Dari Sampah Jadi Nilai Ekonomi, Begini Cara TPS 3R Jalankan Ekonomi Sirkular

2026-01-11 22:22:50
Dari Sampah Jadi Nilai Ekonomi, Begini Cara TPS 3R Jalankan Ekonomi Sirkular
JAKARTA, — Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) kini menjadi ujung tombak penerapan ekonomi sirkular di tingkat komunitas.Fasilitas ini tidak hanya membantu mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA), tetapi juga membuktikan bahwa sampah yang dikelola dengan baik dapat bernilai ekonomi—mulai dari menciptakan lapangan kerja, mendanai operasional secara mandiri, hingga menggerakkan ekonomi lokal.Berdasarkan keterangan World Wildlife Fund for Nature (WWF) Indonesia, pengembangan TPS 3R umumnya dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu bottom-up dan top-down.Baca juga: WWF Ungkap Penyebab Sampah TPS 3R Rawa Badak Berceceran di JalanPendekatan bottom-up lahir dari inisiatif masyarakat. Warga yang memiliki kesadaran terhadap pentingnya pengelolaan sampah mengajukan permohonan pembangunan TPS 3R kepada pemerintah.Setelah disetujui, fasilitas tersebut dikelola oleh Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) yang dibentuk melalui SK Lurah.Adapun pendekatan top-down berasal dari program pemerintah yang dibangun dan dikelola langsung oleh instansi terkait, seperti Dinas Lingkungan Hidup (DLH).Meski bersifat struktural, partisipasi masyarakat tetap penting, terutama dalam memilah sampah dari rumah dan menabung sampah daur ulang ke bank sampah.Dalam sistem bottom-up, TPS 3R menciptakan siklus ekonomi sirkular yang mandiri.Sampah organik diolah menjadi produk bernilai seperti kompos atau pakan maggot, sementara sampah anorganik dipilah dan dijual. Hasil penjualannya menjadi sumber pendapatan untuk membiayai operasional TPS 3R.“Di beberapa daerah, sistem ini bahkan berkembang menjadi BUMDes, memperkuat ekonomi dan kemandirian desa,” ujar WWF Indonesia saat dihubungi Kompas.com, Rabu .Baca juga: Bukan Sekadar Tempat Kumpul Sampah, Ini Peran TPS 3R di Rawa Badak UtaraSementara itu, pada pendekatan top-down, TPS 3R dibangun dan dikelola langsung oleh instansi pemerintah. Peran masyarakat difokuskan pada pemilahan sampah dari rumah tangga serta partisipasi dalam bank sampah.Sampah yang tidak terkelola di tingkat rumah tangga kemudian dikirim ke TPS 3R untuk diolah lebih lanjut.WWF Indonesia mencontohkan penerapan pendekatan ini di TPS 3R Rawa Badak Utara, Jakarta Utara, yang dikelola oleh DLH DKI Jakarta.Hasil pengelolaan tersebut kemudian diadministrasikan melalui Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) dan dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk peningkatan layanan dan fasilitas lingkungan.“Sampah yang masuk ke hanggar dipilah dan material daur ulang dijual ke pengepul. Untuk sampah yang tidak bisa didaur ulang atau residu, akan menjadi bahan baku di Refuse-Derived Fuel (RDF) Rorotan,” ungkap WWF Indonesia.Baca juga: TPS Rawa Badak Direvitalisasi, Sampah Justru Menumpuk ke JalanWWF Indonesia menegaskan, pengelolaan sampah merupakan bagian dari pelayanan publik, bukan kegiatan yang berorientasi pada keuntungan.Upaya ini ditujukan untuk menjaga kebersihan, kesehatan, serta kelestarian lingkungan secara berkelanjutan.“Edukasi tentang pengurangan sampah, pelatihan pengolahan organik, dan penguatan kelembagaan lokal sangat penting agar sistem TPS 3R dapat berjalan berkelanjutan,” jelas WWF Indonesia.


(prf/ega)