Jejak Stasiun Pertama di Indonesia, Kemijen Semarang yang Kini Hilang Ditelan Rob

2026-01-12 10:19:57
Jejak Stasiun Pertama di Indonesia, Kemijen Semarang yang Kini Hilang Ditelan Rob
– Sebelum menjadi transportasi massal modern seperti sekarang, kereta api di Indonesia telah hadir sejak masa penjajahan Belanda. Jalur rel pertama di tanah air dibangun pada 17 Juni 1864, menjadi tonggak awal sejarah perkeretaapian Nusantara.Dikutip dari buku “Mengenal Perkembangan Kereta Api dan Penerbangan di Indonesia”, jalur pertama itu dibangun di Desa Kemijen, Semarang, di bawah pimpinan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Mr. L.A.J. Baron Sloet van de Beele.Pembangunan dilakukan oleh perusahaan swasta Belanda, Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS).Rute perdana menghubungkan Semarang hingga Tanggung (Purwodadi) dengan panjang lintasan sekitar 25 kilometer. Tujuannya sederhana: untuk mengangkut hasil bumi seperti kopi, tembakau, teh, dan gula ke pelabuhan Semarang agar bisa diekspor ke Eropa.Baca juga: Dulu dan Sekarang, Begini Perubahan Besar Kereta Api Indonesia dari Zaman Kolonial hingga Era ModernMengutip Kompas.id, sejarah angkutan berbasis rel di Indonesia dimulai di Semarang, Jawa Tengah, pada 10 Agustus 1867 dengan beroperasinya Kereta Api (KA) Semarang–Tanggung. Titik keberangkatan berada di Stasiun Kemijen, yang kala itu dikenal sebagai Stasiun Samarang NIS, stasiun pertama di Nusantara.Kini, Stasiun Kemijen sudah tidak lagi berdiri. Masyarakat Semarang lebih mengenal Stasiun Tawang dan Stasiun Poncol sebagai ikon kota. Namun, di sekitar Gang Spoor Ban Laan I dan II, masih tersisa jejak rel lama yang dulu menjadi bagian dari jalur kereta pertama di Hindia Belanda.“Gang Spoor Ban Laan I dan II ini adalah bagian dari jalur kereta api pertama di Hindia Belanda. Stasiun pertama yang menjadi titik keberangkatan adalah Kemidjen, yang papan namanya ada di Museum Transportasi di Taman Mini Indonesia Indah,” ujar Tjahjono Rahardjo, pegiat sejarah kereta api dari Unika Soegijapranata, Semarang, yang juga anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Semarang, dikutip dari Kompas.id.Baca juga: Dari Gerbong Maut Bondowoso hingga Lokomotif Soekarno, Ini 4 Museum Kereta Api di IndonesiaKOMPAS/NAWA TUNGGAL Tjahjono Rahardjo, dosen Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang, yang juga anggota komunitas pencinta kereta api Indonesian Railway Preservation Society Korwil Semarang, Kamis , menunjukkan konsol besi yang merupakan jejak Stasiun Samarang. Stasiun yang dibangun pada 1864 itu adalah stasiun kereta api pertama di Indonesia. Gang Spoor Ban Laan berada tak jauh dari Jalan Ronggowarsito, dekat Pelabuhan Tanjung Mas. Di kawasan ini dulunya berdiri kantor NIS dan bengkel kereta di Tambaksari. Sayangnya, banyak bangunan bersejarah tersebut kini terbengkalai dan tak ditetapkan sebagai cagar budaya.Stasiun Kemijen sendiri berada di ketinggian hanya 1,8 meter di atas permukaan laut. Akibat rob dan penurunan tanah di pesisir utara Kota Semarang, sisa-sisa rel kereta api kini tenggelam dan sulit dikenali.Di sepanjang lintasan Kemijen–Tanggung, dulu terdapat beberapa stasiun kecil seperti Samarang, Alas Toewa, dan Broemboeng.Nama “Samarang” sendiri masih digunakan hingga tahun 1880 sebelum berubah menjadi “Semarang”.Baca juga: Mengenang Stasiun Samarang, Stasiun Pertama di Indonesia yang Kini Telah HilangDalam buku Spoorwegstations op Java, disebutkan bahwa bangunan Stasiun Samarang memiliki bentuk huruf “U” yang terbuka ke arah timur, menghadap langsung ke jalur rel. Kompleks ini mencakup lima bangunan penting, yakni:Seluruh bangunan itu menjadi pusat aktivitas NIS, perusahaan kereta api pertama di Hindia Belanda, yang juga menjadi maskapai kereta terbesar di antara 18 perusahaan kereta api yang pernah beroperasi di Indonesia.Namun, seperti dikutip dari Harian Kompas, 20 Maret 2009, bangunan itu berhenti berfungsi sejak masa pendudukan Jepang.“Stasiun ini sudah tidak difungsikan sejak Jepang masuk ke Indonesia. Makanya kemudian ditinggali oleh para pensiunan pegawai KA,” kata Ramelan, warga dan pensiunan pegawai kereta api.Baca juga: 7 Stasiun Kereta Api Tertua di Indonesia, dari Semarang Tawang hingga Solo Balapan


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-12 09:28