Tragedi Bondi dan Ilusi Keamanan Absolut

2026-01-12 13:05:57
Tragedi Bondi dan Ilusi Keamanan Absolut
DESEMBER ini, musim liburan di Australia yang biasanya identik dengan sinar matahari dan keceriaan di Pantai Bondi berubah menjadi mimpi buruk.Serangan brutal saat perayaan Hanukkah yang menewaskan 15 orang tidak hanya menghancurkan rasa aman warga Sydney, tetapi juga mengguncang salah satu asumsi paling mendasar dalam kehidupan negara modern: bahwa negara, dengan segala aparaturnya, mampu menjamin keamanan sepenuhnya.Fakta bahwa para pelaku, ayah dan anak, Sajid dan Naveed Akram, sempat menjalani "pelatihan gaya militer" di Mindanao, Filipina, hanya beberapa minggu sebelum serangan, menambah lapisan kompleksitas pada tragedi ini.Publik pun bertanya: Bagaimana mungkin di negara dengan aturan kepemilikan senjata pasca-Port Arthur 1996 yang begitu ketat, dan dengan badan intelijen sekelas ASIO, serangan terencana ini bisa lolos?Jawaban atas pertanyaan ini menyakitkan, tapi perlu diterima: keamanan bukanlah tujuan akhir yang bisa dicapai (destination), melainkan upaya pengejaran tanpa henti (a relentless pursuit).Baca juga: Pelaku Penembakan Bondi Beach Bangun dari Koma, Langsung Diproses HukumSelama puluhan tahun, Australia dipuji dunia sebagai "standar emas" dalam pengendalian senjata api. Namun, tragedi Bondi mengajarkan kita tentang evolusi ancaman.Ketika pintu depan dikunci rapat melalui regulasi domestik, ancaman tidak menghilang; ia hanya mencari jalan masuk lain.Para pelaku memahami bahwa persiapan di dalam negeri Australia terlalu berisiko terendus. Maka, mereka mengeksploitasi celah di kawasan tetangga, yakni wilayah selatan Filipina yang masih bergejolak.Ini membuktikan bahwa keamanan nasional tidak bisa lagi dilihat dalam kotak-kotak perbatasan negara.Upaya Australia mengejar keamanan di Sydney ternyata gagal karena adanya celah keamanan di Mindanao.Dalam konsep security as a pursuit, kita melihat bahwa "pengejaran" ini kini bersifat transnasional. Keamanan Manila dan Canberra saling kait-mengait.Kritik terkeras saat ini diarahkan pada kegagalan intelijen mendeteksi Naveed Akram, yang sebelumnya sudah masuk dalam radar ASIO. Namun, menyalahkan intelijen sebagai satu-satunya penyebab adalah penyederhanaan masalah yang berbahaya.Dalam studi keamanan, kita mengenal konsep residual risk atau risiko sisa. Intelijen bekerja berdasarkan probabilitas dan prioritas.Menuntut tingkat deteksi 100 persen sama artinya dengan menuntut pengawasan totaliter terhadap setiap warga negara, sebuah harga yang tidak ingin dibayar oleh negara demokrasi manapun.Selama kita masih menjunjung privasi dan kebebasan sipil, akan selalu ada celah (gap) di mana radikalisasi terselubung bisa tumbuh.Baca juga: Pelaku Penembakan Bondi Beach Sempat ke Asia Tenggara, Mengaku Warga India


(prf/ega)