Polisi Selidiki Warga Baduy Dibegal di Jakpus hingga Madu dan Uang Raib

2026-02-03 04:07:14
Polisi Selidiki Warga Baduy Dibegal di Jakpus hingga Madu dan Uang Raib
Seorang warga Baduy Dalam bernama Repan menjadi korban pencurian dengan kekerasan di kawasan Rawasari, Kecamatan Cempaka Putih, Jakarta Pusat (Jakpus), hingga kehilangan uang Rp 3 juta dan 10 botol madu dagangannya. Pihak kepolisian telah menerima laporan korban dan mengecek ke lokasi kejadian."Hari Minggu korban sudah membuat LP (laporan polisi), kemudian Unit Reskrim Polsek Cempaka Putih melaksanakan cek TKP (tempat kejadian perkara)," kata Kasi Humas Polres Metro Jakarta Pusat Iptu Ruslan Basuki, Selasa .Saat ini, polisi masih melakukan penyelidikan terkait kejadian itu. Polisi juga masih melakukan pencarian terhadap pelaku tersebut."Saat proses masih dalam penyelidikan. Perkembangan selanjutnya akan disampaikan," ungkapnya.Sebelumnya diberitakan, berdasarkan laporan polisi yang diterima detikcom, peristiwa ini terjadi pada Minggu saat korban sedang berjualan madu dan aksesori khas Baduy. Namun saat itu ada empat orang yang mengendarai sepeda motor dan membawa senjata tajam tiba-tiba menghadang korban."Empat orang laki-laki tidak dikenal langsung mengambil paksa tas yang berisikan barang-barang," tulis laporan polisi (LP) dikutip detikcom, Senin .Akibat kejadian itu, Repan kehilangan uang sebesar Rp 3 juta dan 10 botol madu. Tak hanya itu, Repan juga mengalami luka di bagian tangan kiri."Terlapor langsung mengeluarkan senjata tajam dan menyerang pelapor mengenai lengan kiri," tulis dalam LP.Dihubungi terpisah, Kepala Desa Kanekes, Oom, membenarkan bahwa Repan merupakan warga adat Baduy Dalam. Oom mengatakan sudah melaporkan peristiwa pencurian itu ke Polsek Cempaka Putih."Laporan sudah diterima, dan saat ini tengah ditangani oleh unit Reskrim Polsek Cempaka Putih," kata Oom.Lihat juga Video: Driver Ojol Jadi Korban Begal di Malang, Motor Raib Dibawa Kabur[Gambas:Video 20detik]


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-02-03 03:16