Resonansi Budaya Indonesia dan Korea Selatan di Balik Karya Sinema

2026-01-17 00:23:54
Resonansi Budaya Indonesia dan Korea Selatan di Balik Karya Sinema
Film Exhuma menjadi salah satu karya sinema Korea Selatan yang meraih sukses besar di pasar Indonesia. Faktor resonansi budaya dinilai menjadi pendorong jutaan masyarakat Indonesia menonton film tersebut.Hal itu disampaikan oleh Chief Marketing Officer CGV Indonesia, Ssun Kim, dalam acara diskusi yang diselenggarakan oleh Foreign Policy Community Indonesia (FPCI) bekerja sama dengan The Korea Foundation dalam program Indonesian Next Generation Journalist Network on Korea 2025 di Jakarta beberapa waktu lalu.Ssun menyampaikan film Exhuma meraih 2,6 juta penonton di Indonesia. Atas kesuksesannya itu, jurnalis-jurnalis dari Korea dikirim ke Indonesia untuk mencari tahu alasan di balik pencapaian film tersebut."Jadi dari film Exhuma ini, budaya yang keluar dari filmnya itu sangat mempunyai resonansi atas budaya yang ada di Indonesia," kata Ssun berbicara dalam bahasa Korea yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.Ssun menyampaikan film Exhuma memiliki keterkaitan karena penonton Indonesia menyukai film horor. Selain itu, ada unsur budaya di Korea juga yang relevan dengan budaya di Indonesia."Dan juga di film ini untuk pemakamannya itu kan nggak pakai kremasi, yaitu ceritanya itu mengenai dikubur. Nah, itu juga sangat resonate sama orang-orang di Indonesia yang biasanya kalau misalnya emang ada yang meninggal itu, kebanyakan dari orang-orang yang dari agama Muslim itu pasti kan enggak boleh dikremasi, bolehnya itu adalah dikubur," ujar Ssun.Ssun kemudian membuka diskusi kepada para peserta yang hadir dalam acara itu untuk menyampaikan pendapatnya tentang alasan di balik keberhasilan film Exhuma di Indonesia. Muncul pendapat bahwa memang ada kesamaan budaya yang kemudian mendorong penonton Indonesia menyaksikan film tersebut. Selain itu, sejarah mengenai kolonialisasi Jepang di Korea juga menjadi unsur penting.Dari berbagai pendapat itu, Ssun menyimpulkan bahwa memang ada kemiripan budaya di Indonesia dan Korea yang tercermin dalam film Exhuma. Di sisi lain, ada kesamaan selera soal film horor yang mengangkat dari cerita-cerita yang berkembang di masyarakat."Nah ini adalah aspek-aspek yang ada, sebuah koneksi dari film Korea juga dan ada di film Indonesia juga," ujar dia.Dikutip dari detikPop, film Exhuma menorehkan sejumlah prestasi di ajang penghargaan film internasional, salah satunya di Spanyol. Exhuma dianugerahkan Special Jury Award di Sitges Film Festival.Tak hanya itu, Exhuma juga sebelumnya menerima penghargaan lain yaitu empat piala di kategori film Baeksang Arts Awards, masing-masing untuk Best Director, Best Actress (Kim Go Eun), Best New Actor (Lee Do Hyun) dan Technical Award (Sound) untuk Kim Byung In.Tayang perdana di Korea Selatan pada Februari 2024, Exhuma langsung masuk jajaran film layar lebar paling sukses di negara asalnya. Sampai film ini turun dari layar bioskop tercatat sudah 12 juta penonton menyaksikannya.Film thriller misteri yang juga laris di bioskop Indonesia ini bercerita tentang dua orang dukun muda yang direkrut oleh keluarga kaya untuk menyelamatkan jiwa mereka dari sosok arwah leluhur. Kedua dukun tersebut bekerja sama dengan ahli bedah mayat dan orang pintar lainnya untuk menggali sebuah makam leluhur yang berlokasi di desa terpencil di Korea.Dalam kesempatan itu, Chief Marketing Officer CGV Indonesia, Ssun Kim, juga menjelaskan alasan film-film dari Korea Selatan menyasar pasar Indonesia. Pertama, Indonesia memiliki populasi yang sangat besar."Indonesia memiliki populasi yang sangat besar dan demografi muda. Anda tahu populasi Indonesia mencapai lebih dari 286 juta. Itu berarti ini adalah populasi terbesar keempat di dunia," ujar dia.Indonesia juga, kata Ssun, mempunyai pertumbuhan pesat dalam konektivitas internet. Pengguna internet di Indonesia bahkan mencapai 230 juta atau sekitar 80,5% dari populasi Indonesia."Berdasarkan populasi itu, lebih dari 80% penduduk bisa menggunakan internet. Itu angka yang sangat besar dibandingkan negara lain," imbuh Ssun.Faktor lainnya yaitu Indonesia dianggap sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan yang cukup pesat. Indonesia dinilai sebagai negara paling potensial untuk peningkatan daya beli."Dari segi pendapatan, lebih banyak orang mampu membeli layanan berbasis langganan, khususnya OTT. Dan juga tiket bioskop serta hiburan," kata Ssun.Terakhir, kata Ssun, Indonesia memiliki karakter audiens online yang besar dan sangat terlibat. Banyaknya generasi milenial dan generasi Z yang membagikan konten di media sosial menjadi faktor daya tarik."Banyak dari mereka mengonsumsi, membagikan, dan mendiskusikan konten media. Jadi ini adalah proporsi yang sangat, sangat aktif di pasar Indonesia," kata Ssun.