SURABAYA, – Upaya memperkuat deteksi dini kanker di Indonesia mendapat dorongan baru dari Sidoarjo. Di wilayah ini, produksi radioisotop dan radiofarmaka mulai dilakukan untuk menunjang layanan diagnosis kanker berbasis teknologi pencitraan medis tingkat lanjut.Radioisotop dan radiofarmaka, khususnya Fluorodeoxyglucose (FDG), diproduksi PT Kalbe Farma Tbk (IDX: KLBF) atau Kalbe melalui anak usahanya, PT Global Onkolab Farma (GOF). Fasilitas di Sidoarjo menjadi rumah produksi kedua setelah Jakarta.“Yang mana kita tahu bahwa penyakit kanker makin parah dan berkembang. Sesuai dengan Kementerian Kesehatan, ini menjadi bagian penting bagi kita sebagai anak bangsa untuk membuka support dalam penyediaan FDG,” kata Direktur PT Kalbe Farma Tbk Mulia Lie, Senin .Baca juga: Cegah Kasus Cikande Cs-137, BPOM dan Bapeten Awasi Produksi Radioisotop di Kalbe Sidoarjo Kalbe Farma membukukan laba bersih sebesar Rp 2,63 triliun per kuartal III-2025. Angka ini naik 10,63 persen secara tahunan (year-on-year/Yoy) dari Rp 2,37 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.Produksi FDG ini ditujukan untuk menunjang layanan pemeriksaan Positron Emission Tomography and Computed Tomography Scanning (PET/CT-Scan) di rumah sakit. Pemeriksaan PET/CT-Scan merupakan teknologi pencitraan medis yang memberikan gambaran detail mengenai fungsi organ dan sistem tubuh, terutama untuk mendeteksi kanker sejak dini.Ketersediaan radiofarmaka di dalam negeri, khususnya FDG yang telah tersertifikasi, selama ini masih terbatas. Kondisi tersebut membuat pengembangan fasilitas produksi menjadi krusial, mengingat layanan PET/CT-Scan sangat bergantung pada pasokan radiofarmaka yang stabil dan cepat.Jawa Timur dinilai memiliki posisi strategis sebagai pusat distribusi untuk mendukung kebutuhan rumah sakit di wilayah Indonesia Timur, mulai dari Bali, Sulawesi, hingga Nusa Tenggara Timur. Faktor jarak dan waktu menjadi pertimbangan utama, mengingat karakter produk radiofarmaka yang sensitif.“Produk ini punya waktu taruh yang pendek sehingga memerlukan pengiriman yang cepat karena itu hanya dua jam. Harapannya cepat menyediakan produk ini ke rumah sakit untuk pemeriksaan deteksi kanker,” jelas Lie.Baca juga: Kalbe Siapkan Strategi 2026, Perkuat Investasi Radiofarmaka hingga Bahan Baku ObatLie memastikan radioisotop dan radiofarmaka yang diproduksi telah mengantongi izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta berada di bawah pengawasan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN).“Memang produk ini vital dan krusial dibutuhkan di Indonesia sehingga proses mendapatkan fasilitas perizinan untuk fasilitas kita bisa dapatkan dalam waktu cepat dan nomor izin edar telah kita dapatkan,” terangnya.Kepala BPOM Taruna Ikrar menegaskan, percepatan perizinan tidak mengurangi standar mutu produk. Seluruh radiofarmaka yang mendapat izin telah melalui pengujian kualitas dan efikasi sesuai standar global.“Percepatan bukan berarti kualitasnya diturunkan karena asal-asalan dan sebagainya. Kita sudah memenuhi standar dengan prosedur cepat,” kata Taruna.Baca juga: Kalbe Sebut Industri Farmasi Tetap Tumbuh Positif di 2025 Meski Banyak TantanganKebutuhan terhadap radioisotop dan radiofarmaka dinilai sejalan dengan tingginya angka kasus kanker di Indonesia. Data yang disampaikan menunjukkan jumlah kasus baru mencapai 433 ribu per tahun, dengan tingkat kematian yang masih tinggi.“Ada tiga juta ahli dan kasus baru ada 433 ribu setiap tahun. Terus kita mengejar karena 60 persen lebih itu meninggal sebelum lima tahun mortality tinggi sekali. Jadi produk ini sangat dibutuhkan,” jelasnya.Direktur Ketahanan Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan Jeffri Ardiyanto berharap kehadiran fasilitas produksi di Sidoarjo dapat memperluas akses layanan kesehatan, terutama bagi rumah sakit yang memiliki keterbatasan.“Ini menjawab kemudahan akses. Bayangkan kalau di Jakarta sampai ke Indonesia Timur di Surabaya. Jadi tidak hanya berkualitas tapi mudah diakses,” ujar Jeffri.Kementerian Kesehatan RI mendorong percepatan produksi dan distribusi radiofarmaka sebagai bagian dari program nasional untuk menekan angka kematian akibat kanker di Indonesia.Baca juga: Kalbe Farma Catat Laba Rp 2,63 Triliun per Kuartal III-2025
(prf/ega)
Dari Sidoarjo, Kalbe Perkuat Deteksi Dini Kanker Nasional
2026-01-12 15:43:06
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 15:02
| 2026-01-12 14:55
| 2026-01-12 14:33
| 2026-01-12 13:38










































