JAKARTA, - Sejumlah warga kolong, sebutan untuk orang-orang yang hidup di jalanan, di Jalan Latuharhary, Menteng, Jakarta Pusat, mencoba terus bertahan tinggal di tepi rel kereta dan trotoar sempit meski sudah berulang kali ditertibkan aparat.Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Jakarta Selatan, Nanto Dwi Subekti, menegaskan, keberadaan warga kolong terus dipantau melalui patroli rutin.“Saat ini kita hanya penjangkauan atau patroli rutin. Kalau ada yang bandel baru kita lakukan penertiban. Kalau kedapatan saat operasi PMKS, kita kirim ke panti sosial,” ujarnya saat dihubungi, Jumat .Baca juga: Lapis Kedua Menteng, Warga Kolong Tinggal di Trotoar dan Tepi Rel KeretaNanto menambahkan, pihaknya rutin melakukan patroli melalui pendekatan yang humanis dan disesuaikan dengan kondisi di lapangan.“Kalau patroli rutin tiap hari. Kalau hambatan selama ini belum ada, hanya harus rajin di patroli saja,” kata dia./Lidia Pratama Febrian Potret Trotoar dan Tepi Rel Jadi Rumah Sementara Warga Kolong di Menteng?Warga sekitar telah terbiasa melihat aktivitas warga kolong. Ningsih (45), pemilik warung kecil di dekat lintasan rel Jalan Guntur, menyebut bahwa keberadaan mereka bukan hal baru.“Mereka pergi sebentar saat razia, tapi begitu patroli selesai, biasanya balik lagi ke kolong atau trotoar. Kami sudah terbiasa melihat itu,” kata Ningsih.Sementara itu, Riyan (31), pengemudi ojek pangkalan yang mangkal tak jauh dari lintasan rel, merasa kasihan dengan warga kolong.“Kasihan sih, tapi hidup di Jakarta memang harus siap punya duit buat tempat tinggal. Kalau tidak ada alternatif, ya mereka kembali ke trotoar atau kolong. Mereka sudah biasa hidup di jalan,” ucapnya.Sejumlah warga kolong yang ditemui Kompas.com mengungkapkan alasannya tetap bertahan di trotoar dan tepi rel meski sering didatangi aparat.Salah satunya adalah Ale (40), warga asal Bogor, Jawa Barat, yang sudah hampir dua tahun tinggal di tepi rel dekat Latuharhary.“Awalnya cuma numpang lewat, nyari barang bekas. Lama-lama susah, jadi bertahan di sini saja. Uang enggak cukup buat kontrakan. Mau ke mana kalau pergi jauh?” katanya.Baca juga: Menara Saidah, Bayangan Kemegahan yang Terbengkalai di Tengah Megaproyek JakartaSehari-hari Ale mencari botol plastik dan kardus dari kantor serta pasar sekitar untuk dijual kembali.“Kalau ramai, satu gerobak bisa dapat Rp 15.000. Kalau sepi, cuma Rp 7.000,” ujarnya.Sukinem (38), perempuan asal Brebes, Jawa Tengah, menuturkan pengalaman serupa.
(prf/ega)
Patroli Rutin Tak Pernah Buat Warga Kolong Terusir dari Menteng
2026-01-12 07:33:57
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 07:57
| 2026-01-12 07:52
| 2026-01-12 07:17
| 2026-01-12 07:03










































