– Libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru) diperkirakan jatuh bertepatan dengan puncak musim hujan.Dilansir dari laman resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Minggu , lebih dari 40 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim hujan pada akhir Oktober 2025 dengan potensi cuaca ekstrem, seperti hujan lebat, angin kencang, hingga peluang pembentukan siklon tropis di selatan Indonesia.Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, dinamika atmosfer saat ini cukup aktif dan dapat memicu hujan intensitas tinggi di sejumlah wilayah.Curah hujan di atas 150 mm per dasarian berpotensi terjadi di Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Balu, Nusa Tenggara, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, dan Papua Tengah.“Masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap hujan lebat disertai angin kencang dan petir, terutama di wilayah selatan Indonesia,” ujarnya.Baca juga: 5 Wilayah yang Berpotensi Dilanda Cuaca Ekstrem Akhir November 2025. Berikut DaftarnyaBMKG juga mendeteksi potensi siklon tropis selatan uang dapat membawa hujan ekstrem dan angin kencang di wilayah pesisir selatan Jawa Hingga Nusa Tenggara.“Siklon tropis yang berkembang di Samudra Hindia dapat memicu peningkatan curah hujan secara drastis dan menyebabkan banjir besar di wilayah pesisir. Kami mengimbau pemerintah daerah untuk memastikan kesiapsiagaan infrastruktur dan masyarakat terhadap kemungkinan dampak bencana,” tambah Dwikorita.Di tengah potensi cuaca ekstrem tersebut, kebutuhan bahan bakar minyak (BBM), liquefied petroleum gas (LPG) dipastikan melonjak selama periode mobilitas tinggi masyarakat pada masa libur Nataru. Di sisi lain, distribusi energi bisa jadi terganggu lantaran kondisi cuaca yang tak menentu.Pengamat energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi mengatakan, PT Pertamina (Persero) selaku salah satu pihak penyedia energi di Tanah Air perlu melakukan sejumlah langkah antisipasi dan mitigasi demi menghindari hal tak diinginkan.Pertamina sendiri, lanjutnya, sebenarnya sudah memiliki fondasi kuat untuk menjaga kelancaran pasokan energi, bahkan ketika libur Nataru yang beririsan dengan cuaca ekstrem.Baca juga: BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem di Sumbar hingga 29 November 2025, Warga Diminta SiagaSalah satunya adalah strategi penyebaran depo BBM (spreading depot) Pertamina yang sudah menjangkau hampir seluruh wilayah Indonesia. Strategi ini, menurutnya, merupakan salah satu kunci ketahanan pasokan.Dengan pola tersebut, gangguan di satu titik tidak serta merta melumpuhkan suplai di wilayah yang lebih luas.“Kalau misalnya terjadi masalah di satu daerah karena cuaca ekstrem atau longsor, pasokan masih bisa dipenuhi dari depo lain. Contohnya, jika diperlukan, kebutuhan BBM untuk Jakarta dan Jawa Barat tetap bisa dipenuhi dari depo lain. Jadi, tidak sampai mengganggu distribusi,” ujar Fahmi saat dihubungi Kompas.com, Senin .Fahmi menjelaskan, cuaca buruk berupa hujan lebat yang berlangsung terus-menerus umumnya tidak langsung menghentikan distribusi BBM.Ia pun menggarisbawahi jalur distribusi yang rawan longsor atau banjir besar sebagai titik yang perlu diwaspadai. Pasalnya, jika hal tersebut, akses fisik ke wilayah tujuan distribusi energi menjadi terputus.Baca juga: Bibit Siklon Tropis 95B Menguat, BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem di Wilayah Ini
(prf/ega)
Jaga Ketahanan Energi di Tengah Potensi Cuaca Ekstrem Jelang Nataru
2026-01-12 10:48:58
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 11:29
| 2026-01-12 10:45
| 2026-01-12 09:33
| 2026-01-12 09:31










































