Jasa Marga Beri Diskon Tol 20 Persen Selama Nataru, Catat Ruasnya

2026-01-12 18:58:18
Jasa Marga Beri Diskon Tol 20 Persen Selama Nataru, Catat Ruasnya
JAKARTA, - PT Jasa Marga Tbk (JSMR) memberikan diskon tarif tol 20 persen di delapan ruas Trans Jawa, Trans Sumatra, dan Sulawesi selama libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru).Kebijakan ini diberlakukan untuk mendukung kelancaran arus lalu lintas sekaligus meringankan beban biaya perjalanan masyarakat saat libur Nataru.Potongan tarif tersebut berlaku di sejumlah ruas strategis yang tersebar di jaringan Trans Jawa, Trans Sumatra, dan Sulawesi, seperti:Baca juga: Pengunjung Puas Nonton D’Masiv di Daihatsu Kumpul Sahabat Bitung 2025Jasa Marga GT Cikampek Utama. Diskon tarif tol Jakarta - Semarang Nataru 2025/2026. Diskon tol Jakarta - Semarang Nataru 2025/2026. Diskon tol Semarang - Jakarta Nataru 2025/2026. Diskon tol Semarang - Jakarta Nataru 2025/2026. Diskon tol Trans Jawa Desember 2025.Direktur Utama Jasa Marga, Rivan A. Purwantono, menyatakan bahwa diskon tarif tol 20 persen di Trans Jawa dan Trans Sumatra diterapkan selama tiga hari, yaitu 22, 23, dan 31 Desember 2025.Sementara untuk Jalan Tol Manado-Bitung, diskon berlaku selama 20 hari, dari 22 Desember 2025 hingga 10 Januari 2026.Baca juga: IRRA 2025 Rampung, Tandai Awal Rally Raid Berskala Nasional di Indonesia“Diskon tarif tol ini berlaku untuk semua golongan kendaraan yang melakukan perjalanan menerus menggunakan kartu tol elektronik. Stimulus ini diharapkan dapat meringankan biaya perjalanan dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Rivan dalam keterangan resmi, Kamis .Dengan persiapan matang dan kolaborasi lintas stakeholder, Jasa Marga optimistis arus perjalanan Nataru 2025/2026 berjalan aman dan lancar.Rivan juga menegaskan, diskon tarif tol 20 persen telah melalui evaluasi agar tidak mengganggu kinerja keuangan perusahaan.Serta mengimbau pengguna tol merencanakan perjalanan dan memanfaatkan aplikasi Travoy untuk memantau lalu lintas, tarif, rest area, hingga kondisi perjalanan.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-12 16:46