Riset: Traffic Bot AI Naik 300 Persen, Jadi Ancaman untuk Bisnis Online

2026-01-30 18:15:35
Riset: Traffic Bot AI Naik 300 Persen, Jadi Ancaman untuk Bisnis Online
– Akamai Technologies merilis laporan terbaru bertajuk State of the Internet (SOTI). Laporan ini mengungkap adanya lonjakan signifikan traffic internet yang didorong oleh bot bertenaga kecerdasan buatan (AI).Lonjakan ini sebagian besar dipicu aktivitas content scraping yang dilakukan bot AI. Aktivitas ini juga dinilai dapat melemahkan bisnis konvensional berbasis web.Penerbit, media, dan perusahaan berbasis konten dilaporkan mengalami penurunan pendapatan iklan akibat bot yang mencomot konten tanpa memberi timbal balik atau imbalan.Berdasarkan Digital Fraud and Abuse Report 2025, aktivitas bot AI ini meningkat hingga 300 persen dalam setahun terakhir dan mulai mengganggu operasional bisnis.Baca juga: Bos Nvidia: AI Bikinan China Bisa Overtake AS Akamai mencatat, bot AI kini menyumbang hampir 1 persen dari total traffic bot di platform mereka. Angka ini juga memengaruhi kinerja situs serta akurasi analitik digital."Meningkatnya penggunaan bot AI tidak lagi hanya menjadi masalah keamanan. Ini telah menjadi keharusan bisnis," ujar Rupesh Chokshi, Senior Vice President dan General Manager Application Security Akamai dalam keterangan resmi yang diterima KompasTekno.Laporan tersebut mengungkap, industri penerbitan atau media menjadi sektor paling terdampak dengan 63 persen aktivitas bot AI di kategori ini.Sementara itu sektor perdagangan mencatat lebih dari 25 miliar permintaan dalam periode dua bulan.Baca juga: ChatGPT Uji Coba Fitur Grup Chat, Pengguna Bisa Prompt AI Bersama TemanAdapun sektor kesehatan mengalami lebih dari 90 persen aktivitas bot AI yang dipicu oleh scraping, terutama dari bot pencarian dan bot pelatihan.Untuk menghadapi ancaman ini, Akamai mendorong organisasi mengadopsi kerangka kerja OWASP Top 10 untuk aplikasi web, API, dan large language models (LLM).Pendekatan tersebut dinilai membantu tim keamanan memetakan kerentanan utama seperti lemahnya kontrol akses, celah injeksi, dan paparan data, sekaligus menyelaraskannya dengan tingkat toleransi risiko penipuan perusahaan.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-30 17:14