Reformasi Komunikasi Strategis Polri

2026-01-12 03:37:23
Reformasi Komunikasi Strategis Polri
BUKAN kali pertama Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo ‘dimarahi’ oleh presiden mengenai kinerja polisi.Mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi), dalam pengarahan selama 15 menit pada 14 Oktober 2022, kepada pejabat POLRI se-Indonesia, mengkritik “jelimet”-nya visi Presisi (prediktif, responsibilitas, transparansi, berkeadilan) untuk dipahami, apalagi dilaksanakan dengan baik dan benar.“Visi Presisi Kapolri. Saya minta juga tidak usah jelimet-jelimet. Tolong disederhanakan, sehingga di bawah itu mengerti apa yang harus dijalankan. Apa sih kalau disederhanakan? POLRI sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat,” ujar Jokowi.“Intinya tuh ke sana. Presisi-nya tuh apa. Sekali lagi, secara sederhana dan jelas,” lanjutnya.Keresahan Jokowi itu beralasan. Visi Presisi Kapolri Listyo memiliki 16 program utama, penuh jargon, istilah-istilah yang mengerutkan dahi, sulit untuk diingat oleh manusia pada umumnya.Enam belas program itu adalah Penataan Kelembagaan, Perubahan Sistem dan Metode Organisasi, Menjadikan SDM Polri yang Unggul di Era Police 4.0., Perubahan Teknologi Kepolisian Modern di Era Police 4.0., Pemantapan Kinerja Pemeliharaan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat, Peningkatan Kinerja Penegakan Hukum, Pemantapan Dukungan Polri Dalam Penanganan Covid-19.Baca juga: Patuhi Putusan MK, Hentikan Pembelokan Tafsir Pemulihan Ekonomi Nasional, Menjamin Keamanan Program Prioritas Nasional, Penguatan Penanganan Konflik Sosial, Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik Polri, Mewujudkan Pelayanan Publik Polri yang Terintegrasi, Pemantapan Komunikasi Publik, Pengawasan Pimpinan Dalam Setiap Kegiatan, Penguatan Fungsi Pengawasan, Pengawasan Oleh Masyarakat Pencari Keadilan (Public Complaint).Berapa banyak polisi yang paham mengenai konsep “Police 4.0”? Jika visi di hulu sudah rumit, maka kita tidak bisa berharap pelaksanaan tugas dan fungsi Polri di hilir bisa harmonis.Profesor Paul Argenti dari Tuck School at Dartmouth University mengatakan, kerumitan, ukuran, dan jangkauan institusi besar semakin meningkat dalam beberapa dekade terakhir.Menurut Paul, para pemimpin harus dapat menjalankan komunikasi secara jelas dan terus menerus mempromosikan tujuan strategis institusi kepada seluruh anggota tim.Salah satu kisah sukses mengkomunikasikan tujuan strategis institusi adalah ketika pada tahun 1962, Presiden John F. Kennedy mengunjungi kantor National Aeronautical and Space Administration (NASA) di Florida, Amerika Serikat.Saat melakukan tur di kantor NASA, Presiden Kennedy berhenti dan mengobrol dengan seorang petugas kebersihan dan bertanya, “Apa tugas pekerjaan Anda di NASA?”Petugas kebersihan menjawab, “Pak Presiden, tugas saya adalah membantu mendaratkan manusia di bulan.”Refleksi jawaban yang mengandung tujuan strategis yang berhasil ditularkan dari hulu dan diserap di hilir. Sederhana, jelas, dan kuat.Kata-kata dan bahasa tidak seharusnya menjadi tembok, melainkan jembatan. Seringkali, persoalannya bukan di kecerdasan, tapi pemilihan bahasa yang kita gunakan untuk bisa mudah saling memahami, sehingga bergerak dalam harmoni.


(prf/ega)