Mengayuh Jerih Payah: Kisah Warto Puluhan Tahun Tinggal di Atas Becak di Depok karena Tak Punya Rumah

2026-01-12 07:27:56
Mengayuh Jerih Payah: Kisah Warto Puluhan Tahun Tinggal di Atas Becak di Depok karena Tak Punya Rumah
Jakarta - Seorang pria paruh baya duduk di atas becak kecil miliknya, bertarung dengan teriknya matahari dan bisingnya angkutan kota. Sesaat ia melirik kendaraan yang berlalu lalang di hadapannya.Sesekali Warto membandingkan kendaraan berlapis baja itu dengan becak tua miliknya yang sudah berusia puluhan tahun.Namanya Warto, pengayuh becak tua asal Brebes, Jawa Tengah yang merantau di Depok, Jawa Barat untuk mencari sesuap nasi.AdvertisementDia dan becaknya sudah berkawan lama, mengadu nasib di kota orang. Puluhan tahun sudah ia mengayuh becak. Profesinya sebagai tukang becak sudah ia jalankan sejak tahun 1960.Warto meninggalkan istri dan ketiga anaknya yang masih sekolah di kampung. Namun sayang, Warto tak bisa mengirim uang untuk mereka. Penghasilannya yang tak menentu hanya cukup untuk ia makan sehari-hari, itu pun kadang harus berutang dengan pemilik warung.Warto juga terpaksa menunggak bayaran sekolah anaknya selama berbulan-bulan karena tak ada uang."Ya kalau ada duit bayar, kalau nggak ada duit nunggak," ucap Warto, ketika diwawancarai Liputan6.com pada Rabu 5 November 2025.Melihat kondisi Warto, anak-anaknya terkadang tak tega dan meminta Ayahnya untuk pulang. Namun, Warto bersikukuh untuk tetap tinggal di Depok, meski hanya dengan penghasilan Rp 10.000 - Rp 20.000 per hari dan tidur di jalanan."Penghasilannya sehari paling saya dorong Rp 10.000," cerita Warto. 


(prf/ega)