Gubernur Riau dan Kadis PUPR Terjaring OTT, Pemprov: Kita Tunggu Info Resmi KPK

2026-01-16 05:52:51
Gubernur Riau dan Kadis PUPR Terjaring OTT, Pemprov: Kita Tunggu Info Resmi KPK
PEKANBARU, - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau belum mengetahui siapa saja yang terjaring dalam operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).Informasi yang beredar, ada 10 orang yang diangkut KPK, termasuk Gubernur Riau Abdul Wahid dan Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Riau, M Arief Setiawan.Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik (Kadiskominfotik) Riau, Teza Darsa, mengatakan, pihaknya mendapat informasi hanya Kadis PUPR yang kena OTT."Kemarin informasi yang kami dapat seperti itu. Kami rasa itu benar karena sudah banyak yang memberikan informasi itu," kata Teza saat dihubungi Kompas.com melalui sambungan telepon, Selasa .Baca juga: KPK OTT Gubernur Abdul Wahid, Pemprov Riau: Kami Tahunya Beliau Dimintai KeteranganSementara itu, OTT Gubernur Riau, Abdul Wahid, Teza mengaku belum mengetahui secara pasti.Dia hanya mengetahui Gubernur Riau dimintai keterangan oleh petugas anti rasuah itu."Yang Pak Gubernur Riau ini kami belum pasti karena informasi terakhir kemarin, beliau dimintai keterangan. Kejadian sore menjelang maghrib kemarin. Pengembangan yang sekarang ini kami belum dapat. Kita tunggu press release juga dari KPK," tutup Teza.Sebagaimana diberitakan, KPK melakukan OTT di Riau, Senin .Penangkapan diawali di Kantor Dinas Pekerjaan Umum (PU) Riau.Sedikitnya ada 10 orang yang terjaring, termasuk Gubernur Riau, Abdul Wahid.Namun, sejauh ini belum diketahui secara pasti kasus yang menjerat Gubernur Riau dan pejabat lainnya.Baca juga: Profil Abdul Wahid, Gubernur Riau yang Kena OTT KPK: Baru 8 Bulan Menjabat Informasi terakhir, Abdul Wahid yang juga Ketua DPW PKB Riau saat ini sudah berada di Gedung KPK di Jakarta.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Sekali lagi melihatnya sekali mungkin tidak menjadi tantangan, tetapi melihatnya berkali-kali bisa mendistorsi pandangan anak tentang body image mereka sendiri, ujar Graham.Ada beberapa konten yang dibatasi oleh YouTube untuk dikonsumsi pra-remaja dan remaja secara berulang, salah satunya konten dengan topik yang membahas tentang perbandingan ciri fisik seseorang.Kemudian topik yang mengidealkan beberapa tipe fisik, mengidealkan tingkat kebugaran atau berat badan tertentu, serta menampilkan agresi sosial seperti perkelahian tanpa kontak dan intimidasi.Selanjutnya adalah topik yang menggambarkan remaja sebagai sosok yang kejam dan jahat, atau mendorong remaja untuk mengejek orang lain,menggambarkan kenakalan atau perilaku negatif, dan nasihat keuangan yang tidak realistis atau buruk.Inilah mengapa YouTube bekerja sama dengan pemerintah dan para ahli, dalam hal ini Kemenkomdigi RI, psikolog, dan psikiater.Mereka adalah para panutan yang telah benar-benar mendorong kemajuan tentang bagaimana kita bisa meningkatkan informasi seputar kesehatan mental, ucap Graham.Kompas.com / Nabilla Ramadhian Tampilan fitur Teen Mental Health Shelf di YouTube.Berkaitan dengan kolaborasi tersebut, Graham mengumumkan bahwa pihaknya meluncurkan fitur Teen Mental Health Shelf, yang dirancang khusus untuk membantu menjaga kesehatan mental remaja.Baca juga: Ribuan Iklan Rokok Serbu Youtube, Ruang Anak TerancamIni untuk para remaja di Indonesia yang akan menggunakan platform kami untuk mencari topik-topik sensitif seperti depresi, kecemasan, atau perundungan, jelas Graham.

| 2026-01-16 03:49