Hari Ibu, Saatnya Perempuan Bicara soal Uang dan Kesehatan Finansial

2026-01-12 09:09:52
Hari Ibu, Saatnya Perempuan Bicara soal Uang dan Kesehatan Finansial
JAKARTA, - Momentum Hari Ibu menjadi refleksi penting atas peran perempuan sebagai pengelola keuangan keluarga sekaligus perencana masa depan. Namun, bagi sebagian perempuan, membicarakan uang masih terasa canggung karena dianggap topik sensitif yang rawan menimbulkan salah paham.Padahal, kesehatan finansial tidak semata diukur dari besaran nominal, melainkan juga dari rasa aman, keterbukaan, serta kejelasan tujuan setiap alokasi dana.Isu tersebut mengemuka dalam talk show Pockets of Her Voice, sebuah forum diskusi yang menghadirkan ruang aman bagi perempuan untuk berbagi pengalaman dan perspektif soal keuangan tanpa stigma maupun penghakiman.Baca juga: Ucapkan Hari Ibu, Menkeu Purbaya: Ibu-ibu Tak Perlu Khawatir, Ekonomi Akan MembaikAcara hasil kolaborasi PT Bank Jago Tbk dan podcast Pancatera ini menghadirkan empat perempuan inspiratif, yakni Caroline Soerachmat, Karina Basrewan, Karina Soerjanatamihardja, dan Marissa Anita.Keempatnya berbagi cerita personal tentang upaya membangun rasa aman secara finansial, memilah kebutuhan, keinginan, dan investasi, serta pentingnya menjaga komunikasi terbuka mengenai uang dalam relasi pribadi maupun keluarga.“Buat saya, membicarakan uang memang sulit karena dulu saya tumbuh dengan rasa tidak aman soal uang. Tapi dua tahun terakhir, saya belajar membuka diri dan ternyata ngobrol soal uang justru membantu menyembuhkan hubungan saya dengan finansial, sekaligus membentuk kebiasaan baru yang lebih sehat,” ujar Karina Soerjanatamihardja yang akrab disapa Kai seperti dikutip dalam keterangan tertulis Bank Jago, Senin .Pada kesempatan yang sama, Karina Basrewan menekankan pentingnya merasa nyaman dengan kondisi keuangan diri sendiri. Menurutnya, keberanian menyampaikan batasan finansial merupakan bentuk kepercayaan diri dan kesadaran diri dalam mengelola uang.“Misalnya saat diajak jalan-jalan atau makan di restoran mahal, kalau saya tidak mampu secara finansial, saya akan bilang saja. Penting untuk nyaman menyatakan batasan keuangan sendiri tanpa merasa bersalah atau takut ditolak orang lain,” tegas Karina.Para pembicara juga membagikan strategi pengelolaan anggaran yang berbeda, sesuai kebutuhan dan prioritas masing-masing. Marissa Anita, misalnya, memilih pendekatan konservatif dengan mengalokasikan 20–30 persen pendapatan untuk kebutuhan rutin, 10 persen untuk keinginan, dan 60 persen untuk investasi.Fokusnya adalah tujuan jangka panjang, seperti membeli rumah, sehingga sebagian besar pendapatan diarahkan untuk membangun masa depan yang lebih aman.Sementara itu, Kai menerapkan pembagian anggaran yang lebih seimbang antara tanggung jawab keluarga dan kesejahteraan pribadi. Ia mengalokasikan sekitar 40 persen dana untuk kebutuhan anak, 20 persen untuk tabungan pribadi, dan sisanya untuk self-happiness.Secara umum, keempat pembicara sepakat akan pentingnya dana darurat atau emergency fund minimal setara enam bulan pengeluaran sebagai langkah mitigasi terhadap risiko tak terduga, seperti sakit atau kehilangan pekerjaan.Selain itu, dana untuk kebahagiaan diri juga dinilai penting, terutama bagi perempuan yang cenderung bersikap nurturing dan mendahulukan kebutuhan orang lain.Sementara itu Erika, peserta yang hadir dalam diskusi tersebut, mengungkapkan bahwa ketenangan finansial tidak selalu datang dari jumlah uang yang dimiliki, melainkan dari keyakinan bahwa rezeki akan selalu ada selama hidup dijalani dengan prinsip yang benar.Ia memilih hidup sederhana, mengalokasikan 2,5 persen pendapatan untuk zakat, 10 persen untuk hadiah, serta memiliki tabungan yang tidak dapat disentuh.Dalam forum tersebut, para pembicara juga menyinggung fitur Kantong di Aplikasi Jago sebagai solusi perbankan digital yang memudahkan pengguna membagi dana sesuai tujuan, mulai dari kebutuhan anak, dana darurat, investasi, hingga kebutuhan orang tua.Melalui Aplikasi Jago, pengguna dapat membuat hingga 60 Kantong berbeda yang dilengkapi fitur Analisis Pengeluaran otomatis, sehingga setiap transaksi dan alokasi dana dapat terpantau tanpa perlu pencatatan manual.Dari talk show ini, tersirat pesan bahwa mengelola keuangan bukanlah sebuah perlombaan. Baik sebagai investor agresif, ibu yang memprioritaskan kebutuhan anak, maupun individu yang masih berjuang membangun rasa aman, tujuan akhirnya tetap sama: memenuhi kebutuhan dan menjalani hidup dengan tenang dan damai. Dan semua itu bermula dari satu langkah sederhana, yakni keberanian untuk bersikap terbuka terhadap uang.


(prf/ega)