Potensi Dampak Lesunya Ekonomi Jepang bagi Indonesia

2026-01-12 02:32:51
Potensi Dampak Lesunya Ekonomi Jepang bagi Indonesia
EKONOMI Jepang tengah mengalami kelesuan. Pertumbuhan ekonomi Jepang diberitakan pada kuartal ketiga tahun 2025 minus 1,85 persen (year on year atau tahun ke tahun) dan minus 0,4 persen (quarter to quarter atau dari kuartal ke kuartal).Penurunan pertumbuhan ekonomi ini disebabkan turunnya komponen permintaan domestik 1,8 persen, investasi perumahan yang anjlok 32 persen (year on year atau tahun ke tahun) dan 9,4 persen (quarter to quarter atau kuartal ke kuartal), serta ekspor yang turun 4,5 persen sebagai akibat tarif Donald Trump (Cnbcindonesia.com, 24/11/2025).Di sisi lain, tingkat inflasi Jepang mengalami kenaikan 3 persen di Oktober 2025 (year on year atau dari tahun ke tahun).Sumber utama dari inflasi Jepang adalah pangan. Inflasi pangan dipicu kenaikan harga beberapa bahan makanan: harga makanan non-perishables (tidak mudah busuk) naik 7,2 persen, harga kopi naik 53,4 persen, harga cokelat naik 36,9 persen.Sementara harga beras komoditas paling sensitif turut meningkat 40,2 persen (year on year atau tahun ke tahun).Baca juga: Pamer Uang Korupsi, Judi Online dan Narkoba: Prestasi atau Kotak Pandora?Guna mendongkrak ekonomi Jepang, PM Jepang Sanae Takaichi menggulirkan paket stimulus senilai 21,3 triliun yen setara 135 miliar dolar AS, terbesar sejak pandemi Covid 19.Stimulus tersebut terdiri dari: subsidi listrik dan gas, penghapusan sementara pajak bensin, bantuan sekitar 7.000 yen bagi rumah tangga, serta pembentukan dana jangka panjang untuk memperkuat industri perkapalan.Pemerintah juga menegaskan komitmen meningkatkan belanja pertahanan menuju 2 persen PDB pada 2027.Namun, stimulus ini turut menimbulkan kekhawatiran karena pendanaannya sebagian akan berasal dari penerbitan obligasi baru.Penerbitan obligasi tersebut dilakukan di saat utang Jepang sudah melampaui 200 persen PDB, angka tertinggi di antara negara-negara maju.Kecemasan investor langsung tercermin di pasar keuangan. Obligasi pemerintah Jepang (JGB atau Japan Government Bond) mengalami aksi jual besar-besaran.Imbal Hasil atau yield JGB dengan jatuh tempo 10 tahun untuk menarik pembeli melonjak hingga 1,817 persen, level tertinggi sejak 2008. Sementara yield tenor panjang seperti 20 tahun, 30 tahun, hingga 40 tahun juga mencetak rekor tertinggi.Ada beberapa potensi dampak melesunya ekonomi Jepang bagi Indonesia. Pertama, ekspor Indonesia ke Jepang berpotensi menurun. Padahal, selama ini Jepang merupakan salah satu negara tujuan ekspor Indonesia.Dalam 10 tahun terakhir, ekspor Indonesia ke Jepang bernilai antara 16 - 25 miliar dolar AS. Tahun 2022, ekspor Indonesia ke Jepang mencapai 24,85 miliar dolar AS, kemudian menurun menjadi 20,78 miliar dolar AS pada 2023 dan 20,72 miliar dolar AS pada 2024.Baca juga: Ilusi Jokowi di Forum BloombergSalah satu sektor yang perlu diwaspadai adalah perikanan, terutama ekspor ikan segar (HS 0302). Berdasarkan data Oktober 2024-Oktober 2025, Jepang masih menjadi pasar penting dengan nilai ekspor sekitar 7,6 juta dollar AS, menempatkannya di posisi ke-6 tujuan utama ekspor ikan segar Indonesia setelah China, Malaysia, Singapura, Amerika Serikat, dan Arab Saudi.


(prf/ega)