Ukraina Buka Suara soal Serangan 91 Drone ke Rumah Putin

2026-01-12 16:04:27
Ukraina Buka Suara soal Serangan 91 Drone ke Rumah Putin
KYIV, - Pemerintah Ukraina angkat bicara soal tudingan serangan 91 drone ke salah satu rumah Presiden Rusia Vladimir Putin.Menurut Ukraina, tuduhan itu klaim tanpa dasar yang sengaja dibuat Moskwa untuk menggagalkan proses perdamaian."Hampir sehari telah berlalu dan Rusia masih belum memberikan bukti yang masuk akal atas tuduhan mereka tentang dugaan 'serangan Ukraina terhadap kediaman Putin'," kata Wakil Menteri Luar Negeri Ukraina Andriy Sybiga, melalui unggahan di platform X, Selasa .Baca juga: Rumah Putin Diduga Dibombardir Ukraina, Kyiv Membantah"Dan mereka tidak akan melakukannya karena memang tidak ada. Tidak ada serangan seperti itu yang terjadi," lanjutnya, dikutip dari kantor berita AFP.Sementara itu, Rusia menegaskan bahwa semua drone Ukraina berhasil ditembak jatuh.Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menyebut pernyataan Ukraina dan media Barat yang membantah adanya serangan itu sesuatu yang "gila".Peskov juga menegaskan, Rusia tidak berkewajiban memberikan bukti kepada publik terkait dugaan serangan tersebut.SPUTNIK/MIKHAIL VOSKRESENSKIY via AFP Presiden Rusia Vladimir Putin saat menghadiri pemakaman prajurit yang tewas dalam perang melawan Ukraina, pada misa Natal di gereja Novo-Ogaryovo, luar Moskwa, 7 Januari 2024.Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan bahwa Ukraina meluncurkan puluhan drone ke arah kediaman Putin di wilayah Novgorod.“Sebanyak 91 drone jarak jauh diluncurkan dari Minggu malam hingga Senin dini hari, semuanya berhasil ditembak jatuh oleh sistem pertahanan kami,” kata Lavrov dalam konferensi pers Senin.Ia menuduh Kyiv berubah menjadi rezim teroris, dan mengisyaratkan bahwa posisi negosiasi Rusia dalam proses perdamaian akan dievaluasi ulang.“Mengingat kemerosotan total rezim kriminal Kyiv yang kini mengadopsi kebijakan terorisme negara, posisi negosiasi Rusia akan dipertimbangkan kembali,” ucap Lavrov tanpa menunjukkan bukti atas klaimnya.Baca juga: Trump Murka Rumah Putin Diduga Diserang Ukraina, Sebut Bukan Waktu yang TepatSPUTNIK/ALEXANDER KAZAKOV via AFP Presiden Rusia Vladimir Putin ditemani ajudannya, Yuri Ushakov, dan utusan ekonomi Kirill Dmitriev, bertemu utusan khusus Amerika Serikat Steve Witkoff dan menantu Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Jared Kushner, di Kremlin, Moskwa, 2 Desember 2025.Klaim serangan ini muncul di tengah momen krusial dalam negosiasi damai perang yang telah berlangsung hampir empat tahun.Ukraina telah menyetujui sekitar 90 persen dari rancangan kesepakatan damai yang difasilitasi Amerika Serikat, termasuk soal jaminan keamanan pascaperang.Namun, Moskwa masih enggan menyetujui kesepakatan yang tidak memenuhi tuntutan maksimalis mereka.Menyusul insiden yang dituduhkan ini, Kremlin akan memperkeras posisi mereka dalam negosiasi."Mengenai konsekuensi militer, militer kita tahu bagaimana, dengan apa, dan kapan harus merespons," ujar Dmitry Peskov dalam panggilan telepon kepada wartawan, seperti dikutip kantor berita Pemerintah Rusia.Baca juga: Rusia Tolak Tunjukkan Bukti Serangan Drone Ukraine ke Rumah Putin


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-12 16:25