3 Ancaman Digital yang Paling Mengintai Anak dan Perempuan

2026-01-12 07:10:05
3 Ancaman Digital yang Paling Mengintai Anak dan Perempuan
JAKARTA, - Luasnya penggunaan teknologi berpotensi meningkatkan kekerasan berbasis gender online (KBGO). Kasus terbanyak berupa penyebaran konten intim hingga pemerasan seksual dengan target perempuan dan anak.Direktur Eksekutif SAFENET, Nenden Sekar Arum memaparkan tiga bentuk ancaman digital yang paling sering dialami perempuan dan anak, serta dampak berlapis yang menyertainya.Nenden menekankan, ancaman digital yang dialami perempuan dan anak tidak hanya menimbulkan tekanan psikologis, tetapi juga dapat berlanjut pada kekerasan fisik dan kerugian finansial.Baca juga: Data Komnas Perempuan Ungkap Pelaku KBGO, Terbanyak Mantan PacarBerikut tiga ancaman digital yang paling mengintai perempuan dan anak.1. Ancaman penyebaran konten intimNenden menyebut ancaman penyebaran konten intim sebagai salah satu kekerasan digital yang memiliki dampak paling besar bagi korban.Ancaman ini tidak hanya menghantui psikologis seseorang, tetapi juga dapat memengaruhi kehidupan sosial, ekonomi, hingga rasa aman korban dalam jangka panjang.“Hal ini cukup besar dampaknya, tidak hanya dalam konteks psikologis, tetapi ancaman itu sangat besar efeknya terhadap korban,” ungkapnya dalam Diskusi Kolaboratif DFAT: Dukung Penguatan Keamanan Digital bagi Perempuan dan Anak, yang digelar di Jakarta Pusat, Rabu .Baca juga: Apa Itu Penyebaran Konten Intim Non-konsensual?Ia menjelaskan, di Indonesia, stigma dan budaya menyalahkan korban menjadi masalah serius yang memperparah keadaan.Alih-alih mendapatkan dukungan, banyak korban justru mendapatkan kritik atau dianggap bersalah.“Di Indonesia, sudah jadi korban kekerasan seksual tapi masyarakat masih saja victim blaming dengan bilang ‘Siapa suruh membagikan konten intim ke orang lain’,” ujarnya.Kondisi ini membuat banyak korban enggan melapor, takut mendapat tekanan sosial, atau semakin terpuruk akibat komentar-komentar yang menyudutkan.Padahal, pelaku yang seharusnya dimintai pertanggungjawaban atas aksi penyebaran maupun ancaman penyebaran konten pribadi.Baca juga: Nyalakan Terang dari Serang hingga Kupang: Hana dan Tata Bergerak Lindungi Anak dari Kekerasan Seksual/DEVI PATTRICIA Diskusi Kolaboratif Program DFAT, Kemitraan Australia–Indonesia: INOVASI, INKLUSI, KONEKSI, dan SKALA yang bertemakan Dukung Penguatan Keamanan Digital bagi Perempuan dan Anak, yang digelar di Jakarta Pusat, Rabu 2. Konten intim yang sudah disebarkanAncaman selanjutnya adalah ketika konten intim korban sudah disebarkan. Dalam situasi ini, dampak yang dirasakan korban menjadi berlapis.


(prf/ega)