– Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) di Riau menyimpan dua wajah yang saling bertentangan. Di satu sisi, kawasan ini merupakan habitat penting gajah sumatra, pusat keanekaragaman hayati, dan rumah bagi ratusan jenis flora serta fauna langka.Namun di sisi lain, lebih dari separuh wilayahnya telah berubah menjadi kebun sawit akibat tumpang tindih penggunaan lahan antara pengelola taman nasional dan masyarakat.Terletak di dataran rendah sisi timur Sumatera, Taman Nasional Tesso Nilo berada sekitar lima jam perjalanan dari Pekanbaru.Kawasan konservasi ini memiliki luas keseluruhan mencapai 167.000 hektare, namun sekitar 100.000 hektare di antaranya kini telah berubah menjadi kebun kelapa sawit, baik oleh masyarakat lokal maupun pendatang.Banyak dari mereka tidak mengetahui bahwa lahan tersebut merupakan kawasan taman nasional.“Petani menganggap lahan tersebut tidak ada yang mengelola,” demikian dituliskan dalam buku Taman Nasional Indonesia.Kondisi itu memicu perebutan lahan antara pengelola taman nasional dan masyarakat, dan membuat hampir 60 persen kawasan berada dalam status tumpang tindih pemanfaatan.Baca juga: Kemenhut Akui Sulit Relokasi Warga dari Tesso Nilo karena ProvokatorSejarah Taman Nasional Tesso Nilo bermula dari pemberian izin Hak Pengusahaan Hutan (HPH) pada era 1970-an.Kala itu, dua perusahaan yakni PT Dwi Marta dan PT Nanjak Makmur, memperoleh konsesi pengusahaan hutan seluas 160.000 hektare. Perusahaan-perusahaan tersebut membuka akses jalan dan membabat pohon-pohon besar.Pada awal 1990-an, PT Dwi Marta diakuisisi oleh BUMN PT Inhutani IV, yang melanjutkan kegiatan penebangan hutan hingga 1998.Setelah tak dapat lagi memanen kayu, PT Inhutani IV mengusulkan izin Hutan Tanaman Industri (HTI). Sementara itu, izin PT Nanjak Makmur terus diperpanjang.Pada 2001, WWF mengusulkan agar kawasan hutan Tesso Nilo dengan luas sekitar 120.000 hektare ditetapkan sebagai taman nasional untuk melindungi habitat gajah sumatra.Setelah proses panjang antara pemerintah daerah dan pusat, pemerintah mencabut izin PT Inhutani IV dan mengembalikan pengelolaan kawasan kepada negara.Baca juga: Potret Perubahan Taman Nasional Tesso Nilo dari 2009-2025: 85 Persen Hutan Beralih FungsiPada 2003, Taman Nasional Tesso Nilo diresmikan dengan luas awal 57.000 hektare. Setahun kemudian, kawasan HPT seluas 38.000 hektare digabungkan sehingga memperluas areanya.Pada tahun yang sama, sekelompok masyarakat membeli tanah di eks lahan HPH, yang mereka kira tanah telantar.
(prf/ega)
Mengenal Taman Nasional Tesso Nilo, Rumah Gajah Sumatra yang Terjepit Perkebunan Sawit dan Perebutan Lahan
2026-01-12 09:41:54
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 08:42
| 2026-01-12 08:35
| 2026-01-12 08:23
| 2026-01-12 08:22










































