Transformasi Pembelian Mobil: Digitalisasi dan Showroom

2026-01-13 14:36:52
Transformasi Pembelian Mobil: Digitalisasi dan Showroom
JAKARTA, – Di tengah arus digitalisasi yang semakin masif, kebiasaan konsumen dalam membeli mobil ikut berubah.Calon pembeli kini mengandalkan internet untuk mencari informasi, membandingkan harga di marketplace otomotif, menonton ulasan di media sosial, hingga melakukan pemesanan awal secara online.Baca juga: Daihatsu YRV: Daya Tarik Unik Dari Pengalaman PemilikKanal digital bahkan mulai menyumbang porsi signifikan pada tahap awal pencarian kendaraan.CEO Auto2000, Anton Jimmy Suwandi, menyebut bahwa kontribusi kanal digital terhadap trafik konsumen terus meningkat setiap tahun.Menurutnya, berbagai platform seperti website, aplikasi, hingga media sosial kini menjadi pintu masuk utama calon pembeli sebelum datang ke diler.“Hampir 10–20 persen itu datangnya dari digital. Digital itu artinya apakah datang ke website, apakah aplikasi, apakah melalui yang lain, ya, YouTube atau Facebook. Itu sudah makin lama makin banyak,” ujar Anton di Tangerang, Sabtu .ilhamkarim/kompas.com Aplikasi Digiroom Auto2000Meski begitu, Anton menegaskan bahwa transaksi pembelian mobil secara penuh melalui kanal digital tetap jarang terjadi.Tidak hanya di Indonesia, pasar global pun belum sepenuhnya siap untuk meninggalkan interaksi tatap muka ketika membeli kendaraan baru.Mobil, menurutnya, adalah produk high involvement yang membutuhkan keyakinan lebih dari konsumen.“Saya rasa sih, di negara manapun sangat jarang yang benar-benar beli mobil full digital. Karena ini high involvement dan bukan investasi murah, jadi tetap ingin lihat mobilnya, touch and feel, test drive, ketemu dengan orangnya,” kata Anton.Baca juga: Kata Chery Soal Rencana Pabriknya di IndonesiaIa menjelaskan bahwa kebutuhan konsumen untuk mengecek langsung kualitas mobil, merasakan ergonomi kabin, hingga mencoba fitur secara nyata menjadikan diler tetap memiliki peran penting.Kanal digital membantu proses awal, tetapi keputusan akhir tetap membutuhkan verifikasi fisik.“Itu kenapa showroom itu tetap perlu ada. Enggak bisa dihilangkan. Tetap perlu ada, ada café shop-nya, bisa nongkrong, ngobrol dulu, diskusi mengenai harga, fitur, dan lain-lain,” ujarnya.Diler modern tak hanya berfungsi sebagai tempat transaksi, tetapi juga ruang konsultasi dan interaksi.Konsumen datang bukan hanya untuk melihat mobil, tetapi juga berdiskusi dengan tenaga penjual mengenai kebutuhan berkendara, paket pembiayaan, hingga layanan purna jual.Fasilitas seperti kafe dan area duduk santai menjadi bagian dari strategi meningkatkan kenyamanan.Dengan semakin terintegrasinya proses digital dan kunjungan fisik, pola pembelian mobil di Indonesia kini bergerak menuju kombinasi dua kanal tersebut.Digital menjadi pintu awal, sementara showroom menjadi titik penentu untuk memastikan keyakinan konsumen sebelum membeli kendaraan.


(prf/ega)