Project Sunrise: Rekonstruksi Gaza untuk Siapa?

2026-01-12 04:13:55
Project Sunrise: Rekonstruksi Gaza untuk Siapa?
SEJAK kesepakatan gencatan senjata antara Hamas dan Israel yang dimediasi Presiden Donald Trump, 9 Oktober lalu, sejak itu pula pemerintah Gedung Putih Amerika Serikat menyiapkan proyek rencana pembangunan spektakuler jalur Gaza baru yang disebut "Project Sunrise".Project Sunrise merupakan proposal ambisius pemerintahan Trump untuk merevitalisasi Jalur Gaza pascaperang menjadi kawasan metropolis: berteknologi tinggi, resor pantai, kereta cepat, dan pusat bisnis super modern.Gaza yang porak poranda tinggal puing-puing reruntuhan bangunan akibat bombardir Israel sejak 7 Oktober 2023, sudah disiapkan desain gambaran futuristik kota di atas kondisi riil Jalur Gaza saat ini.Dengan tajuk "U.S. Pitches ‘Project Sunrise’ Plan to Turn Gaza Into High-Tech Metropolis", The Wall Sreet Journal, edisi 19 Desember 2025, membuat laporan proyek secara ekslusif mengenai rekonstrusi Gaza pascagencatan senjata.Mega proyek rancangan Jared Kushner dan Steve Witkoff yang diperkirakan membutuhkan dana 112 miliar dollar AS dengan tempo 10–20 tahun itu, ditawarkan ke para Investor.Dalam laporan (WSJ) tersebut, AS di bawah pemerintahan Trump berkomitmen sekitar 60 miliar dollar AS dalam bentuk hibah dan jaminan utang. Sementara sisanya ditawarkan untuk investor asing, utamanya dari negara-negara petro dollar di kawasan Arab Teluk.Baca juga: Di Depan Investor, AS Mau Ubah Gaza Jadi Resor FuturistikMencermati proyek raksasa ini mulai muncul perdebatan pro dan kontra, antara pesimistis dan optimistis dengan sederet pertanyaan.Ada apa di balik megaproyek pembangunan Gaza tersebut? Mengapa Presiden Trump sangat ambisius menyiapkan proyek rekonstruksi Gaza? Bagaimana masa depan rakyat Gaza di tengah bangunan-bangunan pencakar langit berteknologi tinggi tersebut?"Selamat datang di Proyek Sunrise", tawaran pemerintahan Trump kepada pemerintah dan investor asing untuk mengubah reruntuhan Gaza menjadi destinasi wisata pantai yang sangat futuristik.Diberitakan banyak media, tim yang dipimpin Jared Kushner (menantu Trump) dan utusan Timur Tengah Steve Witkoff, dua pilar utama Gedung Putih untuk urusan Timur Tengah menyiapkan draf proposal pembangunan Jalur Gaza selama 45 hari lengkap dengan angka-angka pendanaan dan mekanismenya.Kushner, pengusaha top menjadi tokoh kunci dalam negosiasi genjatan senjata antara Israel dan Hamas bersama Steve Witkoff.Pengalaman Kushner sebagai arsitek kesepakatan Abraham (Abraham Accords) tahun 2020, kini menjadikannya jembatan menuju "Timur Tengah baru", baik versi Trump maupun Netanyahu melalu rekonstruksi Gaza.Sejak gencatan senjata diumumkan, sejak itu pula dua arsitek urusan Timur Tengah ini bergerak memulai desain pembangunan Jalur Gaza untuk mengubah wilayah Palestina yang hancur itu menjadi kota metropolitan penuh gemerlap.Jika proyek ambisius ini terwujud, semakin memperlihatkan kepada dunia bahwa sejak periode pertama pemerintahannya (2017-2021), Presiden Trump memang berambisi untuk mengambil alih jalur Gaza dan membangunnya melalui agenda dan mekanisme berbeda.Agenda pertama melalui "Abraham Accord", yaitu menarik negara-negara kunci di kawasan dan dunia Islam agar melakukan normalisasi hubungan diplomatik dengan Israel bukan untuk perdamaian, apalagi kemerdekaan bagi rakyat Palestina dalam kerangka two state solution, tetapi untuk kepentingan pembangunan ekonomi dan bisnis.


(prf/ega)