Ketika Orang Tua Murid Jadi Pengajar di SD Tarakanita 3

2026-02-04 05:34:00
Ketika Orang Tua Murid Jadi Pengajar di SD Tarakanita 3
- SD Tarakanita 3 kembali melaksanakan program Orang Tua Mengajar sebagai bentuk kolaborasi antara sekolah, peserta didik dan orang tua. Pada kesempatan ini, peserta didik kelas 1 hingga kelas 3 mengikuti kegiatan Belajar Ansambel Sederhana, yang diselenggarakan pada Selasa di lingkungan SD Tarakanita 3 Jakarta Selatan.Kegiatan ini bertujuan mengembangkan pemahaman peserta didik mengenai konsep dasar ansambel serta memperkenalkan variasi bunyi alat musik sederhana. Melalui pendekatan praktik langsung, anak-anak diajak menyadari bahwa musik dapat tercipta dari berbagai jenis instrumen, termasuk media buatan sendiri. Baca juga: Sekolah Tarakanita 3 Gelar Aksi Hijau di Stasiun Palmerah, Ajak Masyarakat Peduli Lapisan OzonHal ini selaras dengan nilai Creativity dan Competence dalam Cc5+ Tarakanita, yakni kemampuan untuk berkreasi serta mengasah keterampilan secara bertanggung jawab dan bermakna. Selain itu, suasana belajar yang kolaboratif turut menghadirkan nilai Community, di mana peserta didik belajar bekerja sama, menghargai peran teman dan menciptakan harmoni bersama.Kegiatan ini dipandu David Putra Pangapulan, orang tua murid kelas 2, yang berprofesi sebagai pengajar musik di salah satu sekolah di Jakarta. Dengan penuh dedikasi, David membagikan pengetahuan mengenai ansambel, jenis-jenis bunyi alat musik, serta cara menghasilkan irama yang teratur dan harmonis.Baca juga: Kesan Siswa Sekolah Tarakanita 3 Usai Nonton Film Anak Kun Ana wa AntaUntuk menunjang proses pembelajaran, setiap jenjang membawa instrumen berbeda:Kegiatan diawali dengan peserta didik yang memasuki area kegiatan dengan berbaris rapi dan duduk dengan tertib, mencerminkan nilai disiplin yang terus dikembangkan di SD Tarakanita 3. Setelah itu, David memberikan materi secara komunikatif dan interaktif. Anak-anak tampak antusias saat diminta mempraktikkan ritme sederhana dan mengeksplorasi bunyi masing-masing instrumen.Pada sesi akhir, seluruh peserta didik berkolaborasi menciptakan sebuah permainan musik ansambel sederhana. Baca juga: Peringati Hari Ozon Internasional, Sekolah Tarakanita 3 Bagikan Ratusan Bibit TanamanKolaborasi ini menjadi momen penting di mana mereka belajar menyatukan bunyi, memahami peran masing-masing, serta menciptakan harmoni yang indah. Antusiasme, tawa dan semangat mereka menjadi bentuk nyata bahwa pembelajaran dapat berlangsung efektif sekaligus menyenangkan. TARAKANITA 3 David Putra Pangapulan, orang tua murid siswa kelas 2 SD Tarakanita mengajar musik dalam program Orang Tua Mengajar di SD Tarakanita 3 Jakarta Selatan, Selasa .Kegiatan ini sangat mendukung nilai-nilai karakter Tarakanita yaitu Compassion, Celebration, dan Competence. 


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Sekali lagi melihatnya sekali mungkin tidak menjadi tantangan, tetapi melihatnya berkali-kali bisa mendistorsi pandangan anak tentang body image mereka sendiri, ujar Graham.Ada beberapa konten yang dibatasi oleh YouTube untuk dikonsumsi pra-remaja dan remaja secara berulang, salah satunya konten dengan topik yang membahas tentang perbandingan ciri fisik seseorang.Kemudian topik yang mengidealkan beberapa tipe fisik, mengidealkan tingkat kebugaran atau berat badan tertentu, serta menampilkan agresi sosial seperti perkelahian tanpa kontak dan intimidasi.Selanjutnya adalah topik yang menggambarkan remaja sebagai sosok yang kejam dan jahat, atau mendorong remaja untuk mengejek orang lain,menggambarkan kenakalan atau perilaku negatif, dan nasihat keuangan yang tidak realistis atau buruk.Inilah mengapa YouTube bekerja sama dengan pemerintah dan para ahli, dalam hal ini Kemenkomdigi RI, psikolog, dan psikiater.Mereka adalah para panutan yang telah benar-benar mendorong kemajuan tentang bagaimana kita bisa meningkatkan informasi seputar kesehatan mental, ucap Graham.Kompas.com / Nabilla Ramadhian Tampilan fitur Teen Mental Health Shelf di YouTube.Berkaitan dengan kolaborasi tersebut, Graham mengumumkan bahwa pihaknya meluncurkan fitur Teen Mental Health Shelf, yang dirancang khusus untuk membantu menjaga kesehatan mental remaja.Baca juga: Ribuan Iklan Rokok Serbu Youtube, Ruang Anak TerancamIni untuk para remaja di Indonesia yang akan menggunakan platform kami untuk mencari topik-topik sensitif seperti depresi, kecemasan, atau perundungan, jelas Graham.

| 2026-02-04 05:01