Masuki Potensi Bencana Hidrometeorologi, Pemkab Kulon Progo Siagakan Alat Berat

2026-01-17 07:40:47
Masuki Potensi Bencana Hidrometeorologi, Pemkab Kulon Progo Siagakan Alat Berat
- Menjelang puncak musim hujan, Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, sebelumnya sudah mengumumkan status Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi.Dalam berita tertulis kantor Dinas Kominfo Kulon Progo, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulon Progo, Setiawan Tri Widada, menegaskan pemerintah “siaga penuh”.Pasalnya, dari hasil assessment lapangan, setelah status siaga darurat ditetapkan, dengan opsi peningkatan bisa menjadi tanggap darurat bila bencana meluas.Langkah ini menindaklanjuti peringatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang memprediksi peningkatan curah hujan pada November–Desember 2025 di hampir seluruh wilayah Indonesia.“Jika kondisi bencana semakin masif, kita akan naikkan menjadi tanggap darurat,” kata Setiawan selagi pemerintah menggelar apel kesiapsiagaan di halaman Polres Kulon Progo, Rabu .Baca juga: Banjir Lahar Gunung Semeru, Tanggul Sepanjang 150 Meter JebolApel ini adalah Apel Kesiapsiagaan Tanggap Bencana Hidrometeorologi yang diikuti personel TNI, Polri, tim SAR dari berbagai unsur, dan relawan.Sejumlah peralatan turut digelar di sana, serta tenda umum, peralatan gotong royong, helm keselamatan, sepatu safety, hingga alat berat ekskavator.Setiawan mengungkapkan, bencana yang terjadi saat ini masih dalam skala kecil, namun tetap menjadi perhatian dan akan terus dilakukan assessment sebagai dasar untuk merencanakan tindakan tanggap darurat lebih lanjut sekaligus memitigasi risiko bencana.Pemerintah menyiapkan anggaran untuk penanganan darurat bencana dari pos Belanja Tak Terduga (BTT) sekitar Rp10 miliar.Kemampuan fiskal daerah ini untuk seluruh kebutuhan tak terduga, termasuk di dalamnya adalah penanganan bencana.Angka itu terlihat kontras dengan risiko bencana yang rutin dihadapi wilayah Kulon Progo setiap tahun, terutama pada musim penghujan, di mana rawan longsor di wilayah perbukitan dan banjir di dataran hingga ancaman gelombang tinggi di kawasan pantai.Sementara itu, Wakil Bupati Kulon Progo, Ambar Purwoko, mendorong kerja sama lintas sektor dalam menghadapi potensi bencana. "Kerjasama ini adalah wujud kepedulian terhadap masyarakat, serta aksi solidaritas untuk melindungi masyarakat," ujar Ambar.Menghadapi potensi bencana, Kapolres Kulon Progo AKBP Wilson Bugner F. Pasaribu menegaskan kesiapan 350 personel kepolisian, ditambah 161 dari unsur TNI, BPBD, Basarnas, dan BMKG.“Apel ini momentum bagi masyarakat untuk waspada dan menyiapkan diri menghadapi potensi bencana,” kata Wilson.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-17 05:59