Dampak Investasi Asing di Sektor Transportasi Indonesia

2026-01-12 03:38:13
Dampak Investasi Asing di Sektor Transportasi Indonesia
JAKARTA, - Investasi asing yang masuk ke sektor transportasi turut berdampak pada perusahaan lokal.Hal ini berdasarkan hasil kajian yang dilakukan oleh Inisiatif Strategis Transportasi (Instran).Ketua Advokasi Instran, Yusa Cahaya Permana, mengatakan bahwa kehadiran Undang-Undang (UU) Cipta Kerja menjadi keran bagi investor asing untuk masuk ke sektor transportasi, terutama dalam hal taksi online. “Tiba-tiba ada disrupsi asing masuk, sementara industri lokal tidak dipersiapkan. Kalau sekarang istilahnya konvensional bukan industri lokal. Seakan-akan yang bukan konvensional adalah yang superior,” katanya dalam Diskusi Publik Instran, Selasa .Baca juga: Ini Komponen Motor yang Wajib Dicek Sebelum Perjalanan JauhYusa juga menyampaikan bahwa di sisi lain, hal tersebut memberikan efek positif, misalnya memaksa industri lokal untuk bertransformasi melalui digitalisasi.Hanya saja, saat ini industri dalam negeri belum siap menghadapi persaingan ini karena dituntut untuk tiba-tiba berubah.Dok. Green SM Ilustrasi taksi listrik Green SMApalagi, menurutnya, pemerintah justru tampak lebih pro-asing ketimbang lokal.Ia memandang bahwa pemerintah memberikan sederet insentif bagi investor asing, bukan mendorong perkembangan industri lokal.Baca juga: Tim Pabrikan Yamaha Buka Selubung Motor 2026 di JakartaSebagai informasi, kajian ini dilakukan terhadap taksi asal Vietnam, yakni Green SM, yang menggunakan mobil VinFast.Masyarakat memang mendapatkan pilihan transportasi yang semakin banyak, tetapi dinilai tidak dalam level playing field yang sama dengan lokal, sehingga menciptakan iklim usaha yang tidak sehat.Terlebih, ribuan mobil Xanh SM merupakan impor 100 persen completely built up (CBU), sementara negara sedang mendorong peningkatan tingkat komponen dalam negeri (TKDN). “Kalau kita melihatnya sekarang, kalau kendaraannya CBU tidak dapat bujet. Tidak ada nilai tambah. Dari situ kita menjadi sangat tergantung pada hasil saat tidak ada proses alih teknologi,” katanya.


(prf/ega)