonesia sangat loyal. Jauh lebih loyal jika dibandingkan banyak konsumen lain di dunia,” kata Panos.Namun, ia mengingatkan bahwa loyalitas bukan sesuatu yang bisa dianggap pasti. “Kami harus relevan untuk konsumen hari ini, lebih terhubung dengan audiens muda, dan membawa mereka kembali masuk ke Bata,” tuturnya. Upaya untuk kembali relevan di mata konsumen tidak bisa berdiri sendiri. Menurut Panos, transformasi Bata hanya bisa berjalan jika dukungan internal juga kuat dan keyakinan dari orang-orang yang bekerja di baliknya.“Setelah Covid, keyakinan itu selalu turun. Padahal, kepercayaan internal itu sangat penting,” katanya.Maka dari itu, Panos ingin seluruh tim melihat arah baru Bata sebagai momentum untuk bangkit bersama.“Kami akan membutuhkan lebih banyak karyawan untuk berkembang dan menjadi lebih kuat di Indonesia,” katanya.Dengan fondasi internal yang diperkuat dan strategi baru yang mulai berjalan, Panos memandang masa depan Bata di Indonesia dengan keyakinan yang besar. Baginya, transformasi yang sedang dilakukan tidak hanya soal restrukturisasi, modernisasi produk, atau pembaruan toko, tetapi juga membangun hubungan yang lebih bermakna dengan konsumen.“Saya berharap ketika datang lagi ke sini, saya bisa merasa bangga terhadap Bata. Bangga melihat Bata tersedia untuk konsumen yang lebih luas, melihat pelanggan datang ke Bata dan bisa merasakan mereka menyukainya,” harapnya.Baca juga: Sejarah Sepatu Bata, Merek Eropa yang Sering Dikira dari IndonesiaIa juga menginginkan pertumbuhan yang tidak hanya tecermin dalam penjualan atau jumlah toko, tetapi juga dalam cara masyarakat Indonesia memaknai kehadiran Bata setelah lebih dari 90 tahun berada di tengah mereka.“Saya ingin Bata berarti sesuatu bagi Indonesia serta berkata, ‘Saya tumbuh bersama Bata. Bata adalah perusahaan lokal sekaligus global dan Bata mengerti saya’,” katanya. Panos melihat Indonesia bukan sekadar pasar besar, melainkan rumah penting bagi perjalanan panjang Bata. Dengan arah baru, strategi yang lebih fokus, dan loyalitas konsumen yang kuat, ia yakin Bata akan kembali menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia untuk waktu yang lama.

| 2026-01-13 07:08