BEKASI, – Di balik berjalannya sistem pengangkutan sampah Jakarta setiap hari, tersimpan risiko kesehatan serius yang dihadapi para sopir truk.Jam kerja panjang, kurang tidur, paparan polutan, hingga tekanan fisik akibat antrean berjam-jam di TPST Bantargebang membuat profesi ini berada di titik rawan, bahkan bisa berujung kematian.“Secepatnya-cepatnya itu empat jam antre, itu sudah lumayan buat kami bisa istirahat,” ujar Santo (bukan nama sebenarnya) (39), sopir truk sampah asal Jakarta Selatan, saat dihubungi Kompas.com, Jumat .Santo telah menjadi sopir pengangkut sampah sejak 2019. Dalam kesehariannya, ia mengangkut sampah dari wilayah Jakarta Selatan menuju TPST Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat.Baca juga: Bukit Sampah Setinggi 70 Meter di Bantargebang, Alarm Krisis Pengelolaan Sampah JakartaRutinitas tersebut, menurut Santo, tidak hanya melelahkan secara fisik, tetapi juga menggerus kondisi kesehatannya secara perlahan.“Masuk jam 09.00 pagi, pernah saya alami pulang jam 04.00 pagi,” kata Santo.Antrean panjang, tutur Santo, sudah menjadi bagian dari pekerjaan sehari-hari. Bahkan dalam kondisi yang dianggap “kondusif” sekalipun, waktu tunggu tetap mencapai lima hingga enam jam.“Sekarang ini paling lama-lamanya enam jam. Tapi sebelumnya tiap hari memang belasan jam antre,” ujarnya.Menurut Santo, kondisi antrean baru sedikit membaik dalam tiga hingga empat hari terakhir setelah adanya pembukaan lebih banyak zona pembuangan. Namun, perbaikan itu tidak menghapus fakta bahwa jam kerja para sopir sering kali melewati batas normal.“Kalau fisik sudah lemah, pulang dari sini bukannya istirahat, kadang langsung kerja lagi,” kata dia.“Iya, betul. Kerjanya bisa 24 jam non-stop,” tutur Santo.Baca juga: Bukannya Diangkut, Tumpukan Sampah di Ciputat Tangsel Malah Ditutupi TerpalPanjang antrean, kata Santo, dipicu oleh berbagai faktor. Salah satunya adalah cuaca. Saat hujan, proses pembongkaran sampah melambat karena risiko longsor dan keterbatasan alat berat.“Waktu itu kendalanya hujan. Terus duduk-dudukannya alat berat enggak nyaman, jadi istirahat dulu,” ujar Santo.Selain itu, kondisi gunungan sampah yang sudah terlalu tinggi membuat ruang pembuangan semakin sempit.“Ketinggian sampahnya sudah enggak layak, sudah tinggi banget. Udah enggak ada lagi space buat buang sampah,” katanya.Di TPST Bantargebang terdapat lima zona pembuangan. Namun, dalam praktiknya, tidak semua zona selalu dibuka.“Untuk saat ini yang buka biasanya tiga. Setelah ada masalah yang meninggal itu, sempat buka lima zona,” tutur Santo.Kondisi jalan di dalam zona pembuangan juga menjadi persoalan tersendiri. Santo menyebut sejumlah ruas jalan rusak dan berisiko menyebabkan truk terguling.Baca juga: Nestapa Warga Tangsel, Hidup di Antara Sampah dan Bau Menyengat“Kalau pulangnya itu ada jalan rusak. Makanya banyak mobil yang kebalik,” katanya.Saat menunggu antrean berjam-jam, Santo biasanya tetap berada di sekitar truk. Ia bisa turun jika cuaca memungkinkan, tetapi waktu istirahat tetap jauh dari ideal.“Kalau tidur panas. Biasanya ngerokok. Kalau ngantuk banget, meskipun siang bisa tidur, tapi ngantuknya datang lagi,” ujarnya.
(prf/ega)
Jam Kerja Panjang Tanpa Henti, Kesehatan Sopir Truk Sampah di TPST Bantargebang Terancam
2026-01-12 16:30:39
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 15:43
| 2026-01-12 15:27
| 2026-01-12 14:53
| 2026-01-12 14:38
| 2026-01-12 14:31










































