Kisah Para Ibu Rumah Tangga Kampung Perca Ubah Kain Bekas Jadi Penghasilan

2026-01-13 06:24:53
Kisah Para Ibu Rumah Tangga Kampung Perca Ubah Kain Bekas Jadi Penghasilan
BOGOR, - Di ruang sederhana yang dipenuhi tumpukan kain warna-warni, suara mesin jahit bersahutan pelan—irama yang belakangan menjadi denyut kehidupan baru bagi para ibu rumah tangga di Kampung Perca, Bogor.Dari potongan kain bekas yang semula tak bernilai, mereka merangkai kreativitas, peluang, sekaligus pemasukan bagi keluarga.Perjalanan Kampung Perca bukan muncul tiba-tiba. Awalnya, pada masa pandemi, banyak keluarga menghadapi ketidakpastian ekonomi yang merayap masuk ke ruang-ruang rumah.Dari kebutuhan itu, peluang ekonomi baru terbuka.Baca juga: Saat Limbah Menjadi Berkah: Kisah Ibu-ibu Kampung Perca Bogor Bangkit dari PandemiProduksi pertama yang lahir dari tangan para ibu adalah masker kain cuci pakai./HAFIZH WAHYU DARMAWAN Salah seorang pengrajin di Kampung Perca saat tengah membuat pola jahitan Kain-kain sisa yang sebelumnya tak dilirik, justru berubah menjadi penyelamat di tengah kelangkaan masker medis.Setelah masker, produksi berkembang mengikuti kebutuhan. Salah satu produk yang lahir dari masa darurat itu adalah sajadah muka.Sehelai kain kecil yang membantu banyak orang tetap aman ketika bepergian.Momentum pandemi akhirnya membuka jalan bagi lahirnya komunitas perajin yang terus bertahan hingga hari ini.Ketertarikan Nina (55), salah seorang perajin, untuk bergabung dengan Kampung Perca muncul dari minatnya terhadap menjahit, meski awalnya belum mahir.Ia melihat kesempatan untuk belajar sambil memanfaatkan kain sisa yang sebelumnya tidak termanfaatkan.Lingkungan di Kampung Perca yang suportif membuatnya lebih percaya diri untuk mengembangkan kemampuan menjahitnya."Saya suka menjahit. Mesti belum dibilang lancar sih, tapi bisa. Kadang-kadang dari ibu saya, suka jahit saya ngeliatin aja, ternyata menyenangkan," katanya saat ditemui, Senin .Baca juga: Dari Sisa Kain Jadi Karya, Kreativitas Ibu-ibu Kampung Perca Lahirkan 40 ProdukSelain belajar teknik menjahit, Nina merasakan manfaat dari adanya ruang berbagi ide dan inovasi dengan perajin lain.Setiap anggota bisa saling memberi saran dan masukan, sehingga produk yang dibuat tidak monoton dan selalu berkembang.Kreativitas yang muncul pun terkadang menjadi inspirasi bagi produk baru yang dapat dipasarkan."Misalnya kebuntuan kita, jadi tertolong ya. Apa yang menjadi inovasi itu bisa tersalurkan di sini," kata dia."Jadi kan banyak orang di sini tentunya ide-idenya banyak juga. Oh saya punya inovasi seperti ini. Ada masukan-masukan tentang inovasi-inovasi untuk buat produk," jelas Nina.Inovasi pertamanya berawal dari membuat produk kecil yang praktis, kemudian berkembang sesuai kebutuhan pasar.Ia mencoba memadukan kreativitasnya dengan fungsi produk agar lebih menarik dan bernilai jual."Saya waktu itu bikin sejadah muka sama sejadah travel ya," ucap dia.Kegiatan menjahit di Kampung Perca bukan hanya menyalurkan hobi, tetapi juga memberi dampak nyata bagi penghasilan keluarga.Nina merasakan kepuasan tersendiri ketika hasil karyanya diapresiasi dan dibeli orang."Cukup puas ya dengan hasil kita itu. Apalagi hasil kita itu orang dibeli, disukai itu suatu kebanggaan ya. Tentunya ibu-ibu juga sama seperti itu," kata Nina.Dampak ekonominya terasa langsung pada kebutuhan sehari-hari.Penghasilan dari menjahit bisa digunakan untuk membeli kebutuhan dapur atau menambah pendapatan keluarga."Tentunya untuk istilahnya beli-beli bumbu, kebutuhan dapur untuk beli pulsa sebagainya. Kita sebelumnya mengharapkan dari tentunya yang punya gaji suami," ujar dia.Baca juga: Admin WO Ayu Puspita Menangis Dikejar-kejar Keluarga Klien Jumlah penghasilan yang diperoleh setiap bulan tidak selalu tetap, bergantung pada banyaknya pesanan dan jenis produk yang dibuat.


(prf/ega)