Coretan Grafiti Tak Selalu Vandalisme, tapi Wadah Ekspresi dan Kritik Sosial

2026-01-11 11:31:01
Coretan Grafiti Tak Selalu Vandalisme, tapi Wadah Ekspresi dan Kritik Sosial
JAKARTA, – Di sudut-sudut kota Jakarta, dari Jalan Cut Nyak Dien hingga Jalan Gondangdia 3, hingga tembok-tembok di bawah flyover Senen dan Kwitang, tampak coretan warna-warni yang menghiasi dinding dan tiang penyangga.Bagi sebagian orang, itu adalah sampah visual yang mengotori kota.Bagi sebagian lainnya, itu adalah bentuk ekspresi seni jalanan yang menyuarakan kritik sosial, identitas, dan aspirasi anak muda.Grafiti dan mural memunculkan perdebatan yang panjang antara hak individu untuk berekspresi dan kebutuhan publik akan estetika serta ketertiban.Baca juga: Jejak Grafiti di Jakarta, Antara Mural Estetik dan Coretan LiarKompas.com menelusuri fenomena ini melalui wawancara mendalam dengan sosiolog Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Rakhmat Hidayat.Temuan lapangan menunjukkan bahwa grafiti tidak hanya soal coretan di tembok, tetapi juga soal identitas, protes, dan ruang bagi anak muda untuk menyalurkan aspirasi ketika kanal politik formal dirasa buntu.Menurut Rakhmat Hidayat, perbedaan mendasar antara grafiti dan mural sering disalahpahami masyarakat.“Pertama adalah yang disebut sebagai grafiti, yang kedua disebut sebagai mural. Tapi orang sering salah memahami apakah ini grafiti atau mural karena sama-sama coretan,” ujar Rakhmat kepada Kompas.com, Senin .Grafiti lahir dari budaya jalanan atau street culture, terutama dari subkultur hip-hop di Amerika Serikat pada 1970-1980-an.Anak-anak muda kulit hitam di Amerika yang mengalami diskriminasi dan rasisme mengekspresikan identitas dan perlawanan mereka melalui coretan di jalanan.“Mereka bawa radio, dengerin musik, menari, menyanyi, sambil coret-coret di jalan. Itu bentuk ekspresi identitas dan perlawanan karena kanal formal tidak tersedia,” jelasnya.Sementara mural biasanya dilakukan oleh mahasiswa seni rupa atau seniman yang bekerja sama dengan pemerintah kota.Tujuannya lebih pada pesan sosial, estetika, atau memperindah ruang publik. Contohnya, mahasiswa seni rupa UNJ di Jakarta Timur beberapa tahun lalu membuat mural untuk kampanye anti-narkoba dan isu lingkungan.Hal serupa juga terjadi di Bandung, oleh mahasiswa ITB, dengan pesan-pesan sosial yang jelas.Baca juga: Grafiti Liar di Ruang Publik, Ekspresi Seni atau Merusak?Fenomena grafiti yang lahir sebagai protes sosial di Amerika kemudian mengalami transformasi ketika masuk ke konteks Indonesia.Rakhmat menuturkan, grafiti kini tidak sekadar estetika, tetapi juga medium kritik terhadap elite politik dan kebijakan publik.“Ada vandalisme positif yang bersifat kritik sosial, dan ada vandalisme negatif yang hanya merusak estetika kota,” katanya.Vandalisme positif ini sering muncul saat momen politik penting, seperti revisi undang-undang KHP, aksi demonstrasi Indonesia Gelap, atau transisi kepemimpinan nasional.


(prf/ega)