Menuju Pendidikan Digital, Kesehatan Mental Jadi Harga yang Harus Dibayar

2026-02-02 10:01:56
Menuju Pendidikan Digital, Kesehatan Mental Jadi Harga yang Harus Dibayar
JAKARTA, - Ada harga yang harus dibayar dalam mewujudkan pendidikan digital: Kesehatan mental anak.Transformasi digital dalam dunia pendidikan membawa harapan besar akan akses belajar yang lebih luas, materi yang lebih interaktif, serta peluang pengembangan diri yang tidak dibatasi ruang dan waktu.Gadget, platform belajar daring, hingga kecerdasan buatan kini menjadi bagian dari ruang kelas modern.Namun, di balik kemudahan dan inovasi tersebut, ada dinamika baru yang turut membentuk pola pikir, emosi, dan perilaku anak.Baca juga: Melacak Sebab Turunnya Minat Anak Muda untuk Jadi GuruPerubahan cepat ini tidak hanya menuntut adaptasi akademik, tetapi juga kesiapan psikologis.Anak-anak yang tumbuh di era digital menghadapi paparan konten tanpa batas, tekanan sosial dari media, serta pola interaksi yang semakin minim kontak emosional langsung.Hal-hal tersebut dapat memengaruhi perkembangan emosi, empati, hingga kemampuan mengelola stres.Akibatnya, di tengah kemajuan teknologi, muncul tantangan baru berupa kesehatan mental si anak, meliputi gejala agresivitas, kecemasan, dan perilaku impulsif pada sebagian anak.Ketika proses belajar berubah drastis mengikuti perkembangan teknologi, anak-anak ikut membawa beban adaptasi yang besar.Tanpa pendampingan yang tepat dari guru, orang tua, dan sekolah, transformasi digital yang seharusnya menjadi peluang justru dapat menyisakan dampak emosional yang panjang.Ekses kesehatan mental anak tentu harus dibayar dengan solusi dan mitigasi yang jitu.Baca juga: Konten Sosmed Bisa Bikin Anak Jadi Agresif?Dilansir tulisan ilmiah berjudul Pengaruh Penggunaan Teknologi Pembelajaran terhadap Prestasi Belajar Siswa di Sekolah Menengah (2023) karya Hilda Nathaniela dan Nadya Saphira, penggunaan teknologi pembelajaran memberikan dampak yang signifikan terhadap proses pembelajaran dan prestasi belajar siswa.Namun, ada juga dampak negatif seperti potensi kecanduan digital, distraksi, kesenjangan akses di daerah terpencil, serta potensi berkurangnya apresiasi terhadap nilai kearifan lokal jika tidak diintegrasikan dengan baikPsikolog dari Universitas Indonesia, A Kasandra Putranto, mengatakan dampak negatif berupa kecanduan digital dapat mempengaruhi perkembangan otak dan kondisi psikologis remaja."Hasil penelitian yang dilakukan oleh pusat pemetaan otak UCLA 2016, mereka menemukan bahwa daerah tertentu dari otak remaja menjadi lebih aktif karena media sosial, sehingga menyebabkan mereka ingin menggunakan media sosial lebih banyak," kata Kasandra mengutip ANTARA.Baca juga: Bullying dan Kesehatan Mental Anak Jadi Kekhawatiran Orangtua, Ini Saran Pakar Keluarga


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Irwan mengaku bersyukur atas penghargaan yang telah diraih. Ia menekankan bahwa fokus utama perusahaan dimulai dari internal, yaitu kebahagiaan dan kesehatan karyawan, sebelum meluas ke masyarakat.“Ketika saya ditanya dewan juri, saya sampaikan bahwa fokus utama kami adalah membahagiakan dan menjaga kesehatan karyawan terlebih dahulu. Kalau karyawan yang dekat dengan kami saja tidak sehat dan bahagia, bagaimana kami bisa mengurus masyarakat yang lebih luas.” ujar Irwan kepada Kompas.com, Rabu.Irwan menambahkan, penghargaan yang diraih pihaknya  merupakan kerja kolektif seluruh karyawan dan tim.“Persyaratannya sangat banyak, ada 17 goals dan 169 target. Mustahil dicapai tanpa komitmen bersama,” kata Irwan.Pihaknya pun senantiasa mendorong seluruh elemen perusahaan berpartisipasi dalam berbagai upaya pencapaian SDGs, terutama terkait kesejahteraan sosial dan pengentasan kemiskinan.Baca juga: Anggota Komisi IX DPR Kagumi Standar Produksi Sido MunculSido Muncul juga menegaskan komitmennya untuk membantu program nasional, melalui program penanganan stunting dan tidak mengambil bagian dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).“Kami memilih memberikan bantuan berupa dana agar ibu-ibu bisa membeli kebutuhan gizi yang sesuai. Tahun depan kontribusi kami akan ditingkatkan,” katanya./Yakob Arfin T Sasongko Direktur Sido Muncul, Dr (HC) Irwan Hidayat memegang piala penghargaan Terbaik I kategori Badan Usaha Besar Indonesia?s SDGs Action Awards 2025 berkat keberhasilan program Smartani. Program Smartani yang mengantarkan Sido Muncul meraih juara pertama merupakan inisiatif pemberdayaan masyarakat yang mencakup sektor hulu hingga hilir. Program ini telah diinisiasi sejak 2021 dan menyasar kelompok tani di wilayah Semarang.Saat ini, sedikitnya 3.000 petani dan peternak telah mendapat pendampingan dari Sido Muncul.“Di tingkat hilir, kami membina karyawan untuk menjadi distributor. Sekarang ada sekitar 60 hingga 70 distributor yang dulunya karyawan kami dan kini sudah mandiri,” ungkap Irwan.Baca juga: Hadirkan Terang, Sido Muncul Gelar Operasi Katarak GratisManajer Lingkungan Sido Muncul, Amri Cahyono, menegaskan bahwa komitmen perusahaan terhadap SDGs diwujudkan melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat.Ia menyampaikan bahwa perusahaan secara konsisten memperkuat kontribusi terhadap 17 tujuan SDGs.“Program Smartani kami gagas untuk mewujudkan visi perusahaan, yaitu memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan. Hingga saat ini, Sido Muncul telah memenuhi seluruh 17 tujuan SDGs,” ujarnya.Amri menjelaskan bahwa Smartani di Desa Bergas Kidul, Kecamatan Bergas, Semarang, dikembangkan dengan pendekatan nature-based solution. Implementasinya dimulai dengan social mapping untuk memetakan potensi lokal.“Di desa ini ada kelompok petani alpukat, peternak sapi perah, hingga usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) ‘Mbok Jajan’ yang sebelumnya terdampak Covid-19. Kami memberikan pelatihan agar mereka dapat kembali produktif, dan kini produk mereka sudah memasok ke Sido Muncul,” terang Amri.Baca juga: Konsisten Bantu Tangani Katarak, Sido Muncul Kembali Raih Perdami Award/Yakob Arfin T Sasongko Direktur Sido Muncul, Dr (HC) Irwan Hidayat bersama tim dalam ajang Indonesia?s SDGs Action Awards 2025 di Jakarta, Rabu .

| 2026-02-02 08:44