YouTube Luncurkan Fitur Batas Waktu Menonton Shorts, Ini Cara Mengaturnya

2026-02-02 16:04:57
YouTube Luncurkan Fitur Batas Waktu Menonton Shorts, Ini Cara Mengaturnya
- YouTube meluncurkan fitur baru yang memungkinkan pengguna menetapkan batas durasi harian untuk menonton Shorts.Peluncuran dilakukan di Jakarta Selatan, Kamis, dengan tujuan memberi kontrol lebih kepada remaja dan orang tua.Fitur ini menambah perlindungan di samping pengingat “Take a Break” dan “Bedtime” yang sudah aktif untuk pengguna di bawah 18 tahun.Langkah ini menjadi bagian dari upaya YouTube untuk memastikan pengalaman menonton yang aman dan sehat bagi pengguna muda.Baca juga: YouTube Rilis 2 Fitur Baru di Indonesia, Penjaga Mental dan Pembatasan Shorts"Hari ini, dengan bangga saya sampaikan bahwa kami meluncurkan fitur baru yang memberi pengguna kendali dan menetapkan batas waktu menonton Shorts," kata Global Head of Healthcare YouTube & Google Health, Garth Graham, seperti dilansir dari Antara.Pengguna dapat menyesuaikan batas harian melalui menu Setelan > Umum > Batas feed Shorts./Bill Clinten Fitur pembatasan waktu menonton Shorts yang baru dirilis YouTube di Indonesia.Pilihan waktu pengingat tersedia dalam 15 menit, 30 menit, 45 menit, 1 jam, dan 2 jam.Setelah batas tercapai, sistem akan memberi notifikasi bahwa feed Shorts dihentikan sementara untuk hari itu.Baca juga: 2 Cara Menghapus History YouTube di HP dan Laptop dengan MudahYouTube berencana mengintegrasikan batas waktu Shorts pada akun yang diawasi (supervised accounts).Dengan fitur ini, orang tua dapat menetapkan batas yang tidak bisa diabaikan oleh remaja.Platform juga meningkatkan perlindungan bagi remaja melalui sistem rekomendasi yang menampilkan video sesuai minat, aman, dan menyenangkan.Urutan video dirancang untuk membatasi konten yang mungkin aman jika sekali ditonton, namun bermasalah jika ditonton berulang kali.Frekuensi munculnya konten bermasalah di seluruh dunia juga akan dikurangi guna mencegah kebiasaan menonton berlebihan.Awalnya, perlindungan hanya mencakup tiga kategori konten. Setelah evaluasi dan konsultasi dengan Youth and Families Advisory Committee, perlindungan diperluas menjadi enam kategori, termasuk konten tentang perbandingan fisik, agresi sosial, dan saran keuangan yang buruk atau tidak realistis.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Secara medis, luka dapat dibedakan berdasarkan seberapa dalam jaringan tubuh yang rusak.Luka superfisial adalah jenis luka yang hanya mengenai sebagian lapisan kulit, seperti goresan atau lecet. Luka jenis ini biasanya tidak terlalu dalam dan dapat sembuh dalam waktu cepat.“Luka superfisial itu yang terputus kontinuitasnya hanya sebagian lapisan kulit,” kata dr. Heri.Berbeda dengan luka superfisial, luka dalam biasanya menembus lapisan kulit hingga mengenai jaringan otot, bahkan tulang. Kondisi ini dapat menyebabkan perdarahan dan risiko infeksi yang lebih tinggi.Umumnya, luka dalam memerlukan penanganan medis segera karena proses penyembuhannya lebih kompleks dibanding luka ringan.“Kalau dia luka dalam, itu tembus dari kulit bisa sampai ke otot. Bahkan kalau traumanya berat, bisa sampai ke tulang,” lanjut dr. Heri.Baca juga: SHUTTERSTOCK/NONGASIMO Beda jenis luka, beda penyebab dan cara penyembuhannya. Memahami jenis luka penting agar penanganannya tepat, simak penjelasan dokter.Selain dari kedalamannya, luka juga dapat dikategorikan berdasarkan waktu penyembuhannya menjadi luka akut dan kronis.Menurut dr. Heri, luka akut adalah luka yang sembuh melalui proses alami tubuh dan biasanya pulih dalam waktu beberapa minggu.“Luka juga bisa diklasifikasikan menurut waktu sembuhnya, itu menjadi luka yang akut dan luka yang kronis,” ucap dr. Heri.“Luka yang akut itu adalah luka yang sembuh dengan proses alamiah, yang seharusnya dia bisa sembuh sekitar empat sampai delapan minggu,” tambahnya.Ketika penyembuhan tidak berjalan semestinya, kategori luka bisa berubah menjadi luka kronis, artinya luka yang mengalami proses sembuh lebih lama.“Kalau proses sembuhnya mengalami gangguan, dia akan menjadi suatu luka yang kronis, yang bisa sampai berminggu-minggu, berbulan-bulan, sampai bertahun-tahun,” ujar dr. Heri.Faktor yang bisa menyebabkan luka menjadi kronis antara lain infeksi, kekebalan tubuh, hingga penyakit penyerta seperti diabetes.

| 2026-02-02 15:51