Pahlawan Nasional 2025: Tuan Rondahaim Saragih, Napoleon dari Tanah Batak

2026-01-12 04:56:57
Pahlawan Nasional 2025: Tuan Rondahaim Saragih, Napoleon dari Tanah Batak
PRESIDEN Prabowo Subianto menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada 10 (sepuluh) tokoh di Istana Negara Jakarta pada 10 November 2025.Salah satu tokoh yang diberi anugerah gelar pahlawan nasional adalah Tuan Rondahaim Saragih dari Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara.Perjuangan menjadikan Tuan Rondahaim sebagai pahlawan nasional sejatinya telah berlangsung hampir tiga dekade.Dimulai sejak era BJ Habibie pada 1999, saat menerbitkan Kepres Nomor 077/TK/1999 yang memberikan Tanda Kehormatan Bintang Jasa Utama kepada Tuan Rondahaim atas jasa kepahlawanan dalam melawan penjajah dan perannya mempertahankan kedaulatan wilayah selama pra-kemerdekaan.Sejak saat itu, utamanya di sekitaran tahun 2010-an, pelbagai tokoh dan organisasi masyarakat Simalungun secara intens melaksanakan riset, diskusi publik dan seminar dalam memantaskan Tuan Rondahaim sebagai Pahlawan Nasional.Dari aktivitas akademik itu, nama Tuan Rondahaim kemudian mendapatkan atensi dukungan dari Pemprov Sumatera Utara dan Pemkab Simalungun untuk diusulkan ke pemerintah pusat.Baca juga: Siapa yang Butuh Gelar Pahlawan?Pun sebenarnya nama Tuan Rondahaim memiliki peluang ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional di tahun 2023 dan 2024 lalu.Namun, baru berkesempatan meraih gelar pahlawan nasional tahun ini, melalui Kepres Nomor 116/TK/2025 yang ditandatangi Presiden Prabowo.Sebagai putra sulung seorang bangsawan, kehidupan Rondahaim kecil tidak pernah mudah. Ayahnya adalah Raja Raya XIII yang memimpin partuanon atau wilayah kerajaan kecil berbasis marga di Simalungun.Jamaknya kehidupan seorang raja pada masa pra-kemerdekaan, ayahnya juga memiliki banyak puang bolon (permaisuri).Namun, salah satu istrinya bernama Ramonta br Purba Dasuha memilih melipir dari kehidupan istana kemudian tinggal pada kawasan pertanian sederhana di desa Simandamei Simalungun.Alasannya, Ramonta merasa tidak mendapatkan cukup perhatian dari sang raja. Selain memang sifat Ramonta yang dikenal sebagai pencemburu.Di pemukiman yang amat sederhana itu pula pada tahun 1928, Ramonta melahirkan seorang bayi laki-laki yang diberi nama Rondahaim Saragih Garingging.Sejak usia balita, Rondahaim dididik keras oleh ibunya. Ia diajarkan bertani dan berburu layaknya masyarakat biasa.Tidak hanya itu, sejak anak-anak ia belajar mandihar atau ilmu bela diri orang Simalungun. Praktis dengan segala kesederhaaan hidupnya, saat itu ia tidak pernah menyadari bahwa dirinya adalah putra mahkota Kerajaan Raya.Baca juga: Dari Kwitang ke Senayan: Tragedi Akhir Agustus yang Masih Gelap


(prf/ega)