Produksi Lokal Naik, Mobil Hybrid Dinilai Perlu Insentif Tambahan

2026-01-12 10:55:59
Produksi Lokal Naik, Mobil Hybrid Dinilai Perlu Insentif Tambahan
JAKARTA, - Pemerintah dinilai perlu melanjutkan sekaligus memperkuat insentif bagi mobil hybrid electric vehicle (HEV) yang diproduksi di dalam negeri, khususnya yang memiliki tingkat komponen dalam negeri (TKDN) tinggi. Langkah tersebut dinilai penting untuk mendorong pengembangan industri otomotif ramah lingkungan di Indonesia. Penilaian itu sejalan dengan langkah Kementerian Perindustrian (Kemenperin) yang tengah merancang usulan insentif bagi industri otomotif yang memiliki multiplier effect besar terhadap perekonomian nasional.Baca juga: Hyundai Tetap Produksi Baterai, Meski LG Tarik Diri dari Proyek RIKompas.com/Donny Hyundai Discovery Trip, kunjungan ke pabrik Hyundai IndonesiaPeneliti Senior Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) Riyanto menilai, kebijakan insentif untuk kendaraan hybrid saat ini belum seimbang dibandingkan mobil listrik murni (BEV). Saat ini nilai insentif untuk mobil hybrid hanya 3 persen, sedangkan mobil listrik murni sebesar 10 persen. "Segmen ini perlu diberikan kebijakan yang lebih fair dengan basis reduksi emisi dan TKDN. Insentif untuk HEV saat ini belum fair," ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa . Menurut Riyanto, dorongan terhadap insentif kendaraan hybrid juga menjadi relevan karena semakin banyak pabrikan yang kini telah memproduksi kendaraan hybrid secara lokal.Baca juga: Hyundai Gelontorkan Rp 22,5 Triliun untuk Bangun Pabrik Baterai di RI Seperti Honda yang merakit HR-V e:HEV di pabriknya di Karawang, dan Wuling Indonesia memproduksi Almaz Hybrid di Bekasi. Lalu ada Toyota Indonesia yang baru meluncurkan New Toyota Veloz HEV yang diproduksi secara lokal di pabrik Karawang, Jawa Barat dengan TKDN lebih dari 80 persen.


(prf/ega)