Sentuhan Sunyi di Balik Kematian: Gloria dan Panggilan Hati sebagai Perias Jenazah

2026-01-11 14:33:02
Sentuhan Sunyi di Balik Kematian: Gloria dan Panggilan Hati sebagai Perias Jenazah
JAKARTA, — Kematian adalah kepastian bagi setiap manusia. Namun, tidak semua orang meninggalkan dunia dengan wajah tenang dan rapi. Di balik proses itu, ada profesi yang bekerja dalam senyap dan penuh ketelitian, yakni para perias jenazah.Salah satu di antaranya adalah Gloria Elsa Hutasoit (42), perias jenazah yang telah bertahun-tahun mengabdikan diri di wilayah Jakarta.“Ketika merawat jenazah yang kematiannya mendadak, saya menjadi paham bahwa hidup itu sementara saja," ucap Gloria, Senin ."Lalu ketika seseorang meninggal dalam keadaan siap dan tersenyum di hari terakhirnya, saya mengerti bahwa kesiapan hati untuk melepaskan kemelekatan dalam hidup akan membuat damai menuju gerbang kematian,” kata dia menambahkan.Baca juga: Perias Jenazah Bukan Sekadar PekerjaanBagi Gloria, pekerjaan ini tidak sekadar rutinitas profesional, tetapi juga panggilan hati. Setiap hari ia berhadapan dengan kondisi berbeda—mulai dari jenazah yang meninggal mendadak hingga jenazah dari keluarga kurang mampu.“Pekerjaan saya ini diperlukan dalam keadaan mendadak. Waktu panggilan tidak menentu, jadi sebisa mungkin kami beristirahat jika tidak ada panggilan dan menjaga diri dengan minum vitamin,” ujar Gloria.Ia mengakui pekerjaannya memiliki beban psikologis tersendiri karena selalu berada di lingkungan berkabung. Fokus, disiplin, dan doa menjadi alat penting untuk menjaga ketenangan diri.Perjalanan Gloria sebagai perias jenazah dimulai sejak muda. Ketertarikannya pada makeup tumbuh dari ibunya yang bekerja sebagai perawat dan aktif dalam pelayanan pemulasaraan jenazah di gereja.“Saya pertama kali merias jenazah tante saya yang bekerja sebagai pemulung. Dari situ saya tergerak untuk memberikan pelayanan merias jenazah agar ‘pengantin Tuhan’ dipersiapkan dengan layak di hari terakhirnya,” kata dia.“Mama juga mengajak saya ikut pelayanan merias jenazah sambil membantu memandikan jenazah,” lanjutnya.Baca juga: Kehidupan Perias Jenazah yang Memberi Keindahan Terakhir bagi yang PergiKini, Gloria bekerja di berbagai wilayah DKI Jakarta dan bersedia menerima panggilan luar kota. Dalam sehari ia bisa menangani satu hingga tiga jenazah, tergantung kondisi.Ia tidak terikat kontrak resmi dengan rumah sakit atau rumah duka, sehingga fleksibilitas menjadi bagian tak terpisahkan dari profesinya.“Kadang seharian saya tidak merias sama sekali karena tidak ada panggilan. Tapi ketika ada, kami harus siap bekerja dalam waktu yang tidak menentunya,” jelasnya.Merias jenazah memiliki tantangan teknis yang jauh berbeda dari make up pada orang hidup. Kulit jenazah yang mengeras, perubahan warna, atau luka tertentu menuntut teknik khusus.“Prosesnya mirip dengan merias umum, tapi seperti merias di atas kaca. Kulit jenazah cenderung keras dan kering. Paling menantang adalah menutup luka, lebam, dan kulit yang menghitam atau menguning,” ujar Gloria.


(prf/ega)