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Pendekatan “heritage meets modern” tersebut akan menjadi salah satu strategi utama Bata ke depan. Bata, kata Panos, ingin menghidupkan identitas lama yang disukai generasi sebelumnya, tetapi dihadirkan dengan desain yang sesuai selera generasi baru.Transformasi tidak hanya terjadi pada produk, tetapi juga pada retail experience. Laporan Tahunan 2024 menyebut bahwa seluruh toko Bata kini mengadopsi konsep modern-minimalis Red 2.0.Namun, bagi Panos, esensi modernisasi toko bukan sekadar tampil fashionable.“Bagi saya yang penting adalah membuat belanja lebih mudah dengan cara yang sangat sederhana,” ungkapnya. Ia membayangkan toko Bata sebagai ruang yang tidak berantakan, produk yang terkurasi jelas, dapat memandu konsumen tanpa membuat mereka bingung, serta menampilkan fokus utama pada produk.“Kami akan menaruh usaha lebih besar pada produk dan membimbing konsumen ke produk itu, product first,” katanya.Baca juga: Bukan Merek Lokal, Ini Sosok Pendiri Sepatu BataLaporan tahunan 2024 juga menunjukkan penguatan digital Bata secara signifikan, mulai dari integrasi pembayaran digital (Gopay, ShopeePay, OctoPay, Visa Contactless), kolaborasi dengan key opinion leader (KOL), serta penguatan Bata Club sebagai program loyalitas.Upaya itu sejalan dengan visi Panos untuk membawa Bata lebih dekat ke generasi muda Indonesia. Apalagi, generasi ini berbelanja secara omnichannel dan peka terhadap brand yang punya nilai jelas.Panos menilai, generasi muda juga punya kepekaan terkait asal-usul produk. Menurutnya, konsumen masa kini memperhatikan bagaimana sepatu dibuat, mulai dari aspek keberlanjutan (sustainability), lokasi pembuatan produk, hingga siapa yang mengerjakannya.Bata Indonesia sendiri telah melakukan sejumlah langkah keberlanjutan nyata, seperti optimalisasi konsumsi energi, efisiensi rantai pasok, penggunaan teknologi hemat energi, dan tata kelola material yang lebih baik.“Sustainability bukan sesuatu yang kamu pasarkan. Sustainability adalah sesuatu yang kamu jalani dan kamu wujudkan setiap hari,” tegasnya.Upaya modernisasi Bata, mulai dari kurasi produk, perbaikan toko, hingga penguatan kanal digital, pada akhirnya kembali pada satu tujuan, yakni menjawab kebutuhan konsumen Indonesia hari ini. Setelah melewati masa restrukturisasi, Bata ingin memastikan bahwa setiap langkah transformasi benar-benar berangkat dari pemahaman terhadap perilaku dan ekspektasi masyarakat Indonesia yang terus berkembang.Di sinilah Panos melihat kekuatan besar yang dimiliki Bata selama puluhan tahun di Indonesia, yaitu hubungan emosional yang terbangun secara alami dengan konsumennya.Baca juga: Sepatu Bata, Sering Dikira Produk Lokal Ternyata Berasal dari Ceko“Konsumen Indonesia sangat loyal. Jauh lebih loyal jika dibandingkan banyak konsumen lain di dunia,” kata Panos.Namun, ia mengingatkan bahwa loyalitas bukan sesuatu yang bisa dianggap pasti. “Kami harus relevan untuk konsumen hari ini, lebih terhubung dengan audiens muda, dan membawa mereka kembali masuk ke Bata,” tuturnya. Upaya untuk kembali relevan di mata konsumen tidak bisa berdiri sendiri. Menurut Panos, transformasi Bata hanya bisa berjalan jika dukungan internal juga kuat dan keyakinan dari orang-orang yang bekerja di baliknya.“Setelah Covid, keyakinan itu selalu turun. Padahal, kepercayaan internal itu sangat penting,” katanya.Maka dari itu, Panos ingin seluruh tim melihat arah baru Bata sebagai momentum untuk bangkit bersama.“Kami akan membutuhkan lebih banyak karyawan untuk berkembang dan menjadi lebih kuat di Indonesia,” katanya.Dengan fondasi internal yang diperkuat dan strategi baru yang mulai berjalan, Panos memandang masa depan Bata di Indonesia dengan keyakinan yang besar. Baginya, transformasi yang sedang dilakukan tidak hanya soal restrukturisasi, modernisasi produk, atau pembaruan toko, tetapi juga membangun hubungan yang lebih bermakna dengan konsumen.“Saya berharap ketika datang lagi ke sini, saya bisa merasa bangga terhadap Bata. Bangga melihat Bata tersedia untuk konsumen yang lebih luas, melihat pelanggan datang ke Bata dan bisa merasakan mereka menyukainya,” harapnya.Baca juga: Sejarah Sepatu Bata, Merek Eropa yang Sering Dikira dari IndonesiaIa juga menginginkan pertumbuhan yang tidak hanya tecermin dalam penjualan atau jumlah toko, tetapi juga dalam cara masyarakat Indonesia memaknai kehadiran Bata setelah lebih dari 90 tahun berada di tengah mereka.“Saya ingin Bata berarti sesuatu bagi Indonesia serta berkata, ‘Saya tumbuh bersama Bata. Bata adalah perusahaan lokal sekaligus global dan Bata mengerti saya’,” katanya. Panos melihat Indonesia bukan sekadar pasar besar, melainkan rumah penting bagi perjalanan panjang Bata. Dengan arah baru, strategi yang lebih fokus, dan loyalitas konsumen yang kuat, ia yakin Bata akan kembali menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia untuk waktu yang lama.

| 2026-01-16 23:13