Bupati Ayahwa ke Mendagri: Korban Jiwa Aceh Utara Terbesar di Banjir Sumatera

2026-01-13 14:27:22
Bupati Ayahwa ke Mendagri: Korban Jiwa Aceh Utara Terbesar di Banjir Sumatera
ACEH UTARA, - Bupati Aceh Utara, Ismail A Jalil, yang akrab disapa Ayahwa, melaporkan bahwa korban jiwa akibat banjir di wilayahnya mencapai 215 orang, dengan enam lainnya masih hilang.Angka ini merupakan yang tertinggi di antara wilayah lain di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh.Ayahwa menyampaikan laporan tersebut saat mendampingi Menteri Dalam Negeri (Mendagri) RI, Tito Karnavian, meninjau Desa Gedumbak, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, pada Selasa ."Sekarang sudah 215 orang meninggal dunia, itu jumlah terbesar di seluruh Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Aceh," kata Ayahwa.Baca juga: Bupati Ayahwa Curhat ke Dasco: Seakan Aceh Utara Tidak Ada Bencana, Seakan Pusat Tutup Mata...Mendagri Tito Karnavian menunjukkan keterkejutan atas laporan tersebut dan mengamati kerusakan parah di lokasi.Ayahwa juga menceritakan pengalaman para korban banjir yang harus bertahan di atas atap rumah dan pohon selama empat hari empat malam akibat ketinggian air yang mencapai enam hingga tujuh meter."Anak bapak ini di atas pohon selama empat hari di atas pohon itu," tunjuk Ayahwa.Sang bapak menambahkan bahwa banyak warga meninggal dunia karena ketinggian air tersebut.Baca juga: Bupati Ayahwa: Sepekan Ini Data Kerusakan Banjir Harus Final dan DetailMendagri Tito Karnavian menyatakan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah hadir di lokasi dan akan terus memberikan bantuan secara bertahap untuk Aceh Utara."Kita terus bersama-sama membantu pemulihan Aceh Utara," pungkasnya.Selanjutnya, pada 3 Januari 2026, ratusan praja dari Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) akan dikirim ke Aceh Utara untuk membantu pembersihan lumpur dan mengaktifkan kembali pemerintahan desa.Sebelumnya, banjir yang melanda Kabupaten Aceh Utara pada 26 November 2025 telah merusak ribuan rumah dan fasilitas umum, serta menyebabkan ribuan warga mengungsi.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-13 14:37